Militer Israel Gempur Ukraina

oleh -8 Dilihat
Militer Israel Gempur Ukraina

KabarDermayu.com – Ketegangan diplomatik antara Israel dan Ukraina semakin memanas, namun kali ini bukan melalui konflik fisik, melainkan perang kata-kata di media sosial X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter.

Israel melayangkan teguran keras terhadap Ukraina menyusul tuduhan Kiev mengenai Tel Aviv yang membeli gandum curian dari Rusia. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, mengungkapkan bahwa tuduhan tersebut tidak didukung oleh bukti yang memadai.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrey Sibiga, mengecam keras Israel karena diduga memfasilitasi apa yang disebutnya sebagai ‘perdagangan ilegal gandum Ukraina curian’ oleh Rusia. Media Ukraina bahkan melaporkan bahwa sebuah kapal kargo bernama Panormitis, yang membawa gandum dari wilayah yang diklaim Rusia, sedang dalam perjalanan menuju Pelabuhan Haifa di Israel.

Sibiga meluapkan kekecewaannya melalui platform X, menyatakan kesulitan memahami mengapa Israel tidak memberikan respons yang memadai terhadap permintaan Ukraina terkait kapal tersebut. Ia menekankan bahwa tuduhan tersebut belum disertai dengan bukti yang kuat.

Menanggapi hal tersebut, Gideon Saar menegaskan bahwa hubungan diplomatik antar negara bersahabat seharusnya tidak dibangun di atas platform media sosial. Ia menekankan bahwa tuduhan tanpa bukti tidak dapat diterima dan Ukraina belum memberikan bukti yang mendukung klaim mereka.

Lebih lanjut, Saar menyoroti bahwa Ukraina bahkan tidak mengajukan permohonan bantuan hukum sebelum melayangkan tuduhan tersebut di media sosial. Situasi ini menambah kerenggangan hubungan kedua negara, terutama mengingat kritik Ukraina terhadap Israel yang belum menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia atau memutuskan hubungan diplomatik.

Sumber diplomatik Ukraina dilaporkan oleh Reuters bahwa Kiev akan mengambil serangkaian respons diplomatik dan hukum internasional jika kapal tersebut diizinkan berlabuh di Israel. Ukraina masih menganggap lima wilayahnya, termasuk Kherson dan Zaporozhye, yang bergabung dengan Rusia setelah referendum pada tahun 2022, sebagai wilayah pendudukan.

Baca juga: Ada yang Mengaku Bisa Mengatur Kasus Bea Cukai, KPK Buka Suara

Rusia sendiri menegaskan bahwa pengakuan terhadap perbatasan barunya merupakan syarat penting untuk tercapainya penyelesaian perdamaian yang langgeng di Ukraina.