Ancaman Kekurangan Pasokan Minyak Dunia, Asia Diperkirakan Paling Terkena Dampaknya

oleh -8 Dilihat
Ancaman Kekurangan Pasokan Minyak Dunia, Asia Diperkirakan Paling Terkena Dampaknya

KabarDermayu.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memunculkan kekhawatiran akan krisis energi global. Potensi penutupan jalur vital distribusi minyak dunia, Selat Hormuz, diprediksi akan menimbulkan gangguan signifikan terhadap pasokan energi secara internasional.

Situasi ini tidak hanya berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global, tetapi juga dapat memicu krisis energi yang serupa dengan yang terjadi pada era 1970-an.

Perhatian serius terhadap kondisi ini datang dari salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia, Chevron. Pihak Chevron memperingatkan bahwa dampak dari penutupan Selat Hormuz tidak akan bersifat sementara, melainkan dapat menyebabkan kelangkaan fisik minyak di berbagai negara.

Chairman dan CEO Chevron, Mike Wirth, dalam sebuah diskusi mengungkapkan keprihatinannya. Ia menekankan bahwa situasi ini sangat serius mengingat sekitar 20 persen dari total pasokan minyak mentah global melewati jalur strategis tersebut.

“Kita akan mulai melihat kelangkaan fisik,” ujar Wirth, seperti dikutip dari Reuters pada Selasa, 5 Mei 2026. Ia menambahkan bahwa cadangan minyak yang sebelumnya berfungsi sebagai penyangga pasokan kini mulai terkuras.

Kondisi ini mengakibatkan terganggunya keseimbangan antara pasokan dan permintaan minyak dunia secara signifikan. Akibatnya, permintaan harus menyesuaikan diri dengan ketersediaan pasokan yang semakin terbatas.

Wirth menjelaskan bahwa penyesuaian permintaan terhadap pasokan yang menyusut akan memberikan dampak langsung pada perlambatan ekonomi global. Kawasan Asia diprediksi akan menjadi pihak pertama yang merasakan dampak terparah, mengingat ketergantungan ekonominya pada pasokan minyak dari kawasan Teluk.

Baca juga: Bisikan Terakhir Ayah Vidi Aldiano Sebelum Meninggal yang Menyentuh Hati

Setelah Asia, Eropa diperkirakan akan menyusul terdampak oleh krisis pasokan ini. Sementara itu, Amerika Serikat dinilai memiliki ketahanan yang relatif lebih baik karena posisinya sebagai eksportir bersih minyak mentah.

Meskipun demikian, Wirth menegaskan bahwa dampak tersebut akan tetap terasa secara bertahap. Sebagai ilustrasi, ia menyebutkan bahwa pengiriman minyak terakhir dari kawasan Teluk saat ini sedang dalam proses pembongkaran di Pelabuhan Long Beach, yang memasok kebutuhan energi untuk wilayah Los Angeles dan California Selatan.

Lebih lanjut, Wirth mengingatkan bahwa potensi dampak dari penutupan Selat Hormuz bisa sangat besar, bahkan setara dengan krisis energi yang melanda dunia pada tahun 1970-an.

Pada dekade tersebut, dua kali gangguan pasokan minyak besar-besaran mengguncang perekonomian global. Kejadian ini memicu diberlakukannya pembatasan bahan bakar dan antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar di berbagai negara.

Kondisi serupa sangat mungkin untuk kembali terjadi jika krisis pasokan minyak saat ini tidak segera menemukan solusi dan mereda. Dampak langsung dari kenaikan harga energi juga sudah mulai terlihat di sektor-sektor lain.

Salah satu contohnya adalah maskapai penerbangan Spirit Airlines, yang dilaporkan menghentikan operasionalnya pada akhir pekan lalu. Penghentian operasional ini disebabkan oleh lonjakan biaya bahan bakar jet di tengah ketatnya pasokan yang tersedia.

Menghadapi situasi yang terus berkembang ini, para pelaku industri energi serta pemerintah di berbagai negara dituntut untuk segera mencari solusi. Upaya cepat diperlukan untuk menjaga stabilitas pasokan energi global. Jika tidak, ancaman perlambatan ekonomi global dan krisis energi yang lebih dalam bisa menjadi kenyataan dalam waktu dekat.