Timnas U-17 Era Kurniawan Jauh di Bawah Nova Arianto, Kata Bung Ropan

oleh -6 Dilihat
Timnas U-17 Era Kurniawan Jauh di Bawah Nova Arianto, Kata Bung Ropan

KabarDermayu.com – Pengamat sepak bola nasional, Bung Ropan, memberikan sorotan tajam terhadap kegagalan Timnas Indonesia U-17 melaju ke putaran final Piala Dunia U-17 2026. Ia menilai kualitas skuad asuhan Kurniawan Dwi Yulianto ini berada jauh di bawah generasi yang sebelumnya ditangani Nova Arianto.

Dalam sebuah ulasan di kanal YouTube pribadinya, Bung Ropan mengemukakan bahwa penampilan Timnas Indonesia U-17 di Piala Asia U-17 2026 menunjukkan adanya penurunan kualitas yang sangat mencolok jika dibandingkan dengan tim sebelumnya.

“Memang kalau dibandingkan dengan timnya Nova jauh ya kelasnya, memang kelihatan sekali untuk kualitas pemain itu seperti ada gap yang luar biasa,” ujar Bung Ropan, menyoroti perbedaan level tersebut.

Ia kemudian membandingkan dengan generasi Timnas U-17 di bawah kepelatihan Nova Arianto. Bung Ropan mengingatkan bahwa pada Piala Dunia U-17 sebelumnya, Indonesia mampu memberikan perlawanan sengit kepada tim-tim kuat meskipun berada di grup yang sulit.

“Karena sebelumnya Indonesia di bawah Coach Nova Arianto kan kita kemarin itu terakhir di Qatar hadir di Piala Dunia, bahkan walaupun berada di grup keras kita memberikan perlawanan sengit terhadap tim-tim kuat termasuk Brasil dan menang melawan Honduras,” kenangnya.

Bung Ropan juga mengamati bahwa Timnas U-17 saat ini terkesan terlalu bergantung pada beberapa pemain diaspora. Ia menyebutkan bahwa kehadiran pemain seperti Matthew Baker dan Mike Rajasa sangat krusial bagi tim.

Menurutnya, Indonesia akan menghadapi kesulitan besar untuk meraih kemenangan, bahkan melawan tim sekelas China, apabila kedua pemain diaspora tersebut tidak dapat tampil.

Ia pun mendorong Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk segera melakukan evaluasi mendalam terhadap sistem pembinaan usia muda di tanah air. Salah satu langkah yang disarankan adalah menggulirkan kompetisi berjenjang untuk kelompok usia muda.

Tujuannya adalah agar kualitas pemain muda Indonesia dapat berkembang secara konsisten dan berkelanjutan. “Sudah waktunya bagi PSSI untuk memikirkan roda kompetisi di U-15 mungkin atau di U-17 sehingga kita punya pemain-pemain yang bagus,” tegas Bung Ropan.

Meskipun demikian, Bung Ropan tidak lupa memberikan apresiasi atas sikap Kurniawan Dwi Yulianto yang berani mengambil tanggung jawab atas kegagalan timnya di Piala Asia U-17 2026.

“Ini suatu sikap yang elegan dari seorang Kurniawan karena memang sebagai pelatih wajib dan wajar untuk bertanggung jawab,” pungkasnya, mengakui profesionalisme sang pelatih.

Harapan Timnas Indonesia U-17 untuk berlaga di putaran final Piala Dunia U-17 2026 harus kandas setelah menelan kekalahan 1-3 dari Jepang di laga pamungkas Grup B Piala Asia U-17 2026. Kekalahan ini memastikan langkah Garuda Muda terhenti di turnamen tersebut.

Pertandingan yang digelar di King Abdullah Sport City Training Stadium, Jeddah, Arab Saudi, pada Selasa, 12 Mei 2026, membuat Indonesia harus puas berada di posisi juru kunci klasemen Grup B dengan total tiga poin.

Sementara itu, Jepang tampil dominan sebagai juara grup dengan raihan sembilan poin sempurna. China menyusul di posisi kedua dengan enam poin. Kedua tim ini berhak melaju ke babak selanjutnya dan sekaligus mengunci tempat di Piala Dunia U-17 2026.

Baca juga: Trump dan Xi Sepakat Selat Hormuz Tak Boleh Ditutup Iran

Menanggapi hasil yang mengecewakan ini, pelatih Timnas Indonesia U-17, Kurniawan Dwi Yulianto, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia. Ia menyatakan bertanggung jawab penuh atas pencapaian timnya di kompetisi level Asia tersebut.

“Atas nama pribadi dan juga sebagai pelatih kepala, sebagai penanggung jawab di tim ini, saya mohon maaf atas kegagalan ini,” ujar Kurniawan di Jakarta pada Rabu, 13 Mei 2026, seperti dikutip dari Antara.

Meskipun target tidak tercapai, Kurniawan tetap menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pemain dan staf pelatih atas kerja keras yang telah ditunjukkan sejak masa persiapan hingga selesainya fase pertandingan.

Ia menekankan bahwa perjalanan para pemain muda Indonesia masih sangat panjang. Kurniawan berpesan agar anak asuhnya tidak terlalu larut dalam kekecewaan, mengingat kegagalan di level junior bukanlah akhir dari segalanya.

“Saya berpesan kepada mereka bahwa ini bukan akhir dari segalanya. Karier mereka masih panjang, terus berlatih, menjadi pemain profesional sejati dan berharap bisa tampil di tim nasional level berikutnya, dan pada akhirnya bisa bermain di timnas senior,” pesannya.

Dalam pertandingan melawan Jepang, timnas Indonesia sebenarnya sempat menunjukkan perlawanan. Namun, dominasi permainan dari tim Samurai Biru membuat Garuda Muda kesulitan untuk mengembangkan permainan sejak awal laga.

Jepang berhasil mencetak gol pembuka pada menit ke-28 melalui sontekan Ryoma Tsuyoneshi. Memasuki paruh kedua, kapten tim Takeshi Wada menggandakan keunggulan menjadi 2-0 pada menit ke-58.

Indonesia sempat memperkecil ketertinggalan melalui tendangan bebas yang dieksekusi dengan baik oleh Peres Tjoe pada menit ke-70. Sayangnya, hanya berselang dua menit, Arata Okamoto kembali mencetak gol untuk Jepang, memastikan kemenangan 3-1 bagi timnya.

Hasil ini menandai sebuah kemunduran bagi Indonesia jika dibandingkan dengan edisi sebelumnya. Pada Piala Asia U-17 2025, Garuda Muda berhasil mencapai babak perempat final, yang sekaligus mengamankan tiket ke Piala Dunia U-17 2025.

Kini, harapan untuk melihat Garuda Muda bertarung di Piala Dunia U-17 2026 harus pupus. Kegagalan di Piala Asia U-17 2026 ini menjadi pelajaran penting bagi pembinaan sepak bola usia muda di Indonesia.

Perbandingan dengan tim yang ditangani Nova Arianto, yang berhasil lolos ke Piala Dunia sebelumnya, semakin menyoroti adanya kesenjangan kualitas yang perlu segera diatasi oleh PSSI.

Evaluasi menyeluruh terhadap program pembinaan, termasuk pentingnya kompetisi usia muda yang terstruktur, menjadi agenda krusial agar Indonesia dapat kembali menghasilkan talenta-talenta sepak bola yang mampu bersaing di kancah internasional.

Meskipun demikian, semangat juang para pemain muda dan tanggung jawab yang diambil oleh pelatih Kurniawan patut diapresiasi. Diharapkan kegagalan ini menjadi motivasi untuk bangkit dan memperbaiki diri di masa mendatang.