AS Pertimbangkan Rencana Serangan Besar ke Iran untuk Menguasai Uranium yang Diperkaya

oleh -4 Dilihat
AS Pertimbangkan Rencana Serangan Besar ke Iran untuk Menguasai Uranium yang Diperkaya

KabarDermayu.com – Amerika Serikat dikabarkan tengah menyusun strategi untuk melancarkan operasi militer berskala besar yang melibatkan ribuan personel militer guna menyita cadangan uranium yang telah diperkaya di fasilitas nuklir Iran.

Rencana tersebut diungkapkan oleh seorang narasumber militer melalui laporan yang diterbitkan surat kabar The New York Post pada Sabtu, 25 Juli 2026. Operasi ini disebut-sebut sebagai langkah yang dianggap paling realistis di tengah kebuntuan negosiasi diplomatik antara kedua negara.

“Saya enggan menyampaikannya, namun menurut pandangan saya, satu-satunya cara efektif untuk mengamankan material nuklir milik Iran, khususnya yang berada dalam penguasaan mereka saat ini, adalah melalui tindakan militer karena jalur perundingan sedang tidak menemui titik terang,” ujar sumber tersebut, dikutip pada Minggu, 26 Juli 2026.

Secara teknis, operasi militer ini dirancang untuk melibatkan ribuan pasukan darat yang akan menyerbu fasilitas nuklir target. Tugas utama mereka mencakup menetralisir jebakan atau bahan peledak yang terpasang di lokasi, menerjunkan tim teknis khusus, serta membangun perimeter pertahanan yang kuat di sekitar area fasilitas nuklir tersebut.

Puncak dari rencana ini adalah pengerahan tim kecil pasukan khusus yang bertugas melakukan evakuasi langsung terhadap stok uranium. Laporan tersebut mencatat bahwa fase ini merupakan bagian paling krusial sekaligus berisiko tinggi dalam keseluruhan rangkaian agresi militer tersebut.

Jika operasi ini direalisasikan, pasukan Amerika Serikat akan dihadapkan pada tantangan berat, yakni membersihkan reruntuhan di pintu masuk fasilitas yang telah dihancurkan, sembari tetap harus bertahan dari potensi serangan balik yang dilancarkan oleh pasukan Iran.

Selain aspek darat, suksesnya misi ini sangat bergantung pada penguasaan penuh atas koridor udara. Hal ini diperlukan agar pesawat militer AS dapat mendarat dengan aman di zona yang telah ditentukan untuk mendukung kelancaran operasi.

Menanggapi situasi yang kian memanas, sumber militer dari pihak Iran pada Kamis, 23 Juli 2026, menyatakan bahwa angkatan bersenjata mereka telah melakukan serangkaian simulasi latihan tempur. Mereka menegaskan kesiapan penuh untuk menghadapi skenario invasi darat oleh pasukan Amerika Serikat.

Perlu dicatat bahwa hubungan kedua negara sempat mengalami dinamika yang kompleks. Pada 18 Juni 2026, AS dan Iran sempat menandatangani memorandum perdamaian guna mengakhiri ketegangan yang sudah berlangsung sejak 28 Februari 2026. Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama karena pasukan AS kembali melancarkan serangan ke wilayah Iran mulai 8 Juli 2026.

Komando Pusat AS (CENTCOM) memberikan penjelasan bahwa serangan tersebut merupakan tindakan balasan atas gangguan yang dilakukan oleh pihak Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi jalur krusial di Selat Hormuz.

Sebagai respons atas serangan tersebut, pasukan Iran melancarkan serangan balasan ke pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Akibat eskalasi tersebut, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa perjanjian gencatan senjata antara AS dan Iran kini sudah tidak lagi berlaku.