KabarDermayu.com – Terdapat secercah harapan di tengah kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran sangat mungkin tercapai, namun ia juga memberi peringatan akan kembali membombardir Iran jika negosiasi menemui jalan buntu.
Pernyataan Trump ini muncul setelah Amerika Serikat mengajukan nota kesepahaman yang terdiri dari satu lembar. Dokumen ini diharapkan dapat membuka jalan bagi negosiasi antara kedua negara.
Hingga kini, Iran belum memberikan jawaban resmi atas proposal baru dari Amerika Serikat. Pimpinan negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, justru memperingatkan bahwa Amerika Serikat berupaya untuk memaksa Iran menyerah.
Meskipun demikian, kantor berita Reuters dan media Amerika Axios, mengutip beberapa sumber, melaporkan bahwa kedua negara semakin mendekati kesepakatan. Kesepakatan ini berbentuk memo satu halaman yang bertujuan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah sekaligus menjadi kerangka negosiasi nuklir yang lebih rinci.
Menurut sumber tersebut, kesepakatan final belum tercapai. Namun, situasi saat ini disebut sebagai momen terdekat menuju perdamaian sejak konflik dimulai. Para negosiator di Washington dilaporkan sedang menunggu respons Iran terkait poin-poin penting dalam waktu 48 jam ke depan.
Bocoran isi memo yang terdiri dari 14 poin utama ini sebagian besar berasal dari Washington dan pihak mediator dari Pakistan. Sementara itu, Iran masih bersikap hati-hati dan belum banyak berbicara secara terbuka.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Teheran hanya akan menerima kesepakatan yang adil dan menyeluruh. Pernyataan ini disampaikan tanpa menyinggung secara langsung draf memo yang beredar.
Bocoran Nota Kesepahaman Iran-AS
Menurut laporan Axios yang dikutip dari laman NDTV pada Jumat, 8 Mei 2026, salah satu isi kesepakatan adalah Iran akan menghentikan sementara pengayaan uranium. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat akan mencabut sanksi dan membuka akses terhadap miliaran dolar dana Iran yang selama ini dibekukan.
Selain itu, kedua pihak juga dikabarkan akan mengurangi pembatasan pelayaran di Selat Hormuz.
Dalam bentuknya saat ini, memo tersebut sengaja dibuat ringkas dan lebih berfungsi sebagai kerangka dasar, bukan perjanjian lengkap. Dokumen ini nantinya akan menandai berakhirnya perang di kawasan serta dimulainya negosiasi selama 30 hari untuk membahas detail kesepakatan lebih lanjut.
Baca juga: Gaya Simpel dan Menarik dengan Sneakers Low Profile
Negosiasi lanjutan tersebut kemungkinan akan digelar di Islamabad atau Jenewa.
Laporan Axios juga menyebutkan bahwa kedua pihak masih membahas lamanya moratorium pengayaan uranium. Sejumlah sumber memperkirakan durasinya berada di kisaran 12 hingga 15 tahun.
Sebelumnya, Iran mengusulkan penghentian pengayaan selama lima tahun, sementara Amerika Serikat meminta durasi hingga 20 tahun.
Amerika Serikat juga ingin memasukkan klausul bahwa jika Iran melanggar aturan pengayaan uranium, masa moratorium akan diperpanjang. Setelah masa tersebut berakhir, Iran disebut hanya diizinkan melakukan pengayaan uranium pada level rendah, sekitar 3,67 persen.
Selain itu, Iran juga diminta berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir maupun aktivitas yang berkaitan dengan persenjataan nuklir.
Memo tersebut dikabarkan juga memuat klausul yang melarang Iran mengoperasikan fasilitas nuklir bawah tanah. Klausul ini juga mewajibkan pengawasan yang lebih ketat, termasuk inspeksi mendadak oleh inspektur PBB.
Di sisi lain, Amerika Serikat diwajibkan untuk secara bertahap mencabut sanksi terhadap Iran dan mencairkan dana Iran yang dibekukan di berbagai negara.
Dua sumber lain juga mengungkapkan bahwa Iran kemungkinan akan diminta untuk memindahkan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi keluar dari negaranya. Hal ini merupakan sesuatu yang selama ini ditolak oleh Teheran. Salah satu opsi yang dibahas adalah memindahkan material tersebut ke Amerika Serikat.
Masih ‘Mengambang’
Meskipun demikian, banyak poin dalam memo 14 pasal tersebut masih bergantung pada tercapainya kesepakatan final antara Teheran dan Washington. Ini berarti, konflik baru atau ketegangan berkepanjangan masih bisa terjadi, meskipun perang terbuka telah berhenti.
Memo kesepahaman yang disebut sebagai inisiatif Amerika Serikat ini dikabarkan dinegosiasikan oleh utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, bersama sejumlah pejabat Iran, baik secara langsung maupun melalui mediator.
Namun, pemerintahan Trump disebut menilai kepemimpinan Iran saat ini sedang terpecah belah, sehingga sulit untuk mencapai kesepakatan antara kelompok moderat dan garis keras. Bahkan, beberapa pejabat AS masih ragu bahwa kesepakatan awal benar-benar bisa tercapai.
Pernyataan Kubu AS
Trump menyatakan bahwa jika Iran menerima apa yang telah disepakati, maka perang akan berakhir. Namun, jika tidak, pemboman akan kembali dilakukan dengan tingkat dan intensitas yang jauh lebih besar.
“Kami melakukan pembicaraan yang sangat baik dalam 24 jam terakhir dan sangat mungkin kami mencapai kesepakatan,” kata Trump kepada wartawan.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, juga mengatakan bahwa kesepakatan final tidak harus selesai dalam satu hari.
“Ini sangat kompleks dan teknis. Tetapi kami membutuhkan solusi diplomatik yang jelas terkait apa saja yang bersedia mereka negosiasikan dan sejauh mana konsesi yang siap mereka berikan,” ujarnya.
Meskipun demikian, Rubio juga sempat menyebut para pemimpin Iran “tidak waras” dan meragukan apakah mereka benar-benar akan membuat kesepakatan.
Respon Iran
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan bahwa proposal Amerika Serikat masih dalam tahap peninjauan.
Ia menambahkan bahwa Iran akan menyampaikan sikap resminya kepada mediator Pakistan setelah pembahasan internal selesai dilakukan.





