KabarDermayu.com – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memuncak setelah militer Iran dilaporkan melancarkan serangan rudal terhadap tiga kapal perang AS. Tindakan ini disebut sebagai balasan atas serangan pasukan AS terhadap sebuah kapal tanker minyak di perairan Iran.
Insiden ini menambah pelik situasi gencatan senjata yang sebelumnya telah rapuh antara kedua negara. Situasi semakin memanas ketika Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran menuding Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Iran mengklaim bahwa serangan udara AS menyasar wilayah sipil, termasuk Pulau Qeshm. Teheran juga menyebut bahwa serangan tersebut dilakukan atas kerjasama dengan beberapa negara di kawasan, meskipun tidak merinci negara mana saja yang dimaksud.
“Militer agresor, teroris, dan perampok Amerika, dengan melanggar gencatan senjata, telah menargetkan sebuah kapal tanker minyak Iran,” demikian bunyi pernyataan militer Iran, seperti dikutip dari Al Jazeera pada Jumat, 8 Mei 2026.
Pernyataan tersebut juga mengklaim bahwa serangan balasan Iran telah menyebabkan kerusakan signifikan pada kapal-kapal milik Amerika Serikat. Iran menegaskan kesiapannya untuk memberikan respons yang jauh lebih kuat terhadap agresi AS di masa mendatang.
Baca juga: Semua Klaim Ahmad Dhani Dibantah Sosok Ini, El Rumi Beri Pesan Menyentuh untuk Irwan Mussry
“Amerika yang kriminal dan agresor beserta negara-negara pendukungnya harus mengetahui bahwa Republik Islam Iran, seperti sebelumnya, akan memberikan respons yang menghancurkan terhadap setiap agresi tanpa sedikit pun keraguan,” lanjut keterangan militer Iran.
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengonfirmasi bahwa pasukan Iran menggunakan berbagai jenis persenjataan. Ini termasuk rudal balistik, rudal jelajah antikapal, serta drone penghancur dengan hulu ledak tinggi dalam respons mereka terhadap pelanggaran gencatan senjata oleh AS.
Di sisi lain, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa mereka berhasil mencegat serangan Iran yang dianggap tidak diprovokasi. CENTCOM juga menegaskan bahwa mereka melakukan serangan balasan untuk membela diri.
“Mereka tidak berhasil mengenai aset milik AS,” ujar CENTCOM dalam pernyataannya. Mereka juga menekankan bahwa Amerika Serikat tidak mencari eskalasi lebih lanjut dan akan tetap siap melindungi pasukan mereka.
Bentrok ini merupakan respons militer pertama Iran terhadap blokade pelabuhan-pelabuhan mereka oleh Amerika Serikat. Dalam beberapa pekan terakhir, militer AS dilaporkan telah menyita sejumlah kapal Iran dan memerintahkan puluhan kapal lainnya untuk mengubah arah.
Blokade laut tersebut menjadi bagian dari kampanye tekanan yang dilancarkan oleh Presiden Donald Trump terhadap Iran sejak gencatan senjata mulai berlaku bulan lalu. Hal ini semakin meningkatkan ketegangan di kawasan.
Sejumlah media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran melaporkan adanya ledakan yang terdengar di pelabuhan Pulau Qeshm, Bandar Abbas, dan kota pesisir selatan Minab. Laporan-laporan ini menambah bukti adanya eskalasi militer.
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, mengutip sumber senior yang menyatakan bahwa tiga kapal perusak Angkatan Laut AS terkena tembakan Iran dan terpaksa mundur ke arah Teluk Oman. Informasi ini menambah detail mengenai dampak serangan Iran.
Bentrokan ini terjadi di tengah laporan bahwa Washington dan Teheran sedang terlibat dalam pembicaraan intensif untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Namun, insiden ini dapat mengancam upaya-upaya perdamaian tersebut.
Awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump dilaporkan memerintahkan operasi untuk mematahkan blokade Iran di Selat Hormuz. Tindakan ini memicu ketegangan tinggi dan membuat gencatan senjata berada di ambang kehancuran.
Pada hari Senin sebelumnya, AS mengklaim telah menembak jatuh tujuh drone kecil milik Iran. Sementara itu, Iran dilaporkan kembali melancarkan serangan drone dan rudal terhadap Uni Emirat Arab, yang menunjukkan adanya peningkatan eskalasi dari kedua belah pihak.





