Deddy Corbuzier Bela Ibu Terkait Saran Menteri PPPA Soal Gerbong KRL Khusus Pria

oleh -7 Dilihat
Deddy Corbuzier Bela Ibu Terkait Saran Menteri PPPA Soal Gerbong KRL Khusus Pria

KabarDermayu.com – Pernyataan kontroversial Deddy Corbuzier mengenai usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) terkait penataan gerbong KRL menjadi sorotan publik.

Dalam unggahannya di Instagram, Deddy Corbuzier menyampaikan dukungannya dengan nada sarkasme yang kental. Ia menyatakan akan membela mati-matian Menteri PPPA apabila kebijakan tersebut benar-benar diterapkan.

Usulan ini muncul sebagai respons terhadap insiden kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur. Tujuannya adalah untuk meningkatkan aspek keamanan, khususnya bagi penumpang perempuan, dengan memindahkan gerbong khusus mereka ke bagian tengah rangkaian KRL.

Namun, wacana ini justru memicu perdebatan dan pro kontra di masyarakat. Deddy Corbuzier menangkap adanya potensi kritik terselubung dalam dukungannya tersebut. Ia merasa perlu untuk mengkritisi logika di balik kebijakan yang diusulkan, yang menurutnya bisa berbenturan dengan narasi kesetaraan gender.

“Saya, Bu akan bela Ibu. Saya akan bela Ibu, Bu. Mati-matian saya akan bela Ibu, Bu. Kenapa? Ya, pertama saya juga udah dianggap rezim ya kan, Bu? Kedua, saya dianggap toxic maskulinity. Ketiga, gua tuh patriarki, Bu. Maka saya akan bela Ibu. Saya akan bela Ibu,” ujar Deddy Corbuzier, mengutip video di akun Instagramnya pada Jumat, 1 Mei 2026.

Pernyataan ini segera menarik perhatian karena dianggap lebih dari sekadar dukungan, melainkan sebuah kritik halus terhadap kebijakan tersebut. Deddy menyoroti bagaimana peran laki-laki dalam melindungi perempuan, yang secara tradisional sering digaungkan, dapat bertentangan dengan prinsip kesetaraan gender yang kini semakin diperjuangkan.

Ia mengingatkan bahwa kebijakan pemisahan berdasarkan gender, meskipun bertujuan baik, bisa menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi dalam isu kesetaraan. Terutama, jika dalam praktik transportasi publik masih ada pembedaan yang jelas antar gender untuk tujuan keamanan.

“Naik genteng harus dua-duanya bisa. Angkat galon harus dua-duanya bisa. Pria pun begitu, harus segender. Nah, itu nanti ibu akan kena,” ungkap Deddy Corbuzier, menyindir potensi kritik yang akan datang.

Lebih lanjut, Deddy Corbuzier juga mengemukakan pandangannya mengenai aspek teknis keamanan. Ia berpendapat bahwa penempatan gerbong di bagian tengah rangkaian KRL belum tentu menjamin keamanan mutlak.

Menurutnya, potensi kecelakaan bisa datang dari berbagai arah, termasuk benturan dari samping yang justru lebih berisiko mengenai bagian tengah kereta. Ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas penempatan gerbong di posisi tersebut sebagai solusi keamanan.

Sebagai penutup yang semakin mengundang tawa sekaligus pemikiran, Deddy Corbuzier melontarkan sebuah solusi bernada satire. Ia menyarankan bahwa posisi paling aman bagi perempuan adalah “di atas”.

“Taruhlah wanita-wanita tersebut di posisi yang paling bagus. Wanita harus berada di atas di atas, Bu. Taruhnya enggak ada kecelakaan dari atas, Bu. Dan kalau seksis, woman on top gitu, Bu,” ucapnya, mengakhiri komentarnya dengan gaya khasnya yang provokatif namun cerdas.

Respons publik terhadap usulan kebijakan ini mengalir deras di berbagai platform media sosial. Banyak warganet yang menyuarakan pendapat bahwa usulan tersebut terkesan kurang matang dan belum mempertimbangkan berbagai aspek secara komprehensif.

Baca juga di sini: Nottingham Forest Bungkam Aston Villa Berkat Gol Chris Wood dan Aksi Ortega

Penting untuk dicatat bahwa dalam artikel asli, terdapat tautan ke artikel lain yang membahas cerita ayah korban tewas kecelakaan kereta di Bekasi. Namun, sesuai aturan, informasi tersebut tidak dapat ditambahkan atau diubah karena bukan merupakan bagian dari inti artikel yang diparafrase.