Kisah Satpam yang Berselisih dengan Oknum Polisi: Sempat Menangis karena Takut Dilaporkan dan Dipecat

oleh -4 Dilihat
Kisah Satpam yang Berselisih dengan Oknum Polisi: Sempat Menangis karena Takut Dilaporkan dan Dipecat

KabarDermayu.com – Fiktor Harefa, seorang petugas keamanan proyek MRT Jakarta yang sempat menjadi sorotan publik akibat perselisihan dengan oknum anggota kepolisian di kawasan Bundaran HI, Jakarta, akhirnya buka suara mengenai pengalaman traumatisnya. Dalam sebuah pertemuan dengan Dedi Mulyadi, Fiktor membagikan detail kronologi kejadian yang memicu ketakutan mendalam akan kehilangan pekerjaannya.

Insiden tersebut bermula pada Minggu, 25 Juli 2026, saat Fiktor sedang bertugas di dekat Halte Bundaran HI. Saat itu, ia bersama sejumlah pejalan kaki sedang menunggu lampu lalu lintas penyeberangan berubah menjadi hijau. Namun, ketika lampu untuk pejalan kaki sudah menyala, sebuah mobil berwarna hitam jenis Alphard justru melaju menerobos area tersebut.

Fiktor yang melihat banyak pejalan kaki, termasuk para wanita, merasa terancam karena aksi nekat pengemudi tersebut. Sebagai bentuk peringatan refleks, Fiktor mengetuk bodi mobil sambil meneriakkan teguran agar pengemudi berhenti karena lampu lalu lintas sudah berwarna merah.

Pria berusia 27 tahun itu mengungkapkan bahwa niat utamanya adalah untuk memastikan keselamatan orang lain. Ia mengaku khawatir jika pengemudi mobil tersebut sedang dalam kondisi mengantuk atau terdistraksi oleh penggunaan ponsel saat berkendara, sehingga membahayakan warga yang sedang menyeberang jalan.

Saat mobil tersebut melambat, Fiktor berinisiatif menghampiri kendaraan untuk memberikan teguran lebih lanjut. Meski sempat mencoba membuka pintu mobil, kaca kendaraan tidak kunjung dibuka oleh penumpang di dalamnya. Tak lama kemudian, dua orang turun dari mobil dan mulai mendorong Fiktor, seraya melontarkan teguran bahwa tindakan Fiktor dianggap seperti preman karena telah mengetuk kaca mobil.

Situasi sempat memanas hingga menyebabkan kemacetan di area Bundaran HI. Guna menyelesaikan perselisihan tersebut, Fiktor membawa pihak pengemudi dan penumpang menuju Pos Polisi terdekat. Ia berharap aparat dapat menengahi permasalahan tersebut dengan bijak.

Namun, harapan Fiktor untuk mendapatkan perlindungan atau pembelaan justru sirna. Di dalam Pos Polisi, ia justru ditegur oleh kepala pos polisi setempat. Ia diingatkan bahwa sebagai petugas keamanan, dirinya tidak memiliki hak untuk mengetuk kaca mobil orang lain, meskipun dalam konteks menegur pelanggaran lalu lintas.

Tekanan semakin memuncak ketika salah satu penumpang dari mobil Alphard tersebut mulai melontarkan ancaman. Penumpang itu menanyakan identitas perusahaan atau vendor tempat Fiktor bekerja dan mengancam akan melaporkan tindakan Fiktor agar ia segera dipecat sebagai bentuk sanksi disiplin.

Ancaman tersebut membuat mental Fiktor terguncang. Ia mengaku merasa sangat terpojok, mengingat masa kerjanya di perusahaan tersebut baru berjalan selama tiga bulan. Ketakutan akan kehilangan mata pencaharian membuatnya menangis dan bahkan memberanikan diri untuk bersujud di depan pihak tersebut sebagai upaya permohonan maaf agar masalah tidak diteruskan ke pihak perusahaan.

Fiktor mengakui bahwa momen tersebut merupakan pengalaman yang sangat berat baginya. Ia merasa tidak memiliki harapan lain selain memohon agar ancaman pemecatan tersebut dibatalkan. Kejadian ini pun kini menjadi perhatian publik setelah videonya viral dan memicu diskusi mengenai etika berkendara serta perlindungan bagi warga yang berani menegur pelanggaran di ruang publik.

Berikut adalah poin-poin utama dari peristiwa tersebut:

  • Fiktor menegur mobil yang menerobos lampu merah demi keselamatan pejalan kaki.
  • Terjadi gesekan fisik saat dua orang dari mobil tersebut turun dan mendorong Fiktor.
  • Fiktor sempat ditegur oleh kepala pos polisi karena dianggap tidak memiliki wewenang mengetuk kaca mobil.
  • Fiktor mengalami tekanan psikologis akibat ancaman pemecatan dari pihak penumpang mobil.
  • Fiktor sempat bersujud karena ketakutan akan kehilangan pekerjaan yang baru ia jalani selama tiga bulan.

Polda Jawa Barat sendiri telah mengonfirmasi bahwa tiga orang yang berada di dalam mobil tersebut merupakan anggota mereka. Pihak kepolisian menyatakan akan menindaklanjuti insiden ini dengan proses penempatan khusus (patsus) dan sidang etik bagi anggota yang terlibat.