KabarDermayu.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mendadak membatalkan rencana negosiasi dengan Iran yang sedianya akan dilakukan oleh utusannya di Pakistan. Keputusan ini diambil setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah meninggalkan negara tersebut.
Trump menginformasikan bahwa dirinya telah menginstruksikan Steve Witkoff dan Jared Kushner untuk menunda perjalanan mereka ke Islamabad. Padahal, sebelumnya Trump sempat mengindikasikan bahwa Iran tengah mengajukan tawaran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama dua bulan.
Melalui pernyataannya kepada Fox News, yang dikutip dari Al Jazeera, Trump menyatakan bahwa perjalanan panjang ke Pakistan tidak lagi diperlukan. Ia merasa Amerika Serikat memiliki kendali penuh dan Iran dapat menghubungi mereka kapan saja jika memang ada niat untuk berdialog.
Baca juga di sini: Anak-Anak Diduga Alami Kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta
Di sisi lain, Abbas Araghchi memang telah lebih dulu mengakhiri kunjungannya di Islamabad. Media pemerintah Iran, Press TV, melaporkan bahwa Araghchi bertolak pada Sabtu setelah melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Panglima Angkatan Darat Jenderal Asim Munir, serta Menteri Luar Negeri Ishaq Dar.
Melalui sebuah unggahan di platform X, Araghchi menyampaikan bahwa ia telah memaparkan pandangan Iran mengenai kerangka kerja yang realistis untuk mencapai perdamaian permanen kepada para pejabat Pakistan. Ia juga menambahkan bahwa masih perlu dilihat apakah Amerika Serikat benar-benar serius dalam menempuh jalur diplomasi.
Sementara itu, kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan bahwa Araghchi dijadwalkan untuk kembali mengunjungi Pakistan setelah menyelesaikan lawatannya ke Oman dan sebelum melanjutkan perjalanannya ke Rusia. Sebagian anggota delegasi Iran dilaporkan telah kembali ke Teheran untuk melakukan konsultasi dan menerima arahan terkait upaya pengakhiran konflik, dan dijadwalkan untuk bergabung kembali dengan Araghchi di Islamabad pada Minggu malam.
Sebelumnya, Trump juga sempat memberikan isyarat melalui media sosial bahwa pembicaraan di masa mendatang kemungkinan besar akan dilakukan melalui sambungan telepon. Ia menuliskan pesan singkat yang menyarankan agar Iran cukup menelepon jika memang ingin berbicara.
Trump juga menambahkan bahwa ada ketidakjelasan mengenai siapa yang sebenarnya memegang kendali di Iran, serta menyebutkan adanya perselisihan dan kebingungan yang signifikan dalam kepemimpinan yang melibatkan Mojtaba.
Dari Washington, jurnalis Al Jazeera, Rosiland Jordan, menafsirkan pernyataan Trump sebagai indikasi bahwa Amerika Serikat tidak melihat adanya tanda-tanda kompromi dari pihak Iran. Pernyataan Trump mengenai penguasaan penuh kemungkinan merujuk pada blokade laut yang diterapkan Amerika Serikat, serta keberadaan lebih dari 50.000 pasukan di kawasan tersebut yang siap untuk melanjutkan operasi militer.
Tekanan untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik secara permanen terus meningkat, terutama di tengah ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur strategis yang sangat vital, dilalui oleh sekitar seperlima dari total pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.
Pasukan elite Iran, Garda Revolusi Islam, pada Sabtu menyatakan sikap mereka yang tidak berniat menghentikan aksi pemblokiran jalur tersebut. Aksi ini, menurut laporan kantor berita AFP, telah memicu gejolak di pasar energi global.






