KabarDermayu.com – Mobil berlabel Low Cost Green Car (LCGC) atau yang dikenal sebagai mobil murah masih menunjukkan daya tariknya yang kuat di pasar otomotif Indonesia. Meskipun tren kendaraan listrik semakin gencar diperkenalkan, mobil dengan banderol harga sekitar Rp100 jutaan tetap diminati karena menawarkan keunggulan dalam hal efisiensi dan biaya operasional yang lebih terjangkau.
Sejarah mobil murah di Indonesia tidak terlepas dari peluncuran program LCGC yang dimulai pada tahun 2013. Program ini dirancang untuk menghadirkan kendaraan yang hemat energi dan memiliki harga yang dapat dijangkau oleh masyarakat kelas menengah, sekaligus memperluas akses kepemilikan kendaraan pribadi.
Seiring berjalannya waktu, mobil LCGC tidak hanya dipandang sebagai kendaraan dengan harga terjangkau, melainkan juga sebagai pilihan yang rasional untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari. Faktor-faktor seperti efisiensi konsumsi bahan bakar, biaya perawatan yang relatif rendah, serta harga pembelian yang bersaing menjadi alasan utama segmen ini terus bertahan di tengah persaingan pasar yang semakin dinamis.
Tren positif ini masih terlihat dalam data penjualan ritel hingga tahun 2026. Berdasarkan catatan Gaikindo, segmen mobil hemat energi terjangkau dengan penggerak 4×2 dan kapasitas mesin maksimal 1.200 cc berhasil mencatatkan penjualan sebanyak 30.110 unit. Angka ini memberikan kontribusi sekitar 14,2 persen terhadap total pasar otomotif nasional.
Baca juga: Ahmad Dhani Ungkap Bukti Lengkap Perselingkuhan Maia Estianty, Anak-anak Belum Tahu
Data penjualan ini mengindikasikan bahwa mobil di kelas LCGC masih memiliki basis konsumen yang solid. Di tengah maraknya kehadiran kendaraan listrik dan berbagai model SUV modern, mobil dengan harga di kisaran Rp100 jutaan tetap relevan karena mampu memenuhi kebutuhan mobilitas dasar dengan biaya yang lebih efisien.
Dominasi segmen ini juga terlihat jelas dari performa penjualan beberapa merek otomotif ternama, salah satunya Daihatsu. Pada bulan April 2026, penjualan ritel Daihatsu mencapai 12.300 unit, yang menunjukkan peningkatan sekitar 11 persen dibandingkan bulan Maret 2026 yang tercatat sebanyak 11.115 unit.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, pencapaian ini bahkan mengalami kenaikan signifikan sekitar 25 persen, dari 9.801 unit pada April 2025. Hal ini menegaskan bahwa permintaan terhadap kendaraan dengan harga terjangkau terus menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.
Dalam segmen kendaraan penumpang, Daihatsu berhasil membukukan penjualan sebanyak 5.879 unit, yang berkontribusi sekitar 48 persen dari total penjualan perusahaan. Model LCGC andalan seperti Daihatsu Sigra dan Daihatsu Ayla menjadi kontributor utama dalam segmen ini, dengan total penjualan gabungan mencapai 3.627 unit atau sekitar 30 persen dari total penjualan Daihatsu.
Selain model LCGC, kendaraan lain seperti Daihatsu Terios juga mencatatkan angka penjualan yang baik, yaitu sebanyak 1.154 unit. Model-model lain seperti Xenia, Luxio, dan Rocky turut memberikan sumbangsih penjualan gabungan sebanyak 2.252 unit.
Di segmen kendaraan komersial, Gran Max Series menjadi tulang punggung penjualan Daihatsu dengan total 6.421 unit, atau sekitar 52 persen dari keseluruhan penjualan. Model ini terus menjadi pilihan utama bagi para pelaku usaha berkat kapasitas angkutnya yang memadai dan efisiensi operasional yang ditawarkannya.
Sri Agung Handayani, Marketing Director dan Corporate Communication Director PT Astra Daihatsu Motor, menjelaskan bahwa tren penjualan ini mencerminkan adanya perubahan dalam kebutuhan mobilitas masyarakat.
“Konsistensi Sigra dan Ayla sebagai pilihan utama bagi pembeli mobil pertama menunjukkan bahwa kebutuhan mobilitas saat ini semakin mengarah pada solusi yang fungsional, efisien, dan mampu menunjang produktivitas,” ujar Sri Agung Handayani, seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima VIVA Otomotif pada Rabu, 6 Mei 2026.





