KabarDermayu.com – Demam seringkali dianggap sebagai kondisi ringan yang bisa diatasi sendiri di rumah. Namun, dari sudut pandang medis, demam sebenarnya adalah tanda awal tubuh yang sedang melawan infeksi.
Tanpa pemahaman yang memadai, gejala ini bisa terabaikan dan berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.
Salah satu kendala utama dalam penanganan demam di masyarakat adalah minimnya cara objektif untuk menilai tingkat keparahannya secara mandiri. Hal ini membuat banyak orang kesulitan menentukan kapan waktu yang tepat untuk mencari bantuan medis. Akibatnya, penanganan seringkali tertunda dan justru memperburuk kondisi penyakit yang mendasarinya.
“Demam sering menjadi gejala awal infeksi, tetapi masyarakat belum memiliki parameter objektif untuk menentukan apakah kondisinya masih aman atau sudah memasuki fase kritis. Akibatnya, banyak terjadi keterlambatan penanganan medis dan penggunaan antibiotik secara tidak rasional melalui swamedikasi,” jelas Tiffney Tyara Setyoko, mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter UPH.
Baca juga di sini: Sedan Terbaru Hadir dengan Tampilan Lebih Premium
Data kasus di berbagai daerah memperlihatkan fenomena ini. Di Kabupaten Tangerang, misalnya, tingginya angka infeksi yang berstatus suspek menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih terstruktur dalam deteksi dini. Ini menjadi bukti nyata bahwa penanganan demam tidak bisa hanya mengandalkan perkiraan subjektif.
Untuk mengatasi tantangan ini, inovasi teknologi kesehatan mulai dikembangkan untuk memperkuat deteksi dini di tingkat komunitas. Salah satu konsep yang muncul adalah penggunaan perangkat wearable non-invasif yang mampu memantau kondisi fisiologis tubuh secara langsung.
Melalui pendekatan ini, dikembangkanlah Smart Febrile Patch. Ini adalah sebuah sensor berbasis keringat yang dirancang untuk membantu masyarakat dalam melakukan skrining awal terhadap tingkat keparahan penyakit infeksi yang disebabkan oleh demam.
Teknologi ini bekerja dengan mengukur beberapa biomarker penting yang berkaitan dengan respons tubuh terhadap infeksi. “Patch ini mengukur tiga biomarker utama, yaitu suhu tubuh, pH keringat, dan kadar laktat. Ketiganya dapat menjadi indikator penting untuk melihat respons inflamasi, stabilitas fisiologis tubuh, hingga tanda awal kondisi kritis seperti hipoperfusi jaringan,” ungkapnya.
Pemantauan biomarker ini memberikan gambaran yang lebih lengkap dibandingkan sekadar mengukur suhu tubuh. Sebagai contoh, perubahan kadar laktat bisa menjadi indikasi awal adanya gangguan perfusi jaringan. Sementara itu, pH keringat mencerminkan keseimbangan metabolik tubuh. Dengan demikian, potensi terjadinya kondisi kritis dapat terdeteksi lebih dini.
Inovasi semacam ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara gejala awal dan keputusan medis. Dengan tersedianya data objektif, masyarakat dapat mengambil langkah yang lebih tepat, baik dalam menentukan kebutuhan konsultasi medis maupun menghindari penggunaan obat yang tidak rasional.
Selain itu, pemanfaatan teknologi kesehatan juga berpotensi menekan risiko komplikasi serius seperti syok akibat keterlambatan penanganan. Di sisi lain, penggunaan antibiotik yang lebih terkontrol dapat membantu mengurangi ancaman resistensi antibiotik yang semakin menjadi perhatian global.
Inovasi ini juga mendapat pengakuan dalam ranah akademik. Tiffney Tyara Setyoko, mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter UPH angkatan 2023, berhasil meraih Juara Terbaik 1 dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (PILMAPRES) Tingkat Wilayah LLDIKTI III Tahun 2026 yang diselenggarakan pada 29–30 April 2026 di Auditorium Griya Legita Universitas Pertamina. Atas pencapaian tersebut, Tiffney resmi mewakili UPH dan LLDIKTI Wilayah III sebagai delegasi untuk mengikuti PILMAPRES 2026 Tingkat Nasional.
“Puji Tuhan tentu sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan dan pencapaian ini. Persiapannya cukup panjang karena harus mempersiapkan gagasan kreatif, melatih kemampuan presentasi, serta memperdalam materi untuk sesi wawancara dan Bahasa Inggris. Saya juga banyak belajar untuk menyampaikan ide dengan lebih terstruktur dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Tiffney.
Dalam ajang tersebut, Tiffney mengangkat gagasan kreatif berjudul “Pengembangan Smart Febrile Patch Berbasis Multi-Biomarker (Suhu, pH, Laktat) Sebagai Sistem Skrining Dini Keparahan Penyakit Infeksi Berbasis Demam di Kabupaten Tangerang.” Inovasi ini diharapkan menjadi langkah awal menuju sistem deteksi dini yang lebih akurat, mudah diakses, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat luas.





