PHK Massal Melanda Sektor Teknologi: April 2026 Jadi Titik Terburuk

oleh -4 Dilihat
PHK Massal Melanda Sektor Teknologi: April 2026 Jadi Titik Terburuk

KabarDermayu.com – Sektor teknologi global tengah dilanda gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang signifikan. Lebih dari 92.000 karyawan dari 98 perusahaan di seluruh dunia telah kehilangan pekerjaan mereka. Bulan April 2026 tercatat sebagai bulan terburuk dalam dua tahun terakhir, dengan angka PHK mencapai 45.800 karyawan.

Perusahaan teknologi raksasa seperti Meta Platforms, Microsoft, Amazon, Oracle, dan Snap kompak melakukan efisiensi tenaga kerja. Fenomena ini menciptakan gelombang PHK masif yang belum pernah terjadi sejak fase koreksi industri pasca-pandemi yang berlangsung pada tahun 2022-2023.

Alasan utama yang sering dikemukakan oleh perusahaan-perusahaan besar adalah lonjakan investasi pada kecerdasan buatan (AI). Perusahaan teknologi kini berlomba-lomba mengalokasikan dana besar untuk membangun pusat data dan infrastruktur komputasi. Akibatnya, mereka perlu memangkas biaya, termasuk biaya tenaga kerja.

Meta Platforms Pangkas Ribuan Karyawan

Meta Platforms, perusahaan yang dipimpin oleh Mark Zuckerberg, menjadi salah satu korporasi teknologi dengan jumlah PHK terbesar. Pada tanggal 22 April 2026, induk perusahaan Facebook dan Instagram ini mengumumkan rencana perampingan karyawan sekitar 8.000 orang.

Jumlah ini setara dengan 10 persen dari total tenaga kerja global Meta, dan prosesnya akan dimulai pada tanggal 20 Mei 2026. Selain itu, sekitar 6.000 posisi kosong tidak akan diisi kembali.

CEO Mark Zuckerberg secara terbuka menyampaikan kepada karyawan bahwa perusahaan harus membuat pilihan antara belanja infrastruktur AI dan biaya tenaga kerja. Manajemen Meta menganggarkan belanja modal (capex) hingga US$135 miliar untuk ekspansi AI.

“Kami memiliki dua pusat biaya utama: infrastruktur komputasi dan karyawan. Jika kami meningkatkan satu, maka kami harus mengurangi yang lain,” ujar Zuckerberg, dikutip dari Times of India pada Senin, 4 Mei 2026.

Snap dan Microsoft Kompak Efisiensi Tenaga Kerja

Snap juga mengambil langkah drastis dengan memangkas sekitar 1.000 karyawan, atau 16 persen dari total tenaga kerjanya. Perusahaan menilai bahwa AI mampu menghasilkan lebih dari 65 persen kode baru, sehingga kebutuhan tim menjadi lebih kecil.

Sementara itu, Microsoft memilih pendekatan yang berbeda. Perusahaan menawarkan program pensiun dini atau buyout kepada sekitar 7 persen karyawannya di Amerika Serikat. Meskipun terlihat bersifat sukarela, perusahaan menegaskan bahwa jumlah tenaga kerja tetap akan berkurang.

Amazon dan Oracle Lakukan PHK Demi Menekan Biaya

Amazon mencatatkan pemangkasan terbesar secara kumulatif, yakni mencapai sekitar 30.000 tenaga kerja dalam enam bulan terakhir. PHK ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi birokrasi dan merampingkan organisasi.

Oracle juga menghadapi tekanan serupa seiring dengan investasi besar pada AI yang belum menghasilkan imbal balik yang sepadan. Hal ini memaksa perusahaan untuk menekan biaya operasional. Beban utang yang meningkat juga menjadi perhatian investor, yang mendorong perusahaan untuk melakukan efisiensi, termasuk pengurangan karyawan.

Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan besar dalam model bisnis industri teknologi. Perusahaan kini berlomba untuk menjadi lebih ramping demi mendanai transformasi berbasis AI.

Baca juga: Huawei WiFi Mesh X3 Pro: Performa Andal di Bawah Beban

Di balik transformasi tersebut, realitasnya jelas bahwa puluhan ribu pekerja kehilangan pekerjaan dalam waktu singkat. Hingga kini, total lebih dari 92.000 pekerja telah terdampak, dan jumlah ini diperkirakan masih akan terus bertambah.