KabarDermayu.com – KH Abdussalam Shohib, yang akrab disapa Gus Salam, baru-baru ini melakukan kunjungan silaturahmi ke Pesantren Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Dalam kunjungannya, ia berkesempatan bertemu dengan KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy dan Wakil Rais Aam PBNU, KH Afifuddin Muhajir.
Gus Salam menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian safari silaturahmi yang telah dilakukannya selama dua hari di wilayah Madura, serta kepada para masyayikh NU dan pengasuh pesantren di Jawa Timur.
Ia mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan tersebut. “Saya ngaji dalam majelis rutin alumni di Bangkalan. Sekalian sowan silaturahmi ke masyayikh sepuh di Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Lalu ke Situbondo, nanti ke Paiton dan Sidoarjo,” kata Gus Salam dalam keterangannya yang dikutip pada Kamis, 14 Mei 2026.
“Di Situbondo saya berkesempatan ‘ngaji’ tentang NU kepada Kiai Afifuddin Muhajir. Luar biasa pandangan beliau mengenai peran strategis NU ke depan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Gus Salam membeberkan tiga pesan penting yang disampaikan oleh KH Afifuddin Muhajir. Pesan-pesan ini ditekankan sebagai arah pergerakan dan perjuangan strategis bagi NU di masa mendatang. Pertama, NU diharapkan dapat menjadi benteng Islam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Baca juga: Bung Ropan: Kurniawan Jauh di Atas Nova Arianto, Garuda Muda Gagal ke Final Piala Dunia U-17
Selain itu, NU juga diharapkan mampu menjaga moral bangsa serta menjadi pelindung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pesan ini menekankan pentingnya NU dalam menjaga nilai-nilai keislaman yang moderat, mengajarkan prinsip rahmatan lil ‘alamin, serta menerima Pancasila dalam kerangka NKRI.
Gus Salam menambahkan bahwa NU harus bisa meneladankan moralitas yang baik bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini penting agar NU dapat berfungsi sebagai sistem pertahanan ideologis bagi negara.
“NU harus kokoh memegang prinsip seperti Gus Dur, namun tetap lentur dalam bersikap. Terbuka dalam pemikiran, namun tidak melompati pagar pembatas akidah,” tegas Gus Salam, mengutip pandangan KH Afifuddin Muhajir.
Peran strategis kedua yang ditekankan oleh KH Afifuddin Muhajir adalah kemampuan NU untuk memberikan fatwa secara berkala kepada umat. Fatwa ini diharapkan dapat menjawab berbagai persoalan sosial, keagamaan, dan kebangsaan yang dihadapi umat.
Sementara itu, peran strategis ketiga yang disampaikan adalah pentingnya kemandirian ekonomi bagi NU. Selain itu, NU juga dituntut untuk memiliki sikap independen dalam berbangsa dan bernegara, yang tetap berpegang teguh pada koridor fiqhiyyah.
“Ini sejalan dengan pemikiran Mbah Sahal Mahfudz dengan konsep fiqh sosialnya. Banyak kiai NU yang dengan literasi fiqhiyyahnya mampu memberikan pedoman kepada umat terkait kemaslahatan di berbagai bidang,” ujar Gus Salam.
Bidang-bidang yang dimaksud meliputi ekonomi, pertanian, pendidikan, lingkungan, kebudayaan, hingga bidang politik. Gus Salam menekankan bahwa kemandirian NU ini krusial agar organisasi tersebut tetap berdaulat dan tidak mudah didikte oleh pihak lain.
Kemandirian ini bukan berarti menjauhi pemerintah, melainkan menjadi mitra kritis. NU diharapkan dapat mendukung pemerintah jika ada kebijakan yang membawa maslahat, serta meluruskan jika terdapat mudarat.
“Dan semua yang ditegaskan oleh KH Afifuddin Muhajir adalah implementasi Khittah NU 1926 yang telah diteladankan para pendahulu NU,” katanya.
Ketika ditanya mengenai tujuan dari safari politik yang dilakukannya menjelang Muktamar ke-35 NU, Gus Salam menyatakan bahwa selain menjalankan amanah dari guru-kiainya untuk berkhidmah melalui muktamar, ia juga bertujuan untuk merajut kembali kekuatan NU. Selain itu, ia juga ingin menggali permasalahan serta harapan yang dimiliki oleh para warga NU di berbagai daerah.





