KabarDermayu.com – Upaya mitigasi dampak lingkungan skala besar tengah dilakukan secara intensif di perairan Pulau Semau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak lima hingga enam ton tumpahan oli yang berasal dari proses pengangkatan bangkai kapal KM Kuala Emas kini terus dibersihkan oleh tim gabungan guna mencegah meluasnya kerusakan ekosistem laut.
Direktur Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda NTT, Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution, menegaskan bahwa pihaknya tidak bekerja sendiri dalam menangani insiden ini. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama, melibatkan kontraktor terkait, instansi pemerintah, serta partisipasi aktif dari masyarakat pesisir setempat yang turut terdampak langsung oleh ceceran minyak tersebut.
Strategi Pembersihan dan Teknologi yang Digunakan
Untuk mempercepat proses pembersihan, otoritas terkait telah meningkatkan kapasitas armada operasional di lapangan. Jumlah perahu yang dikerahkan untuk menyisir lokasi tumpahan minyak kini telah ditambah dari dua unit menjadi empat unit perahu.
Berbagai metode teknis juga diterapkan untuk memastikan limbah oli tidak mencemari wilayah yang lebih luas, di antaranya:
- Pemasangan oil boom untuk melokalisasi penyebaran minyak di permukaan air.
- Penggunaan oil absorbent pads guna menyerap tumpahan secara efektif.
- Penyemprotan oil dispersant untuk mengurai partikel minyak.
- Penyedotan langsung minyak yang terperangkap di titik-titik krusial sekitar bangkai kapal.
Dampak pada Ekonomi Masyarakat Pesisir
Tumpahan Marine Fuel Oil (MFO) ini tidak hanya menjadi ancaman bagi biota laut, tetapi juga menyentuh sektor ekonomi warga. Camat Semau, Morifali Y.E Mesakh, melaporkan bahwa ceceran minyak telah mencemari area budidaya rumput laut milik warga di Desa Huilelot.
“Kawasan budidaya yang terdampak berada di sepanjang pesisir Pantai Tahasa, Katabak hingga Batuhopon dengan panjang sekitar 6 kilometer,” jelas laporan tersebut.
Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius, mengingat sektor rumput laut merupakan salah satu tumpuan hidup masyarakat pesisir di wilayah tersebut. Pihak berwenang saat ini terus melakukan penyisiran lanjutan di berbagai titik, termasuk kawasan Hansisi, Pelabuhan Ferry Semau, Pelabuhan Rakyat Semau, hingga Pulau Kambing.
Proses Pengawasan dan Investigasi Lanjutan
Hingga saat ini, pemantauan ketat masih terus berlangsung. Ditpolairud Polda NTT bersama Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) serta pemerintah daerah terus berkoordinasi untuk memastikan efektivitas pembersihan. Fokus utama saat ini adalah memulihkan kondisi perairan agar kembali aman bagi aktivitas warga dan kelangsungan ekosistem laut.
Di sisi lain, pihak kontraktor yang bertanggung jawab atas pengangkatan KM Kuala Emas diwajibkan untuk menuntaskan investigasi teknis. Langkah ini diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab pasti kebocoran MFO agar insiden serupa tidak terulang di masa depan. Pemerintah berkomitmen untuk terus mendampingi proses ini hingga perairan Pulau Semau dinyatakan benar-benar bersih dan layak untuk aktivitas masyarakat maupun budidaya kelautan.





