Iran Klaim Bisa Jadi Negara Adidaya Jika Menang Perang Melawan AS dan Israel

oleh -6 Dilihat
Iran Klaim Bisa Jadi Negara Adidaya Jika Menang Perang Melawan AS dan Israel

KabarDermayu.com – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa negaranya berpotensi menjadi negara superpower dan pemain penting di kancah internasional apabila berhasil memenangkan perang melawan Amerika Serikat dan Israel.

Pernyataan ini disampaikan Ghalibaf melalui pesan audio yang dirilis pada Rabu waktu setempat. Ia menekankan bahwa kemenangan dalam konflik tersebut akan membawa keuntungan signifikan bagi Iran, tidak terkecuali di sektor ekonomi.

“Kemenangan akhir dalam perang ini akan mengubah Iran menjadi pemain berpengaruh dalam sistem internasional, dan pencapaian itu akan membuka jalan bagi kemajuan material maupun spiritual negara,” ujar Ghalibaf, mengutip laporan dari laman presstv.ir pada Kamis, 7 Mei 2026.

Meskipun demikian, Ghalibaf tidak menampik bahwa rakyat Iran saat ini tengah menghadapi penderitaan akibat perang dan tekanan ekonomi yang menyertainya. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya persatuan dan solidaritas yang lebih kuat di antara masyarakat Iran.

Ia juga mengajak seluruh warga Iran untuk memberikan kontribusi dan berkorban demi tercapainya kemenangan negara. “Sekarang adalah waktunya bagi semua orang untuk saling membantu agar kita bisa mencapai tujuan besar berupa kemenangan dan kebanggaan bagi Iran tercinta dengan lebih sedikit kesulitan. Tentu saja, pencapaian sebesar ini pasti memiliki tantangan tersendiri,” katanya.

Dalam pesannya, Ghalibaf juga melontarkan tuduhan bahwa Amerika Serikat berharap tekanan ekonomi dan blokade laut yang diterapkan terhadap Iran dapat memicu perlawanan dari rakyat terhadap pemerintah mereka sendiri.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa sejarah telah membuktikan ketahanan rakyat Iran dalam menghadapi berbagai tekanan demi menjaga martabat negara dan keyakinan mereka.

Sebelumnya, Ghalibaf memimpin delegasi Iran dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat di Islamabad, Pakistan, pada tanggal 11 dan 12 April. Pertemuan tersebut diselenggarakan beberapa hari setelah Pakistan berhasil memediasi gencatan senjata untuk menghentikan agresi AS dan Israel terhadap Iran yang telah berlangsung sejak akhir Februari.

Baca juga: Wasit Laga Bayern vs PSG Dihujat Publik, Dua Klaim Penalti Diabaikan Picu Kemarahan Thierry Henry

Sayangnya, perundingan tersebut berakhir tanpa hasil. Ghalibaf dan sejumlah pejabat Iran menilai bahwa Amerika Serikat mengajukan tuntutan yang terlalu memberatkan untuk mencapai kesepakatan penghentian perang secara permanen.