Pandu Sjahrir: Tata Kelola Penting untuk Masa Depan Fintech Indonesia

oleh -10 Dilihat
Pandu Sjahrir: Tata Kelola Penting untuk Masa Depan Fintech Indonesia

KabarDermayu.com – Pandu Sjahrir, Ketua Umum Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), menekankan bahwa tata kelola yang kuat adalah fondasi krusial bagi masa depan industri fintech nasional. Menurutnya, industri ini tidak bisa hanya fokus pada inovasi dan ekspansi semata, melainkan juga harus membangun kepercayaan publik melalui praktik bisnis yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Pandu, yang juga menjabat sebagai Chief Investment Officer di Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia, menambahkan bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak “tech champions” yang mampu tumbuh dan bersaing secara berkelanjutan. Ambisi ini harus ditopang oleh fondasi tata kelola yang kokoh, seiring dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi digital.

Ia berpendapat bahwa inovasi yang bertanggung jawab dan tata kelola yang baik bukan lagi sekadar pilihan bagi industri fintech, melainkan kebutuhan utama agar inovasi dapat bertahan dalam jangka panjang.

“Setelah lebih dari satu dekade perjalanan, AFTECH juga mengakui tantangan struktural yang masih harus diselesaikan bersama: ekosistem keuangan digital Indonesia yang masih terlalu terfragmentasi, bergerak masing-masing, sementara tantangan yang dihadapi justru semakin besar dan kompleks,” ujar Pandu dalam keterangannya pada Selasa, 19 Mei 2026.

Menurut Pandu, seluruh pemangku kepentingan di industri fintech perlu meningkatkan kolaborasi agar sektor ini mampu naik kelas dan memberikan dampak nyata terhadap perekonomian nasional. Upaya ini penting untuk tidak hanya membangun industri fintech yang tumbuh cepat, tetapi juga industri yang dipercaya dan memberikan kontribusi signifikan bagi sektor riil Indonesia.

“Kalau kita ingin industri ini naik kelas, maka seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelaku usaha harus step up. Integrate. Collaborate. Move faster,” tegas Pandu.

AFTECH menilai bahwa ekosistem fintech Indonesia kini telah memasuki fase baru. Sejumlah perusahaan digital besar mulai mencatatkan profitabilitas setelah bertahun-tahun membangun fondasi bisnis. Kondisi ini menjadi sinyal positif bahwa model bisnis fintech nasional semakin matang dan berkelanjutan.

Informasi ini disampaikan dalam Rapat Umum Anggota (RUA) AFTECH 2026 yang diselenggarakan di Soehana Hall, kawasan SCBD, Jakarta. Acara tersebut dihadiri oleh regulator dan pemangku kepentingan strategis nasional, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, Bappenas, dan Bank Indonesia.

Baca juga: Ketua PP Muhammadiyah: Perang Sulit Diakhiri Karena Pelaku Negara Adidaya

Saat ini, AFTECH memiliki 208 perusahaan anggota dengan 17,17 juta pengguna Penyelenggara Agregasi Jasa Keuangan (PAJK) dan 77,32 juta hit Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA). AFTECH juga memfasilitasi transaksi senilai Rp2,11 triliun.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan bahwa capaian tersebut mencerminkan meningkatnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap layanan fintech. Ia juga menekankan bahwa pertumbuhan industri hanya akan bermakna jika dibangun di atas fondasi yang benar, terutama dari sisi integritas dan tata kelola.

“Pertumbuhan tersebut baru memiliki makna jika dibangun di atas fondasi yang benar. Saya menitipkan tiga arahan untuk memperkuat kontribusi AFTECH dan industri ITSK bagi Indonesia. Pertama, memperkuat inklusi, tetapi inklusi yang bertanggung jawab. Kedua, bangun kepercayaan dengan mengutamakan integritas dan tata kelola. Ketiga, seimbangkan inovasi dan regulasi,” rinci Friderica.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menyebutkan bahwa fintech memiliki peran strategis dalam mendukung transformasi digital dan pemerataan akses pembiayaan nasional. Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama mendorong fintech agar dapat membantu mewujudkan Indonesia Emas, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Kalau kami tidak percaya fintech, tidak percaya AFTECH, kita tidak bisa tumbuh lebih cepat, kita tidak bisa tumbuh lebih tinggi, kita tidak bisa tumbuh lebih merata,” ujar Rachmat.

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan publik di tengah pertumbuhan industri fintech yang semakin besar. Menurutnya, AFTECH harus mampu menjadi penjaga integritas industri sekaligus memperkuat transparansi, keterbukaan informasi, dan perlindungan konsumen.

“Saya ingin mengajak kita untuk membuat lari fintech Indonesia tidak hanya cepat, tetapi juga aman dan berdampak. Industri fintech harus mampu menjaga kepercayaan publik di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang terus menguat,” ujar Juda.

RUA AFTECH 2026, yang dihadiri oleh 144 perusahaan anggota, juga menghasilkan pengesahan laporan pertanggungjawaban dan laporan keuangan tahun 2025, serta persetujuan program kerja dan anggaran organisasi untuk tahun 2026. Selain itu, AFTECH menandatangani nota kesepahaman dengan organisasi Hong Kong Web3.0 Standardization Association untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan ekosistem keuangan digital dan Web3.