BPBD Ciamis: Status Siaga Bencana Hidrometeorologi Telah Berakhir

oleh -6 Dilihat
BPBD Ciamis: Status Siaga Bencana Hidrometeorologi Telah Berakhir

KabarDermayu.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, telah mengakhiri status Siaga Bencana Hidrometeorologi yang berlaku sejak Oktober 2025. Status ini resmi berakhir pada 30 April 2026.

Meskipun demikian, ada kemungkinan status ini akan diperpanjang karena kondisi cuaca yang masih belum stabil. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ciamis, Ani Supiani, menyatakan bahwa perpanjangan belum diumumkan secara resmi.

Pemerintah Kabupaten Ciamis sebelumnya telah menetapkan status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi, yang mencakup banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Penetapan ini dilakukan untuk menghadapi dampak musim penghujan yang diperkirakan berlangsung dari Oktober 2025 hingga April 2026.

Selama periode status siaga darurat tersebut, seluruh jajaran BPBD dan instansi terkait telah diinstruksikan untuk bersiap siaga penuh. Tujuannya adalah memastikan penanganan bencana alam dapat dilakukan dengan cepat dan tepat apabila terjadi.

Ani Supiani menjelaskan bahwa meskipun status siaga bencana secara resmi telah berakhir, hujan masih sering terjadi di wilayah Ciamis pada awal Mei 2026. Kondisi cuaca yang masih ekstrem ini menjadi alasan utama kemungkinan adanya perpanjangan status siaga darurat.

Pihaknya masih menunggu pengumuman resmi dari pemerintah pusat terkait keputusan perpanjangan status tersebut. “Masih ekstrem, tapi nanti menunggu pernyataan pusat, ya,” ujar Ani.

Mengingat potensi cuaca ekstrem yang masih berlangsung, masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana alam diimbau untuk tetap waspada. Mereka juga disarankan untuk menghindari area-area yang berpotensi terdampak bencana saat hujan turun.

Baca juga di sini: 5 Fakta Penting Bali International Film Festival yang Diakui Dunia

“Iya diimbau selalu waspada saat turun hujan,” tegas Ani.

Data yang dihimpun oleh BPBD Ciamis selama periode penetapan status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi, yaitu dari awal Januari hingga April 2026, mencatat total 301 kejadian bencana alam.

Rinciannya, bencana tanah longsor terjadi sebanyak 125 kejadian. Sementara itu, banjir dilaporkan sebanyak 20 kejadian, dan cuaca ekstrem tercatat sebanyak 156 kejadian.

Dampak dari rangkaian bencana alam tersebut cukup signifikan. Tercatat ada satu orang meninggal dunia akibat tertimbun tanah longsor. Selain itu, satu orang lainnya mengalami luka-luka.

Sebanyak 3.018 jiwa atau setara dengan 1.011 Kepala Keluarga (KK) terdampak langsung oleh bencana alam. Angka ini mencakup mereka yang menderita kerugian materiil maupun imateril.

Lebih lanjut, sebanyak 311 jiwa atau 53 KK terpaksa mengungsi dari rumah mereka demi keselamatan.