KabarDermayu.com – Upaya memperkuat kedaulatan bangsa kini tidak lagi hanya bertumpu pada kekuatan militer, tetapi juga pada kemandirian sektor pangan. PTPN I (Persero) menegaskan posisinya sebagai garda terdepan dalam mendukung visi tersebut dengan mengintegrasikan lima aspek fundamental bisnis yang selaras dengan kedaulatan negara.
Sebagai anak usaha PTPN III Holding yang bergerak di sektor agroindustri, PTPN I mengemban tanggung jawab besar dalam memastikan ketersediaan pangan nasional. Direktur Utama PTPN I, Abdul Rivai Ras, mengungkapkan bahwa perusahaan memiliki peran krusial bukan sekadar sebagai entitas bisnis, melainkan sebagai pilar penyangga ekonomi dan ketahanan pangan di tanah air.
Dalam forum “Syukuran, Doa Bersama Swasembada Pangan Indonesia” yang digelar di Jakarta pada 1 Agustus 2026, Rivai menjelaskan bahwa kekuatan PTPN I terletak pada model bisnisnya yang padat karya. Dengan jangkauan wilayah yang luas hingga ke pelosok negeri, perusahaan ini secara langsung berperan dalam memecah isolasi wilayah serta mendorong pemerataan pembangunan ekonomi nasional.
“Hadir dengan budidaya agronomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi modern, juga menempatkan PTPN I sebagai pusat inkubasi usaha dan transfer sains kepada masyarakat luas,” ujar Rivai dalam keterangannya, Minggu, 2 Agustus 2026.
Selain diskusi strategis, momentum ini juga menjadi ajang peluncuran buku karya Abdul Rivai Ras yang berjudul “Pangan dalam Aspek Pertahanan Negara”. Buku ini membedah irisan mendalam antara aset besar yang dimiliki PTPN I, sebaran operasional yang masif, serta misi humanis perusahaan dengan ketahanan pangan nasional. Rivai, yang juga merupakan alumnus Program Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia, menekankan pentingnya keterlibatan BUMN dalam menjaga stabilitas bangsa.
Visi yang diusung PTPN I ini disebut sangat relevan dengan program Asta Cita yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Menurut Rivai, Presiden kerap menegaskan bahwa kemerdekaan suatu bangsa sangat bergantung pada kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Tanpa kemandirian pangan, martabat dan kedaulatan negara akan sulit dipertahankan di tengah dinamika global.
Pembangunan pangan, lanjut Rivai, merupakan langkah strategis yang melampaui sekadar peningkatan angka produksi. “Ini adalah upaya membangun kemandirian, memperkuat stabilitas ekonomi, dan menjaga ketahanan negara secara komprehensif,” tambahnya.
Optimisme ini bukannya tanpa dasar. Berdasarkan data pemerintah, Indonesia menunjukkan performa impresif di sektor pertanian sepanjang tahun 2025. Produksi beras nasional tercatat mencapai 34,71 juta ton, atau meningkat 13,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, Indonesia berhasil mencatatkan surplus beras sebesar 3,52 juta ton, yang memungkinkan negara untuk tidak melakukan impor beras konsumsi sepanjang tahun 2025.
Keberhasilan ini tidak hanya terbatas pada beras. Indonesia kini telah mencapai swasembada pada delapan komoditas strategis lainnya, di antaranya jagung pakan, gula konsumsi, aneka cabai, bawang merah, serta daging dan telur ayam ras. Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi lintas sektor—mulai dari pemerintah, petani, peternak, akademisi, hingga TNI dan Polri—mampu membawa Indonesia menuju kemandirian pangan yang sesungguhnya.
Acara yang dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional tersebut juga disemarakkan dengan kegiatan bernuansa sosial dan spiritual, seperti pembacaan ayat suci Al-Qur’an, pemberian santunan kepada anak yatim, serta tausiah oleh Ustaz Das’ad Latif. Hal ini menegaskan bahwa di balik agenda besar kedaulatan pangan, PTPN I tetap menempatkan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual sebagai landasan dalam menjalankan operasional perusahaan.
Dengan komitmen yang teguh, PTPN I terus berupaya menjadi motor penggerak bagi kesejahteraan masyarakat sekaligus memastikan bahwa setiap jengkal tanah Indonesia mampu memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan nasional, sejalan dengan cita-cita besar bangsa untuk menjadi negara yang mandiri secara pangan.





