KabarDermayu.com – Industri pariwisata global kini menyaksikan pergeseran fokus wisatawan, yang lebih mementingkan kualitas pengalaman daripada sekadar tujuan. Tren yang semakin menonjol adalah family-centric travel, sebuah konsep perjalanan yang menempatkan kebersamaan keluarga sebagai elemen sentral.
Konsep ini merujuk pada pola perjalanan yang dirancang khusus untuk mempererat hubungan antaranggota keluarga. Lebih dari sekadar liburan bersama, family-centric travel menekankan pada aktivitas yang mendorong interaksi, komunikasi, dan penciptaan momen berharga yang akan dikenang.
Dalam praktiknya, tren ini mendorong para pelaku industri pariwisata untuk menawarkan pengalaman yang lebih personal dan relevan. Hal ini terlihat dari berbagai inovasi yang mulai bermunculan.
Contohnya, penyedia akomodasi kini mulai menghadirkan program kegiatan yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Mulai dari kelas memasak bersama, permainan interaktif lintas generasi, hingga paket wisata edukatif yang dirancang untuk dinikmati oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Selain itu, destinasi wisata juga turut beradaptasi dengan mengembangkan fasilitas yang ramah keluarga. Fasilitas ini mencakup ruang bermain, area edukasi khusus, hingga tur tematik yang memanfaatkan narasi cerita untuk menarik minat pengunjung.
Baca juga di sini: Talenta Muda Bersinar di MTW 2026, Indonesia Bidik Kejayaan di Gothia Cup
Fenomena ini tidak lepas dari perubahan gaya hidup masyarakat modern. Di tengah kesibukan sehari-hari dan keterbatasan waktu, liburan menjadi salah satu momen krusial untuk membangun kembali kedekatan emosional dalam keluarga. Oleh karena itu, perjalanan yang menawarkan nilai kebersamaan menjadi semakin diminati dibandingkan perjalanan yang bersifat individualistik.
Brian Kennedy, Director Dunia Travel, menyoroti bahwa keterbatasan mobilitas global akibat dinamika geopolitik justru memicu lahirnya pendekatan baru dalam merancang pengalaman wisata. Pendekatan ini lebih mengutamakan kedekatan, personalisasi, dan relevansi dengan kebutuhan wisatawan saat ini.
“Industri pariwisata menuntut kita untuk peka terhadap perubahan kondisi. Kita tidak hanya menjual perjalanan, tetapi menghadirkan pengalaman yang relevan dan bernilai sesuai kebutuhan wisatawan,” ujar Brian Kennedy.
Ia menambahkan bahwa perkembangan tren family-centric travel ini sejalan dengan kebutuhan untuk menciptakan kedekatan dan mempererat hubungan antaranggota keluarga melalui pengalaman liburan yang lebih bermakna.
Lebih lanjut, family-centric travel dinilai memiliki dampak positif secara psikologis. Aktivitas bersama dalam suasana yang santai dapat meningkatkan kualitas komunikasi, memperkuat rasa saling memahami, serta menciptakan ikatan emosional yang lebih kuat di antara anggota keluarga.
Pembahasan mendalam mengenai tren ini disampaikan dalam Seminar Nasional bertajuk ‘Evolve in Practice: How Hospitality and Tourism Professionals Grow Through Change’. Sesi tersebut menghadirkan tiga alumni Universitas Pelita Harapan (UPH) yang berbagi perspektif mengenai perkembangan industri hospitality dan pariwisata.
Para narasumber tersebut adalah Leo Satria (Digital Marketing Enthusiast & Culinary Content Creator, alumni Manajemen Perhotelan 2017), Andy Gozali (Sous Chef The Crown by Kirk Westaway Restaurant dan Co-Founder Burnt.id, alumni Manajemen Perhotelan 2011), serta Brian Kennedy (Director Dunia Travel, alumni Usaha Perjalanan Wisata 2017).
Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian acara Hospitour 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Hospitality dan Pariwisata Universitas Pelita Harapan (FHospar UPH). Acara ini berlangsung pada 21–24 April 2026 di Kampus UPH Lippo Village dengan tema utama “EVOLVE: Empowering Visionary Oriented Local and Virtual Experiences”.
“Perubahan adalah bagian penting dari proses pertumbuhan profesional. Oleh karena itu, akumulasi pengalaman, kedalaman pembelajaran, serta keberanian untuk berinovasi menjadi faktor kunci dalam menjaga relevansi dan daya saing di tengah dinamika perkembangan zaman,” jelas Dr. Amelda Pramezwary, A. Par., M.M., CHE., selaku Ketua Program Studi Pengelolaan Perhotelan UPH.
Melalui tren family-centric travel, industri pariwisata tidak hanya menawarkan sebuah perjalanan, tetapi juga menyajikan pengalaman yang sarat makna dan mampu memperkuat nilai-nilai kekeluargaan. Ke depannya, pendekatan ini diprediksi akan terus berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan wisatawan akan koneksi emosional dalam setiap momen perjalanan mereka.






