Trump Beri Iran Tenggat 48 Jam untuk Sepakati Perjanjian atau Hadapi Ancaman Serangan Militer

oleh -5 Dilihat
Trump Beri Iran Tenggat 48 Jam untuk Sepakati Perjanjian atau Hadapi Ancaman Serangan Militer

KabarDermayu.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan ultimatum tegas kepada Iran untuk menyetujui kesepakatan dalam kurun waktu 48 jam. Jika tidak, Iran akan menghadapi serangan militer yang lebih besar dari sebelumnya.

Melalui platform Truth Social, Trump mengaitkan operasi militer gabungan AS-Israel yang bernama “Epic Fury” dengan kesediaan Iran untuk bernegosumi. Ia menyatakan bahwa jika Iran menyetujui kesepakatan yang telah dirancang, operasi tersebut akan diakhiri.

“Jika mereka tidak setuju, pemboman akan dimulai, dan sayangnya, akan terjadi pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya,” ujar Trump.

Tenggat 48 Jam bagi Iran

Ultimatum ini muncul bersamaan dengan laporan dari media Axios yang menyebutkan bahwa Washington dan Teheran hampir mencapai kesepakatan nota kesepahaman satu halaman sebagai peta jalan penghentian konflik. Amerika Serikat menantang Iran untuk memberikan respons terhadap poin-poin krusial dalam waktu 48 jam.

Sumber-sumber dari Pakistan yang dikutip The Guardian memberikan gambaran serupa, meskipun dengan nada kehati-hatian. Seorang pejabat Pakistan menyatakan bahwa kerangka kerja awal mungkin bisa dirumuskan dalam dua hari ke depan, namun menekankan bahwa kepastian belum tercapai dan pembicaraan tetap sulit.

Seorang sumber politik senior Pakistan menggambarkan situasi saat ini sebagai “situasi yang bergerak maju.” Fokus utama pembicaraan adalah pencapaian gencatan senjata permanen dan pembukaan Selat Hormuz oleh kedua belah pihak minimal selama 60 hari.

“Hal itu memberi kesempatan bagi kedua pihak untuk membicarakan semua hal penting, termasuk pengayaan uranium. Tetapi belum ada yang final. Semuanya masih dalam pembahasan,” ungkap sumber tersebut.

Iran Bersikap Keras

Di sisi Iran, respons yang diberikan jauh dari kata menerima. Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran yang juga menjabat sebagai negosiator senior, melalui pesan suara di kanal Telegram resminya, memilih jalur perlawanan.

Baca juga: Ini beberapa pilihan parafrase judul artikel tersebut:

Ghalibaf menuduh Washington menjalankan strategi multi-arah untuk memaksa Teheran menyerah, termasuk melalui blokade angkatan laut, tekanan ekonomi, dan manipulasi media.

Sikap serupa ditegaskan oleh Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei. Baghaei menyatakan bahwa Teheran akan menyampaikan posisi resminya kepada Pakistan setelah “menyelesaikan pandangannya.”

Selat Hormuz dan Proyek Freedom

Di tengah tarik-menarik diplomasi, krisis kemanusiaan dan ekonomi nyata terjadi di perairan Teluk. Lebih dari 800 kapal komersial dengan sekitar 20.000 awak kapal dilaporkan terdampar di sebelah barat Selat Hormuz, jalur maritim vital bagi pengiriman minyak dunia.

Sebelumnya, Iran mengancam akan menggunakan ranjau laut, drone, rudal, dan kapal serang cepat untuk membuat Selat Hormuz berbahaya bagi pelayaran komersial, yang berdampak pada lonjakan harga bahan bakar global.

Secara mengejutkan, Trump memerintahkan penghentian sementara Proyek Freedom, operasi angkatan laut AS yang bertugas mengawal kapal-kapal terdampar melewati selat tersebut. Padahal, operasi ini baru berjalan sehari sebelumnya.

Trump menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah menerima permintaan dari “mediator Pakistan dan negara-negara lain.” Ia mengklaim kemajuan besar telah dicapai menuju Kesepakatan Lengkap dan Akhir, namun blokade ekonomi terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan sebagai alat tekan.

Faktor Beijing dan Kunjungan Krusial

Analis geopolitik mencatat bahwa manuver ini memiliki timing yang strategis, mengingat Trump dijadwalkan mengunjungi Beijing minggu depan. Kunjungan ini merupakan yang pertama ke China pada masa jabatan kedua Trump dan kunjungan pertama presiden AS ke sana sejak 2017.

Diduga kuat, Trump ingin menunjukkan terobosan diplomatik sebelum kunjungannya ke ibu kota China.

China sendiri telah menyerukan gencatan senjata komprehensif dalam konflik AS-Iran. Meskipun memiliki hubungan erat dengan Teheran, China belum berhasil memberikan pengaruh signifikan terhadap pemerintah Iran sejak perang dimulai.

Pemerintahan Trump diyakini ingin memanfaatkan posisi strategis Beijing untuk mendorong Iran membuka kembali Selat Hormuz.

Syarat Kontroversial: Ekspor Uranium ke AS

Dalam wawancara dengan PBS, Trump menyatakan optimisme namun tetap mempertahankan prinsip kerasnya.

“Saya pikir ada peluang yang sangat bagus untuk mengakhiri konflik ini, dan jika tidak berakhir, kita harus kembali membombardir mereka habis-habisan,” katanya.

Tuntutan Washington dalam kesepakatan apa pun terbilang berat: Iran wajib mengekspor uranium yang sangat diperkaya, material fisil untuk produksi senjata nuklir, ke Amerika Serikat.

Para ahli persenjataan nuklir menilai syarat ini hampir pasti ditolak oleh Iran, mengingat uranium yang diperkaya merupakan aset strategis negara tersebut.

Dampak Ekonomi Global dan Tekanan Domestik

Berita mengenai kemungkinan kesepakatan damai berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak anjlok setelah sebelumnya melonjak hingga 6% akibat eskalasi serangan di Timur Tengah. Bagi Trump, stabilitas harga bahan bakar sangat krusial.

Kenaikan harga bensin dan perlambatan ekonomi global berpotensi menjadi isu politik menjelang pemilihan Kongres AS pada November. Jika Partai Demokrat berhasil merebut satu atau dua kamar Kongres, legitimasi kepresidenan Trump bisa tergerus.