KabarDermayu.com – Sebuah perhelatan budaya tahunan di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mendadak menjadi sorotan tajam warganet. Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 yang sejatinya digelar sebagai rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, memicu perdebatan sengit setelah cuplikan video pertunjukan teatrikal yang menampilkan adegan penyembelihan kambing tersebar luas di berbagai platform media sosial.
Dalam potongan video tersebut, tampak seorang pemeran membawa kepala kambing yang berlumuran darah di hadapan para penonton. Visual yang dianggap ekstrem ini memicu spekulasi liar di kalangan netizen. Sebagian pihak bahkan melontarkan tuduhan bahwa Karnaval tersebut menyisipkan simbol-simbol ritual satanik atau pemujaan setan ke dalam rangkaian acaranya.
Menanggapi narasi yang berkembang, klarifikasi pun muncul untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Berdasarkan informasi yang beredar pada Senin, 14 September 2026, adegan tersebut merupakan murni bagian dari pertunjukan artistik. Disebutkan bahwa kambing yang digunakan memang disembelih, namun prosesnya dilakukan secara wajar tanpa memutus bagian kepala hewan tersebut.
Terkait kepala kambing yang diangkat dalam atraksi, panitia memastikan bahwa objek tersebut bukanlah bagian dari kambing yang disembelih di lokasi. Kepala kambing tersebut dibeli secara terpisah dari pasar. Efek darah yang tampak pada kepala tersebut merupakan hasil dari paparan darah kambing yang disembelih sebelumnya, sehingga menciptakan ilusi visual yang dinilai menyeramkan oleh sebagian penonton.
Tradisi Puluhan Tahun yang Sarat Makna
Perlu diketahui bahwa Simbang Kulon Night Carnival bukanlah acara baru. Kegiatan ini merupakan pawai budaya yang telah mengakar kuat dalam tradisi masyarakat Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, selama 61 tahun terakhir. Awalnya, kegiatan ini lahir dari tradisi hajatan khitanan massal yang kemudian bertransformasi menjadi karnaval malam yang meriah.
Pada pelaksanaan tahun 2026 ini, SKNC melibatkan partisipasi aktif dari 25 barisan yang berasal dari mushola di seluruh Kelurahan Simbang Kulon. Panitia pelaksana, Ghiyats, menekankan bahwa acara ini mengusung tema “Nyawiji ing Budaya, Ngukuhake Paseduluran”. Tema ini membawa pesan mendalam mengenai pentingnya merawat kebudayaan lokal sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Berbagai ragam atraksi disuguhkan untuk memeriahkan malam tersebut, mulai dari parade busana, drumband, ogoh-ogoh, hingga penampilan kesenian tradisional. Seluruh rangkaian kegiatan ini dipadukan dengan agenda keagamaan seperti pengajian umum dan khitan massal sebagai bentuk penghormatan terhadap Maulid Nabi Muhammad SAW.
Menjaga Esensi Kreativitas dan Budaya
Kontroversi yang muncul di media sosial menjadi pengingat akan pentingnya melihat sebuah pertunjukan secara utuh dan memahami konteks budaya yang melatarbelakanginya. Perbedaan interpretasi antara konsep artistik yang ingin disampaikan oleh pengisi acara dengan persepsi penonton sering kali menjadi celah timbulnya kesalahpahaman di ruang digital.
“Panitia berharap kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut tetap dapat dipandang sebagai ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kreativitas sekaligus mempertahankan tradisi guyub rukun,” ungkap perwakilan panitia.
Hingga saat ini, SKNC tetap diupayakan sebagai wadah positif bagi masyarakat untuk berekspresi. Tradisi yang telah bertahan selama enam dekade ini diharapkan terus menjadi sarana pemersatu warga Simbang Kulon, tanpa harus terdistraksi oleh narasi-narasi yang tidak berdasar terkait simbolisme yang disalahartikan.





