KabarDermayu.com – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri berhasil mengidentifikasi total 17 jenazah korban kecelakaan tragis antara Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Angka ini ditemukan dari 16 kantong jenazah yang telah diterima di RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang.
Kepala RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, Kombes Pol Budi Susanto, mengonfirmasi penemuan ini pada Jumat di Palembang. Ia menjelaskan bahwa penambahan jumlah korban didapat setelah tim melakukan pemeriksaan ulang secara mendalam terhadap seluruh kantong jenazah yang ada.
“Pada hasil penelusuran dan pendalaman hari ini, kami menemukan 17 body part atau tubuh jenazah dari 16 kantong jenazah,” ujar Kombes Pol Budi Susanto.
Baca juga: Pertamina Jajaki Penguatan Kerja Sama dengan EOG Resources untuk Tingkatkan Produksi Migas
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa dalam salah satu kantong jenazah, tim menemukan dua bagian tubuh yang saling menempel di area ketiak. Penemuan ini menyebabkan jumlah korban bertambah setelah proses rekonsiliasi dilakukan. Bagian tubuh tambahan tersebut diduga berasal dari seorang anak berusia di bawah lima tahun.
“Kami belum bisa menentukan jenis kelaminnya karena kondisinya lebih kecil dan hancur. Namun dari beberapa bagian tubuh yang diperiksa, kami menduga itu anak-anak usia di bawah lima tahun,” tambahnya.
Saat ini, tim DVI masih memfokuskan upaya identifikasi korban. Proses ini dilakukan dengan mencocokkan data antemortem (data korban sebelum meninggal) dan postmortem (data korban setelah meninggal) yang diperoleh dari keluarga korban.
Informasi dari keluarga korban diterima melalui layanan hotline khusus maupun secara langsung di pos antemortem yang telah didirikan di RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang. Hal ini penting untuk memastikan identifikasi yang akurat.
Meskipun ada penemuan properti seperti aksesoris dan kondisi gigi pada korban, data-data tersebut belum dapat dijadikan dasar tunggal untuk penetapan identitas secara pasti. Oleh karena itu, tim DVI tidak menjadikan data manifest penumpang sebagai satu-satunya patokan.
Fokus utama tim DVI adalah pada identifikasi forensik yang ilmiah dan objektif. Hal ini dilakukan untuk memastikan setiap korban teridentifikasi dengan benar, terlepas dari kelengkapan data penumpang.
“Mengenai data manifest memang secara khusus kami tidak memegang data tersebut siapa penumpangnya siapa, karena memang sama-sama kita ketahui rekan-rekan bahwa bus ini kan tidak seperti pesawat yang setiap orang naik harus punya tiket. Tapi yang kita lakukan di sini hanya terfokus kepada identifikasi saja,” jelas Budi.
Dengan adanya penemuan terbaru ini, total korban meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut kini mencapai 18 orang. Angka ini mencakup 17 korban yang dinyatakan meninggal di lokasi kejadian dan satu korban yang meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan medis intensif.





