Krisis Timur Tengah Dongkrak Harga Minyak Mentah ke Ratusan

by -18 Views
Krisis Timur Tengah Dongkrak Harga Minyak Mentah ke Ratusan

KabarDermayu.com – Krisis politik yang melanda Timur Tengah telah memicu lonjakan signifikan dalam transaksi kontrak berjangka minyak mentah di Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX).

Data terbaru menunjukkan bahwa kontrak berjangka minyak mentah COFU10 mencatat peningkatan transaksi hingga 648 lot. Angka ini melonjak drastis jika dibandingkan dengan transaksi pada Februari 2026 yang hanya mencapai 12 lot, dan Januari 2026 yang tercatat sebanyak 4 lot.

COFU10 sendiri merupakan kontrak berjangka minyak mentah yang mewakili 10 barel per lot. Jenis minyak mentah yang direpresentasikan dalam kontrak ini adalah West Texas Intermediate (WTI). WTI dikenal sebagai minyak mentah ringan dan manis, serta menjadi salah satu patokan utama untuk harga minyak dunia.

Lonjakan transaksi ini, menurut Direktur ICDX Nursalam, mencerminkan tingginya minat pelaku usaha untuk melakukan lindung nilai atau hedging terhadap komoditas minyak mentah.

“Lonjakan transaksi kontrak berjangka minyak mentah khususnya COFU10 ini menunjukkan tingginya minat pelaku usaha melakukan hedging atau lindung nilai atas komoditas tersebut,” ujar Nursalam di Jakarta pada Kamis, 23 April 2026.

Nursalam menambahkan bahwa krisis yang terjadi di Timur Tengah telah menimbulkan guncangan yang cukup berarti bagi pasar energi global, terutama pada sektor minyak mentah.

Dalam situasi yang penuh ketidakpastian seperti ini, mekanisme hedging menjadi instrumen penting bagi pelaku usaha untuk mengelola risiko yang timbul akibat fluktuasi harga di pasar fisik atau spot.

Baca juga di sini: Telkom Perkuat Strategi Menuju Masa Depan Berkelanjutan

Selain memfasilitasi transaksi kontrak berjangka minyak mentah, ICDX juga menyediakan fasilitas transaksi multilateral. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk melakukan hedging terhadap berbagai komoditas lain, termasuk mata uang dan emas.

“Kami akan terus mengembangkan kontrak-kontrak berjangka sesuai dengan kebutuhan para pelaku usaha,” jelas Nursalam.

Sementara itu, Analis Komoditas Riset dan Pengembangan ICDX, Girta Yoga, memprediksi bahwa harga minyak mentah dalam jangka pendek masih berpotensi bergerak dalam tren bullish.

Hal ini didorong oleh dampak risiko geopolitik di Timur Tengah yang hingga kini masih menjadi katalis penggerak utama pasar, dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

“Risiko geopolitik dari perang Iran ini berdampak langsung pada gangguan pasokan di pasar global akibat aksi saling blokade di jalur pengiriman vital, terutama Selat Hormuz,” ungkap Girta Yoga.

Selat Hormuz sendiri memiliki peran krusial dalam rantai pasok energi global, karena berkontribusi terhadap sekitar 20 persen pasokan energi dunia.