Kesejahteraan Masyarakat Pesisir dan Industri Bahari dari Kekayaan Laut Indonesia

by -116 Views
Kesejahteraan Masyarakat Pesisir dan Industri Bahari dari Kekayaan Laut Indonesia

KabarDermayu.com – Marine Actions Expo (MAX) 2026 yang telah resmi dibuka pada Jumat, 24 April 2026, di Kartika Expo Center Balai Kartini, Jakarta, mengusung tema besar ekonomi biru atau blue economy.

Bagi para penyelenggara, tema ini bukan sekadar istilah ekonomi modern atau jargon pembangunan semata. Lebih dari itu, blue economy dimaknai sebagai seruan mendesak agar seluruh kekayaan laut Indonesia benar-benar mampu menghadirkan kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat pesisir dan seluruh pelaku industri bahari di tanah air.

Dalam acara pembukaan, Co-Founder MAX, Aishah Gray, menekankan pentingnya pemaknaan blue economy secara praktis dan langsung. Hal ini berarti memberikan manfaat ekonomi yang terasa bagi para nelayan, pemandu wisata, penyelam profesional, operator lokal, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor bahari, serta generasi muda yang bergelut di bidang maritim Indonesia.

“Hari ini kita berbicara tentang blue economy. Sebuah istilah yang terdengar besar, modern, dan penuh harapan. Tetapi bagi kami, blue economy harus memiliki makna yang jauh lebih nyata. Blue economy harus berarti kesejahteraan bagi masyarakat pesisir, bagi nelayan, bagi pemandu wisata, bagi operator lokal, dan bagi generasi muda maritim Indonesia,” ujar Aishah Gray dalam sambutannya.

Indonesia dianugerahi modal alam yang luar biasa, menjadikannya memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan utama dalam ekonomi bahari dunia. Dengan lebih dari 17.000 pulau dan garis pantai yang membentang sekitar 108.000 kilometer, ditambah dengan kekayaan laut dan keindahan terumbu karang yang diakui secara global, sektor wisata bahari Indonesia terus menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat menjanjikan.

Namun, di tengah optimisme pertumbuhan tersebut, MAX hadir membawa pesan krusial: pembangunan industri tidak boleh sampai mengabaikan masyarakat lokal. Masyarakat yang selama ini menjadi denyut nadi kehidupan di wilayah pesisir harus tetap menjadi prioritas.

“Jangan sampai laut kita ramai dipromosikan, tetapi rakyat pesisir hanya menjadi penonton di rumah sendiri,” tegas Aishah Gray, menyuarakan keprihatinannya.

Selain isu pemerataan manfaat ekonomi, MAX juga menyoroti aspek fundamental lainnya, yaitu pentingnya keselamatan kerja di sektor bahari. Menurut Aishah, pertumbuhan industri yang pesat harus diiringi dengan peningkatan fasilitas pendukung yang memadai. Ini termasuk penyediaan akses layanan hiperbarik yang memadai dan sistem tanggap darurat yang efektif bagi para penyelam serta pekerja laut.

“Ada satu hal penting yang tidak boleh dilupakan ketika kita bicara industri bahari, yaitu keselamatan. Industri ini bernilai besar, perputarannya miliaran rupiah, tetapi nyawa penyelam kita masih sering bergantung pada akses fasilitas hiperbarik yang terbatas,” katanya, menyoroti kerentanan yang ada.

MAX juga secara tegas menyampaikan pentingnya tata kelola tenaga kerja yang adil dan berpihak pada pelaku lokal. Meskipun Indonesia terbuka terhadap kolaborasi global, peluang kerja bagi instruktur lokal, pemandu wisata lokal, penyelam lokal, dan pengusaha lokal harus tetap menjadi prioritas yang dijaga.

“Kita tentu terbuka terhadap kolaborasi global. Tetapi peluang kerja bagi penyelam lokal, instruktur lokal, pemandu lokal, dan pelaku usaha lokal harus tetap terjaga secara adil. Laut kita harus memberi manfaat pertama-tama bagi rakyat kita sendiri,” ujar Aishah, menegaskan komitmennya.

Sebagai sebuah pameran yang bertujuan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelaku industri, komunitas, pemerintah, investor, akademisi, dan publik, MAX 2026 hadir bukan sekadar sebagai ajang pameran produk dan jasa. Lebih dari itu, MAX menjadi ruang penting untuk kolaborasi, berbagi ide, dan inspirasi demi masa depan maritim Indonesia yang lebih cerah.

Selama tiga hari penyelenggaraan, mulai dari 24 hingga 26 April 2026, dengan jam operasional pukul 10.00 hingga 22.00 WIB, para pengunjung dapat menikmati beragam kegiatan. Mulai dari pameran berbagai merek dan operator wisata bahari, forum diskusi mendalam, sesi networking bisnis, edukasi mengenai konservasi laut, hingga perkenalan teknologi kelautan terkini. Tidak ketinggalan, acara ini juga menyajikan program hiburan dan kontes bahari.

MAX 2026 terbuka untuk umum, memberikan kesempatan emas bagi masyarakat luas untuk melihat secara langsung potensi besar ekonomi biru Indonesia dari dekat. Ini adalah momen penting untuk memahami dan merayakan kekayaan bahari yang dimiliki.

“Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang kita butuhkan adalah keberpihakan, keberanian, dan komitmen bersama. Agar laut kita bukan hanya indah dipandang dunia, tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan bagi rakyatnya sendiri,” ungkap Aishah Gray, menutup pernyataannya dengan penuh harapan.

Baca juga di sini: Manipulasi Konteks Video Ceramah JK di UGM Jadi Sorotan Peneliti

Dalam momen yang penuh haru pada acara pembukaan, Founder MAX, Nunung Hasan, menitipkan keberlanjutan expo bahari nasional ini kepada seluruh pemangku kepentingan. Pesan ini disampaikan sebagai bagian dari upaya kolektif untuk membangun warisan industri maritim Indonesia yang berkelanjutan.

Dengan suasana emosional yang menyelimuti ruang pembukaan MAX 2026, Nunung Hasan tak kuasa menahan air mata saat menyampaikan pesan mendalam mengenai masa depan penyelenggaraan acara ini. Ia menyadari bahwa visi besar ini tidak dapat diwujudkan sendirian.

“Saya mungkin hanya seseorang dengan cita-cita, tapi hari ini saya berdiri di sini karena cita-cita itu kita wujudkan bersama. MAX bukan milik saya, MAX adalah milik kita semua,” katanya dengan suara yang mulai bergetar, menekankan semangat kebersamaan.

Dengan penuh kerendahan hati, Nunung menyampaikan bahwa ia secara resmi menitipkan gelaran MAX dan masa depan dunia bahari Indonesia kepada generasi penerus yang akan datang. Ia berharap estafet perjuangan ini dapat terus berlanjut.

“Saya pernah bilang, kalau suatu hari saya sudah tidak ada, MAX harus tetap berjalan. Saya titipkan MAX kepada kalian semua, karena ini bukan sekadar event, ini adalah legacy,” ungkapnya, menyampaikan amanah penting.

Air mata yang jatuh menjadi simbol ketulusan dan perjuangan panjang yang telah dilalui di balik lahirnya MAX. Sebuah expo yang tidak hanya berfungsi sebagai ajang pertemuan industri bahari, tetapi juga membawa misi besar untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa maritim yang tangguh di kancah global.

“MAX harus tetap ada. Harus terus hidup. Karena laut ini bukan hanya warisan, tapi masa depan anak cucu kita,” ujar Nunung, menegaskan kembali pentingnya keberlanjutan acara ini.

Momen tersebut menjadi salah satu titik paling emosional dalam rangkaian pembukaan MAX 2026. Sekaligus menjadi penegasan bahwa MAX bukanlah sekadar sebuah pameran biasa, melainkan sebuah gerakan kolektif yang diharapkan dapat terus dilanjutkan lintas generasi.

Sementara itu, Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyatakan keyakinannya bahwa MAX akan menjadi sektor unggulan dalam pengembangan industri kelautan Indonesia, termasuk di dalamnya adalah pariwisata bahari atau marine tourism.

“Meskipun ini penyelenggaraan pertama, jangan patah semangat. Expo ini akan diminati dan menjadi barometer bagi para pencinta laut. Tema yang diangkat relevan dengan tren global, circular economy, inovasi, kolaborasi dan aksi nyata,” katanya, memberikan dukungan dan apresiasi.

Ni Luh menjelaskan lebih lanjut bahwa pariwisata bahari memiliki spektrum yang sangat luas. Ini mencakup berbagai aktivitas seperti menyelam (diving), snorkeling, ekowisata, memancing rekreasi (fishing recreation), pariwisata warisan bahari (marine heritage tourism), hingga selancar (surfing).

“Kawasan pesisir menyumbang sekitar 80% aktivitas pariwisata global. Potensi ini terhubung dengan ekosistem laut, budaya lokal dan mata pencaharian masyarakat pesisir. Karena itu, pengembangan harus berorientasi pada kualitas pengalaman, manfaat ekonomi dan keberlanjutan lingkungan,” ungkapnya, menggarisbawahi pentingnya pendekatan yang holistik.

Ni Luh juga menyampaikan bahwa Kementerian Pariwisata saat ini sedang gencar berkolaborasi dengan berbagai pihak melalui program Diving Safety Thousand Initiatives. Program ini menargetkan pelatihan bagi lebih dari seribu penyelam dengan standar keselamatan yang tinggi di 15 destinasi prioritas di seluruh Indonesia.

“Laut bukanlah milik kita, melainkan titipan yang harus dijaga. Edukasi harus dimulai sejak dini agar generasi mendatang mencintai dan melestarikan laut. Selamat atas terselenggaranya Marine Action Expo 2026. Semoga menjadi tonggak penting bagi pengembangan wisata bahari Indonesia,” ujarnya, menutup sambutannya dengan pesan moral yang kuat.

No More Posts Available.

No more pages to load.