Harga Minyak Dunia Anjlok, AS Lanjutkan Perundingan dengan Iran

oleh -6 Dilihat
Harga Minyak Dunia Anjlok, AS Lanjutkan Perundingan dengan Iran

KabarDermayu.com – Pasar energi global kembali menunjukkan dinamika yang signifikan setelah munculnya sinyal positif dari Amerika Serikat terkait tensi geopolitik dengan Iran. Harga Minyak Dunia mengalami koreksi tajam, dengan penurunan mencapai lebih dari 5 persen, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memutuskan untuk membatalkan rencana serangan militer terhadap Teheran dan memilih untuk membuka kembali pintu perundingan damai.

Keputusan strategis tersebut disambut baik oleh para pelaku pasar yang sebelumnya dihantui kekhawatiran akan terjadinya gangguan pasokan energi secara masif. Konflik yang sempat memanas di kawasan Timur Tengah memang menjadi katalis utama kenaikan harga energi dalam beberapa waktu terakhir, terutama karena melibatkan Selat Hormuz, jalur krusial bagi distribusi minyak mentah dunia.

Hingga Senin pukul 06.05 GMT (13.05 WIB), harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional tercatat berada di level 83,40 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi tolok ukur pasar AS, mengalami tekanan lebih dalam dengan penurunan sebesar 6 persen, sehingga diperdagangkan di angka 79,60 dolar AS per barel.

Latar Belakang Konflik dan Diplomasi

Ketegangan antara Washington dan Teheran sempat membuat harga komoditas ini melonjak hingga 25 persen sepanjang bulan Juli. Kenaikan drastis tersebut dipicu oleh kegagalan kesepakatan damai sementara yang memperburuk ketidakpastian pasokan dari wilayah Laut Merah hingga Selat Hormuz. Keadaan ini menciptakan sentimen negatif yang mendorong harga minyak dunia terus merangkak naik selama beberapa pekan terakhir.

Namun, perubahan sikap AS kali ini dipengaruhi oleh tekanan dari sekutu utamanya di kawasan tersebut. Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa Arab Saudi dan sejumlah sekutu AS lainnya telah mendesak agar prioritas diberikan pada jalur diplomasi daripada tindakan militer. Selain itu, Trump kembali menegaskan desakannya agar Selat Hormuz segera dibuka kembali untuk memastikan kelancaran arus perdagangan energi global.

Dampak pada Produksi dan Pasokan

Selain faktor geopolitik, pasar minyak juga tengah mencermati kebijakan dari kelompok negara produsen minyak, OPEC+. Saat ini, OPEC+ telah menyetujui peningkatan kuota produksi secara terbatas sebagai langkah pemulihan setelah pemangkasan yang dilakukan pada 2023 lalu.

Para analis melihat bahwa peluang untuk meningkatkan pasokan lebih lanjut sangat bergantung pada stabilitas di Timur Tengah. Jika perundingan damai antara AS dan Iran membuahkan hasil yang konkret, OPEC+ diprediksi akan lebih leluasa dalam menambah volume produksi minyak ke pasar dunia. Hal ini tentu akan memberikan tekanan tambahan bagi penurunan harga minyak, yang pada gilirannya dapat membantu menekan inflasi energi global.

“Langkah AS untuk memilih perundingan dibandingkan aksi militer menjadi angin segar bagi stabilitas harga energi. Pasar saat ini membutuhkan kepastian, bukan eskalasi yang dapat mengganggu rantai pasok global,” ujar pengamat energi.

Meskipun situasi tampak mendingin, ketegangan di Selat Hormuz tetap menjadi sorotan utama. Iran sendiri sempat membantah adanya perundingan langsung dengan AS terkait jalur pelayaran tersebut, dan lebih memilih bekerja sama dengan Oman untuk mengelola jalur pelayaran sementara. Dinamika diplomatik ini akan terus dipantau ketat oleh para investor karena dampaknya yang sangat besar terhadap stabilitas harga minyak dunia di masa depan.