KabarDermayu.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran memiliki keinginan kuat untuk segera mencapai kesepakatan di tengah ketegangan yang sedang berlangsung.
Pernyataan ini disampaikan Trump kepada para wartawan pada Jumat, 1 Mei 2026, di mana ia berharap situasi tersebut dapat segera terselesaikan.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin meningkat setelah serangan yang dilancarkan oleh kedua negara terhadap target masing-masing. Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan ke beberapa wilayah Iran, termasuk Teheran, yang dilaporkan menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Sebagai respons, Iran kemudian membalas dengan melakukan serangan terhadap wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Upaya negosiasi pun sempat dilakukan. Pada 11 April, Iran dan Amerika Serikat menggelar pembicaraan di Islamabad, Pakistan, menyusul pengumuman Trump mengenai kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan.
Namun, harapan untuk mencapai terobosan dalam perundingan tersebut pupus. Keesokan harinya, kepala delegasi AS, Wakil Presiden JD Vance, mengumumkan bahwa Iran dan AS gagal mencapai kesepakatan.
Delegasi AS kembali ke negaranya tanpa hasil yang signifikan. Meskipun tidak ada pengumuman mengenai dimulainya kembali permusuhan, AS kemudian mengambil langkah dengan memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pada pekan sebelumnya, Trump memutuskan untuk memperpanjang gencatan senjata. Keputusan ini diambil untuk memberikan Iran waktu lebih untuk mengajukan “proposal terpadu”.
Sebelumnya, dilaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Trump memilih untuk mempertahankan blokade Angkatan Laut AS sebagai upaya menekan Iran terkait program nuklirnya, demikian dilaporkan Axios pada Rabu, 29 April 2026.
Trump menambahkan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap Iran dapat berlanjut hingga berbulan-bulan. Hal ini berpotensi menyebabkan lonjakan harga minyak ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun, yang diperkirakan akan bertahan hingga Kamis, 30 April 2026.
“Blokade ini sedikit lebih efektif dibandingkan pengeboman,” ujar Trump, menggambarkan situasi Iran sebagai “tercekik seperti babi yang dijejali.” Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut akan semakin memburuk bagi Iran.
Trump mengklaim bahwa Iran saat ini tengah berupaya mencari kesepakatan demi pencabutan blokade AS atas jalur pelayaran strategis tersebut.
Lebih lanjut, Trump menegaskan kembali penolakannya terhadap tawaran Iran untuk membuka Selat Hormuz dan menunda pembahasan nuklir. Prioritas utamanya tetap pada upaya pencegahan Iran agar tidak memiliki senjata nuklir.
Ia juga menyoroti dampak ketidakmampuan Iran untuk mengekspor minyak, yang menurutnya telah membuat infrastruktur negara tersebut “hampir meledak”.
Dalam konteks perkembangan terkini, Trump dijadwalkan akan menerima pengarahan pada hari Kamis mengenai rencana baru untuk potensi aksi militer di Iran. Pengarahan ini akan disampaikan oleh Laksamana Brad Cooper, kepala Komando Pusat AS, menurut dua sumber yang mengetahui informasi tersebut kepada Axios.
Baca juga di sini: Risiko Mengabaikan Batuk dan Sesak Napas pada Dewasa dan Lansia
Sementara itu, dalam upaya diplomasi yang terhenti, Trump sempat berbicara melalui telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Rabu. Putin dalam percakapan tersebut memberikan peringatan mengenai “konsekuensi yang merusak” apabila Amerika Serikat dan Israel melanjutkan perang mereka terhadap Iran.





