KabarDermayu.com – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan komitmennya untuk terus memimpin pemerintahan, menolak desakan agar ia mengundurkan diri menyusul kekalahan Partai Buruh dalam pemilihan umum yang baru-baru ini diselenggarakan.
Dalam rapat kabinet yang digelar pada Selasa, Starmer berupaya meredam gejolak internal partai dan menstabilkan posisinya setelah periode yang ia sebut sebagai masa “destabilisasi” bagi parlemen Inggris.
“Sebagaimana yang saya sampaikan kemarin, saya memikul tanggung jawab penuh atas hasil pemilihan ini. Saya juga bertanggung jawab untuk mewujudkan perubahan yang telah kita janjikan,” ujar Starmer dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan dari Downing Street No. 10.
Baca juga: Prudential Syariah Bayar Klaim Rp 2,2 Triliun di 2025
Ia menambahkan, “Negara mengharapkan kita untuk terus menjalankan pemerintahan. Itulah yang saya lakukan dan yang harus kita lakukan sebagai Kabinet.”
Pernyataan tegas Starmer ini muncul di tengah gelombang kritik yang semakin kencang dari internal Partai Buruh, menyusul kemunduran elektoral yang dialami partai tersebut.
Miatta Fahnbulleh, seorang menteri komunitas, tercatat sebagai menteri pertama yang mengundurkan diri. Ia bergabung dengan lebih dari 70 anggota parlemen Partai Buruh yang telah secara terbuka mendesak Perdana Menteri untuk segera meletakkan jabatannya atau menetapkan jadwal pasti untuk pengunduran dirinya.
Situasi internal partai semakin memanas pada Senin malam, 11 Mei. Downing Street mengambil langkah cepat dengan mengganti enam ajudan menteri yang sebelumnya telah mengundurkan diri pada malam yang sama. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menstabilkan jajaran bawah pemerintahan di tengah tekanan yang semakin meningkat terhadap posisi Perdana Menteri.





