Beban Berat Al Ghazali dan El Rumi Saat Kecil Akibat Perseteruan Orang Tua

oleh -10 Dilihat
Beban Berat Al Ghazali dan El Rumi Saat Kecil Akibat Perseteruan Orang Tua

KabarDermayu.com – Kisruh rumah tangga masa lalu antara musisi Ahmad Dhani dan Maia Estianty kembali mencuat ke permukaan. Di tengah riuhnya perbincangan mengenai konflik perceraian keduanya, sebuah kesaksian mengejutkan datang dari sosok yang mengaku sebagai mantan guru Sekolah Dasar (SD) dari putra-putra mereka, Al Ghazali dan El Rumi.

Pengakuan yang beredar luas di media sosial ini sontak memicu gelombang simpati dari publik. Sang mantan pendidik tersebut mengungkapkan bahwa Al dan El ternyata merasakan tekanan psikologis yang cukup signifikan semasa kecil. Hal ini disebabkan oleh konflik perceraian kedua orang tua mereka yang kala itu menjadi konsumsi publik.

Cerita ini bermula ketika El Rumi kembali menjadi sasaran komentar negatif dari warganet. Beberapa netizen menilai El kerap terlihat bengong atau kurang ekspresif. Menanggapi hal tersebut, seorang mantan tenaga pendidik mencoba memberikan perspektif yang berbeda mengenai kondisi mental kedua anak tersebut di masa kecil mereka.

“Yang mengatai El plonga-plongo. Saya pernah mengajar di SD tempat anak-anak Dhani dan Maia bersekolah. Kalau Dul, saya tidak kenal karena sudah resign. Namun, Al dan El saya kenal betul. Mereka masih kecil ketika orang tua mereka terlibat konflik besar,” tulis akun @intan_ir, yang kemudian diunggah ulang oleh akun TikTok @suchhhlive.

Baca juga: Perjanjian Rahasia AS-Iran untuk Gencatan Senjata di Timur Tengah

Menurut kesaksian tersebut, kehidupan Al dan El di lingkungan sekolah pada masa itu jauh dari kata nyaman. Konflik rumah tangga yang dihadapi orang tua mereka disebut memberikan dampak langsung terhadap aktivitas belajar dan keseharian mereka sebagai anak-anak.

Sang mantan guru menceritakan bahwa kehadiran media yang hampir setiap hari memadati lingkungan sekolah tersebut sangat mengganggu privasi Al dan El. Bahkan, kedua anak tersebut dilaporkan harus menggunakan jalur alternatif untuk menghindari sorotan para wartawan.

“Media sangat sering berada di sekolah, sampai-sampai mereka masuk dan keluar sekolah melalui jalan tikus. Jika ayahnya sedang dalam kondisi emosional dan tidak mengizinkan mereka berangkat, mereka tidak masuk sekolah. Laporan hasil belajar mereka pun tidak pernah diambil langsung oleh orang tua,” ungkapnya.

Lebih lanjut, mantan guru tersebut menilai bahwa kondisi pengasuhan yang tidak stabil turut menghambat perkembangan akademis Al dan El. Ia merasa bahwa tekanan emosional yang dialami kedua anak tersebut terlalu berat untuk ukuran usia mereka kala itu.

“Mereka tidak mendapatkan pengasuhan yang stabil. Untuk bisa berprestasi secara akademis saja sudah sulit. Menurut saya, mereka tidak menjadi terganggu secara mental saja sudah merupakan sebuah keajaiban,” imbuhnya.

Pernyataan yang diungkapkan oleh mantan guru tersebut segera memancing reaksi emosional dari banyak netizen. Banyak di antara mereka yang mengaku baru memahami alasan di balik sikap Al dan El yang terkadang terlihat pendiam atau canggung di depan publik.

Tidak sedikit pula komentar yang memuji bagaimana ketiga putra Maia Estianty tersebut akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang dianggap sopan dan bertanggung jawab. Hal ini patut diapresiasi mengingat mereka dibesarkan dalam situasi keluarga yang penuh sorotan publik.

Di tengah ramainya perbincangan mengenai kesaksian ini, Maia Estianty diketahui turut membagikan ulang unggahan tersebut melalui akun media sosialnya. Banyak netizen menduga Maia merasa tersentuh dengan pengakuan mantan guru yang pernah menyaksikan secara langsung perjuangan anak-anaknya dalam menghadapi masa sulit di tengah konflik keluarga yang begitu terbuka di hadapan publik.