KabarDermayu.com – Melalui Kisah Legendaris, VIVA Sport mengajak pembaca bernostalgia dengan berbagai cerita timeless dari dunia olahraga, mulai dari rivalitas panas, perjuangan atlet, hingga momen menarik yang mengubah sejarah.
Pada Piala Dunia 1970, Timnas Brasil berhasil mengundang decak kagum penonton. Selain sukses menjadi juara, Tim Samba melahirkan sepak bola indah yang hingga kini dikenang dunia.
Salah satunya dalam proses gol legendaris. Carlos Alberto di final Piala Dunia 1970. Gol ini masih dianggap sebagai salah satu mahakarya terbesar dalam sejarah sepak bola.
Proses gol tersebut dimulai dari lini belakang Brasil. Bola mengalir perlahan dari Tostao, Piazza, Clodoaldo, hingga akhirnya berubah menjadi serangan cepat yang memukau.
Jairzinho menusuk dari sisi kanan sebelum mengirim bola kepada Pele. Sang legenda lalu dengan tenang memberikan umpan matang kepada Carlos Alberto yang berlari dari belakang.
Tanpa banyak sentuhan, Carlos Alberto langsung menghantam bola keras ke pojok gawang Italia. Gol itu lahir begitu sempurna, memadukan teknik, visi, dan kerja sama tim dalam satu rangkaian yang nyaris tanpa cela.
Banyak yang menyebut gol tersebut sebagai simbol kejayaan Brasil 1970, tim yang dianggap sebagai salah satu skuad terbaik sepanjang sejarah sepak bola. Tim Samba kala itu bukan cuma menang, tetapi juga memperlihatkan sepak bola penuh kreativitas dan hiburan.
Keberhasilan Brasil di Piala Dunia 1970 juga datang pada era yang terasa sangat modern. Untuk pertama kalinya, turnamen disiarkan secara luas melalui televisi berwarna. Jersey kuning Brasil, celana biru mereka, serta permainan atraktif Pele dan kawan-kawan membuat jutaan penonton di seluruh dunia terpukau.
Baca juga: Persija Kudeta Persib: Andai Tak Kehilangan 11 Poin Kandang
Bahkan bola resmi turnamen diberi nama Telstar, terinspirasi dari satelit komunikasi yang memungkinkan siaran langsung lintas negara. Brasil saat itu dianggap menjadi representasi masa depan sepak bola, layaknya pendaratan manusia di bulan yang terjadi setahun sebelumnya.
Pele menjadi pusat perhatian sepanjang turnamen. Meski tidak semua aksinya berbuah gol, berbagai momen magis tetap melekat dalam ingatan publik. Mulai dari percobaan menembak dari tengah lapangan saat melawan Cekoslowakia, sundulan yang ditepis Gordon Banks, hingga aksi mengecoh kiper Uruguay tanpa menyentuh bola.
Semua itu memperkuat citra Brasil 1970 sebagai tim yang bermain demi keindahan sepak bola, bukan hanya mengejar kemenangan semata.
Namun di balik romantisme tersebut, ada sisi lain yang jarang dibicarakan. Piala Dunia 1970 berlangsung di tengah situasi politik yang rumit. Meksiko kala itu dipimpin rezim yang dikenal represif, sementara di Brasil, kemenangan tim nasional dimanfaatkan pemerintah militer sebagai simbol keberhasilan “Keajaiban Brasil”.
Meski begitu, aura magis turnamen itu tetap sulit tergantikan. Banyak penggemar sepak bola menganggap Piala Dunia 1970 sebagai titik tertinggi romantisme olahraga ini sebelum era komersialisasi berkembang semakin besar.
Setelah Joao Havelange menjadi Presiden FIFA pada 1974, sepak bola mulai memasuki era baru yang lebih sarat bisnis dan sponsor. Piala Dunia 1970 pun dikenang sebagai turnamen terakhir yang terasa begitu alami dan sederhana.
Lapangan belum dipenuhi papan iklan seperti sekarang, presentasi pertandingan masih apa adanya, tetapi justru di situlah letak pesonanya. Fokus utama benar-benar tertuju pada permainan di lapangan.
Brasil 1970 akhirnya menjadi simbol tentang apa yang bisa dicapai sepak bola ketika dimainkan dengan kebebasan, kreativitas, dan kegembiraan. Sebuah tim yang bukan hanya juara dunia, tetapi juga meninggalkan warisan abadi tentang bagaimana sepak bola seharusnya dimainkan.





