KabarDermayu.com – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dinamika pemilihan pimpinan tertinggi organisasi keislaman terbesar di Indonesia ini mulai terkuak. Perkembangan yang terjadi menjelang agenda penting tersebut diungkapkan oleh HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, atau yang akrab disapa Gus Lilur.
Gus Lilur menjelaskan bahwa secara normatif, pemilihan Rais Aam seharusnya dilakukan melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Namun, ia menekankan bahwa dalam realitas politik internal NU, komposisi AHWA tidak sepenuhnya steril dari pengaruh.
Menurutnya, AHWA kerap kali dikondisikan, dipengaruhi, bahkan diatur melalui relasi dan kepentingan yang melibatkan calon Rais Aam dan calon Ketua Umum. Hal ini menunjukkan adanya manuver politik yang tersembunyi di balik proses pemilihan.
Lebih lanjut, Gus Lilur menambahkan bahwa arah pilihan AHWA sangat tidak terlepas dari konfigurasi awal yang dibentuk oleh para aktor utama dalam Muktamar. Keputusan para pemilih strategis ini akan sangat menentukan hasil akhir.
Informasi mengenai dinamika ini harus dibaca sebagai bagian dari proses internal yang masih sangat dinamis. Namun, dalam pembacaan politik organisasi, komposisi AHWA menjadi arena yang sangat strategis dan menentukan.
Terdapat narasi yang berkembang mengenai kecenderungan pilihan dari dua kiai berpengaruh. Keduanya dipersepsikan memiliki pandangan yang berbeda mengenai siapa yang layak menduduki posisi Rais Aam.
Salah satu narasi menyebutkan bahwa kedua kiai tersebut cenderung memilih Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam. Di sisi lain, ada pula pandangan yang menyebutkan bahwa Gus Ipul menghendaki Miftachul Akhyar untuk tetap menjabat di posisi tersebut.
Hal ini mengindikasikan adanya pertarungan sengit yang tidak hanya terjadi di ruang pemilihan Muktamar ke-35 NU, tetapi juga telah berlangsung jauh sebelumnya di ruang-ruang penentuan yang berhak memberikan suara.
Jika dinamika ini ditarik lebih luas, maka komposisi persaingan ‘pasangan calon’ pimpinan NU dapat dibaca dalam beberapa skenario yang masih bisa berubah hingga pelaksanaan Muktamar.
Baca juga di sini: Dua Penumpang Pesawat di Gorontalo Tertangkap Bawa Emas 1,3 Kg Diduga Ilegal
Pertama, Yahya Cholil Staquf tetap berada dalam posisi untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Umum. Namun, ia masih dalam proses mencari pasangan yang paling tepat untuk mengisi posisi Rais Aam.
Kedua, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul berada dalam posisi mempertahankan dirinya sebagai Sekretaris Jenderal. Ia memiliki kecenderungan untuk mendorong Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam, sembari tetap mencari konfigurasi yang ideal untuk posisi Ketua Umum.
Ketiga, terdapat jaringan yang memiliki irisan dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Jaringan ini mendorong skema Ketua Umum tertentu dengan Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam.
Keempat, muncul pula pembacaan terhadap jaringan yang beririsan dengan Kementerian Agama. Jaringan ini mempertimbangkan figur Menteri Agama, Nazaruddin Umar, sebagai calon Ketua Umum. Sementara itu, posisi Rais Aam masih terbuka untuk dikonfigurasikan.
Kelima, Gus Lilur tidak menutup kemungkinan munculnya pasangan calon alternatif. Pasangan semacam ini biasanya lahir dari kompromi di menit-menit akhir, terutama ketika tidak ada satu poros pun yang mampu mendominasi secara penuh.
Di sisi lain, dinamika ini menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan pernyataan-pernyataan yang muncul dalam forum IKA PMII. Jika pidato-pidato dalam forum tersebut tidak sekadar retorika belaka, maka terbuka kemungkinan adanya koalisi antara jaringan PKB di NU, jaringan Kementerian Agama, serta figur seperti Said Aqil Siradj.
Dalam skenario seperti ini, jika figur-figur penting seperti Muhaimin Iskandar, Nusron Wahid, dan Nazaruddin Umar benar-benar berpadu dalam satu konfigurasi, maka bukan tidak mungkin hasil Muktamar telah ditentukan sebelum forum resmi berlangsung.
Namun, Gus Lilur mengingatkan bahwa sebagaimana tradisi NU yang kental, semua kalkulasi politik tersebut tetap harus berhadapan dengan faktor kiai pesantren. Para kiai sepuh ini sering kali menjadi penentu akhir yang sesungguhnya, di luar kalkulasi formal yang ada.





