KabarDermayu.com – Insiden tragis yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Cikarang Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, telah menimbulkan duka mendalam. Data terkini mencatat 15 korban meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka.
Seluruh korban segera mendapatkan penanganan medis di berbagai rumah sakit di sekitar Bekasi, termasuk RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan penting di benak publik: mengapa KA Argo Bromo tidak bisa berhenti seketika untuk menghindari tabrakan? Pertanyaan yang lebih mendasar pun muncul, mengapa kereta api secara umum memiliki keterbatasan dalam melakukan pengereman mendadak?
Menanggapi isu ini, PT Kereta Api Indonesia (KAI) pernah memberikan penjelasan resmi pada tahun 2023. Klarifikasi ini disampaikan setelah terjadinya insiden kecelakaan antara kereta api dan truk di Semarang serta Bandar Lampung pada 18 Juli 2023.
Pada saat itu, Joni Martinus, yang menjabat sebagai Vice President Public Relation KAI, menjelaskan bahwa sistem pengereman pada kereta api dirancang sedemikian rupa sehingga membutuhkan jarak tempuh tertentu agar dapat berhenti sepenuhnya.
“Berbeda dengan transportasi darat pada umumnya, kereta api memiliki karakteristik yang secara teknis tidak dapat dilakukan pengereman secara mendadak,” tegas Joni Martinus dalam keterangan resminya pada Jumat, 21 Juli 2023.
Faktor yang Mempengaruhi Keterbatasan Pengereman Mendadak Kereta Api
Joni lebih lanjut merinci alasan mengapa kereta api tidak mampu melakukan pengereman mendadak. Faktor utama yang memengaruhi adalah dimensi dan bobot rangkaian kereta api.
Semakin panjang dan berat sebuah rangkaian kereta, semakin jauh pula jarak yang dibutuhkan untuk menghentikannya secara total. Di Indonesia, satu rangkaian kereta api umumnya terdiri dari 8 hingga 12 gerbong, dengan bobot yang bisa mencapai 600 ton.
Perlu dicatat bahwa bobot ini belum termasuk berat penumpang dan barang bawaan mereka. Dalam kondisi seperti itu, dibutuhkan energi yang sangat besar untuk menghentikan pergerakan rangkaian kereta api.
Faktor kedua yang krusial adalah sistem pengereman yang umum digunakan, yaitu rem udara. Cara kerja rem ini melibatkan proses kompresi udara yang kemudian disimpan hingga saat pengereman diaktifkan.
Ketika masinis mengaktifkan sistem pengereman, udara yang terkompresi tersebut akan didistribusikan melalui pipa-pipa kecil yang terhubung ke setiap roda. Distribusi udara ini menciptakan friksi pada roda, yang secara bertahap akan memperlambat dan menghentikan laju kereta.
Joni menjelaskan bahwa meskipun kereta api dilengkapi dengan rem darurat, fungsinya bukan untuk menghentikan kereta secara instan. Rem darurat justru bekerja dengan menghasilkan energi dan tekanan udara yang lebih besar untuk mempercepat proses perlambatan.
Baca juga di sini: Pabrik Oksigen Satu-satunya di Gaza Terancam Berhenti Beroperasi
“Jadi, meskipun masinis telah melihat ada yang menerobos palang kereta dan segera melakukan proses pengereman, tetap akan dibutuhkan suatu jarak pengereman agar benar-benar berhenti. Hal inilah yang nantinya menyebabkan kejadian tabrakan, apabila jarak pengereman tidak terpenuhi,” pungkasnya.





