Kasepuhan Ciptamulya Terbakar, Atalia Praratya Mengenang Peristiwa Longsor Terdahulu

oleh -4 Dilihat
Kasepuhan Ciptamulya Terbakar, Atalia Praratya Mengenang Peristiwa Longsor Terdahulu

KabarDermayu.com – Rasa duka yang mendalam menyelimuti warga Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, yang berlokasi di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, setelah musibah kebakaran melanda wilayah mereka.

Peristiwa kebakaran hebat ini terjadi pada Sabtu (25/7/2026) sekitar pukul 13.00 WIB. Api yang diduga berasal dari korsleting listrik di area kamar mandi salah satu rumah warga dengan cepat membesar dan menjalar ke bangunan lainnya.

Meskipun musibah ini tidak menimbulkan korban jiwa, dampaknya sangat memprihatinkan bagi kelangsungan hidup warga setempat. Tercatat sebanyak 51 rumah tinggal dan 49 leuit atau lumbung padi tradisional milik warga hangus terbakar.

Abah E. Suhendri Wijaya, yang dikenal sebagai Ketua Adat Kasepuhan Ciptamulya atau Abah Hendrik, telah mengonfirmasi besarnya kerugian material tersebut. Ia menyampaikan bahwa meski tidak seluruh bangunan di kampung tersebut ludes, namun jumlah rumah dan lumbung yang terbakar cukup banyak.

“Banyaknya yang terbakar itu 51 rumah dan 49 leuit. Tidak semua rumah terbakar, masih ada beberapa rumah keluarga yang selamat,” ujar Abah Hendrik saat memberikan keterangan dalam program Apa Kabar Indonesia Akhir Pekan di tvOne, Minggu (26/7/2026).

Kabar mengenai musibah yang menimpa masyarakat adat di Sukabumi ini turut menarik perhatian anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya. Peristiwa ini membawa ingatan Atalia kembali pada bencana serupa yang pernah dialami oleh warga Kasepuhan Ciptamulya dua tahun silam.

Melalui akun Instagram pribadinya, Atalia Praratya menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas musibah kebakaran tersebut. Ia mengungkapkan kesedihannya melihat saudara-saudara di Ciptamulya kembali diuji oleh bencana.

“Turut berduka atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Kampung Adat Cipta Mulya, Cisolok, Sukabumi,” tulis Atalia melalui akun @ataliapr.

Dalam pesannya, Atalia mengenang masa-masa sulit pada akhir tahun 2024 ketika Kampung Adat Ciptamulya diterjang bencana tanah longsor. Kala itu, ia terlibat langsung melalui organisasi Jabar Bergerak untuk membantu proses pemulihan dan pembangunan kembali hunian warga yang terdampak.

“Cipta Mulya bukan tempat asing bagi kami. Dua tahun lalu, Jabar Bergerak hadir dan ikut membangun kembali rumah yang sempat terdampak bencana. Hari ini, melihat saudara-saudara kita kembali diuji, tentu menghadirkan duka yang begitu dalam,” tambahnya dalam unggahan tersebut.

Sebagai tokoh yang menaruh perhatian besar pada isu sosial di Jawa Barat, Atalia memberikan dukungan moral bagi seluruh warga yang terdampak. Ia mendoakan agar masyarakat setempat diberikan ketabahan dalam melewati masa-masa sulit ini.

“Semoga Allah SWT memberikan kekuatan, kesabaran, dan ketawakalan kepada seluruh warga yang sedang menghadapi ujian ini. Dan semoga dari setiap kehilangan, tumbuh kembali kekuatan untuk bangkit dan menata kehidupan,” tutupnya dengan harapan agar warga Ciptamulya bisa segera memulihkan keadaan.

Musibah ini menjadi pengingat bagi semua pihak mengenai pentingnya mitigasi bencana di kawasan adat, mengingat karakteristik bangunan di kampung adat yang umumnya terbuat dari material kayu dan bambu yang sangat rentan terhadap api.

Pemerintah daerah bersama elemen terkait diharapkan dapat segera memberikan bantuan darurat, terutama untuk kebutuhan tempat tinggal sementara dan penyediaan pangan, mengingat lumbung padi atau leuit yang menjadi cadangan pangan warga turut habis terbakar.

Hingga saat ini, proses pembersihan puing-puing bangunan yang terbakar masih terus dilakukan oleh warga setempat dibantu oleh relawan dan aparat desa. Masyarakat berharap adanya uluran tangan dari berbagai pihak untuk membantu meringankan beban mereka pasca-kebakaran ini.

Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya sendiri dikenal sebagai salah satu simbol kebudayaan yang kuat di Jawa Barat. Ketahanan masyarakatnya dalam menghadapi berbagai ujian, termasuk bencana alam, menjadi nilai tersendiri yang diharapkan dapat membantu mereka bangkit kembali dari musibah kebakaran ini.

Pihak berwenang juga terus mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi bahaya kebakaran, khususnya terkait instalasi listrik yang sering kali menjadi pemicu utama kebakaran di permukiman padat maupun kawasan adat.