KabarDermayu.com – Pembangunan di Papua selama ini seringkali dibicarakan dalam kerangka angka besar seperti investasi, infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi. Berbagai program percepatan pembangunan nasional terus digulirkan, jalan dibangun, bandara diperluas, dan dana otonomi khusus terus dikucurkan.
Namun, pertanyaan mendasar yang masih menggantung adalah apakah pembangunan tersebut benar-benar berakar dari cara hidup, pengetahuan, dan kebutuhan masyarakat Papua itu sendiri.
Pertanyaan ini menjadi krusial seiring dengan kompleksitas tantangan yang dihadapi Papua, yang melampaui sekadar persoalan fisik.
Ketimpangan pembangunan antara wilayah pesisir dan pegunungan masih menjadi masalah. Akses terhadap layanan pendidikan dan kesehatan belum merata.
Ditambah lagi, perubahan global seperti transformasi digital, perubahan iklim, dan transisi menuju ekonomi hijau memberikan tekanan baru bagi masyarakat lokal.
Dalam situasi ini, pendekatan pembangunan yang seragam dan bersifat top-down tidak lagi memadai. Munculnya gagasan pembangunan berbasis etnosains di Papua menjadi sebuah alternatif yang menarik untuk dicermati.
Pendekatan ini akan menjadi salah satu fokus utama dalam Konferensi Analisis Papua Strategis (APS) III yang akan diselenggarakan pada 27-29 Mei 2026 di Kota Jayapura. Tema yang diangkat adalah “Inovasi Pembangunan Papua Berbasis Etnosains”.
Ketua Panitia Konferensi APS III, Richard Patty, menjelaskan bahwa gagasan ini berupaya menempatkan pengetahuan lokal, budaya, dan pengalaman masyarakat adat sebagai elemen penting dalam merancang masa depan Papua.
“Konferensi ini hadir sebagai platform strategis untuk mendialogkan berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih kontekstual dan berbasis bukti,” kata Richard dalam keterangannya pada Senin, 11 Mei 2026.
Ia menegaskan bahwa konferensi ini bukan sekadar forum diskusi biasa. Ada upaya untuk mengubah cara pandang terhadap pembangunan Papua.
Selama ini, pembangunan seringkali diartikan sebagai proses menghadirkan modernitas dari luar ke dalam Papua. Padahal, masyarakat adat Papua telah memiliki sistem pengetahuan yang berkembang selama ratusan tahun dan terbukti mampu menjaga keseimbangan hidup dengan alam.
“Kompleksitas tantangan pembangunan di Tanah Papua tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan konvensional yang bersifat top-down dan seragam. Pendekatan berbasis etnosains menjadi alternatif solusi yang mampu menjembatani kearifan lokal dengan inovasi modern,” ujar Richard.
Wacana pembangunan berbasis etnosains ini sangat relevan dengan tren pembangunan global saat ini. Dunia semakin menyadari bahwa modernisasi yang mengabaikan budaya lokal seringkali justru menimbulkan masalah baru.
Masalah tersebut meliputi kerusakan lingkungan, konflik sosial, hingga hilangnya identitas masyarakat adat.
Di banyak negara, pendekatan pembangunan berbasis komunitas mulai dianggap lebih berkelanjutan. Masyarakat tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, melainkan menjadi pelaku utama yang menentukan arah perubahan.
Baca juga: Cara PPPK Kemayoran Sambut Ribuan Umat Buddha Jelang Waisak
“Papua memiliki modal sosial dan budaya yang sangat besar untuk menjalankan pendekatan tersebut,” imbuhnya.





