Rupa Kala: Perpaduan Kecerdasan Buatan dan Budaya Lokal

oleh -6 Dilihat
Rupa Kala: Perpaduan Kecerdasan Buatan dan Budaya Lokal

KabarDermayu.com – Pameran seni bertajuk ‘Rupa Kala’ yang merupakan kolaborasi antara Binus University dan Sarinah, menampilkan perpaduan unik antara kebudayaan lokal dengan sentuhan desain kontemporer dan teknologi terkini. Acara ini tidak hanya menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memamerkan karya mereka, tetapi juga sebagai strategi inovatif untuk membangun citra budaya yang menarik bagi kalangan muda.

Melalui pendekatan kreatif ini, kekayaan budaya Nusantara dihadirkan dalam format yang lebih relevan dengan dinamika industri kreatif masa kini. Beragam karya mahasiswa yang dipamerkan adalah interpretasi segar terhadap motif-motif tradisional, nilai-nilai luhur, hingga kearifan lokal, yang divisualisasikan melalui berbagai medium seperti seni visual, film, animasi, fesyen, dan teknologi digital.

Dekan School of Design Binus University, Danendro Adi, menjelaskan bahwa ‘Rupa Kala’ merupakan bagian integral dari komitmen universitas dalam membina talenta kreatif Indonesia. Tujuannya adalah agar mereka mampu bersaing di kancah global tanpa kehilangan jati diri budaya bangsa.

“Kami ingin menunjukkan bahwa kreativitas generasi muda Indonesia memiliki akar yang kuat pada budaya, sekaligus mampu berkembang seiring kemajuan teknologi,” ujar Danendro Adi pada Selasa, 5 Mei 2026.

Binus University juga menyoroti pendekatan pembelajaran inovatif yang mengintegrasikan eksplorasi budaya dengan desain modern. Salah satu aspek penting yang diangkat adalah pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam proses kreatif yang tetap berpusat pada nilai kemanusiaan (human-centered).

Strategi ini menekankan bahwa teknologi berperan sebagai alat pendukung untuk memperkaya kreativitas, bukan untuk menggantikan esensi budaya atau sentuhan manusiawi. Kolaborasi dengan Sarinah juga menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan apresiasi karya mahasiswa kepada publik yang lebih luas.

Keberadaan pameran di ruang publik yang komersial seperti Sarinah dinilai membuka peluang agar karya-karya kreatif mahasiswa tidak hanya dianggap sebagai proyek akademis, namun juga memiliki nilai jual dan potensi pasar yang signifikan.

“Pameran ini menjadi bukti bagaimana mahasiswa kami dari berbagai disiplin desain mampu menggabungkan warisan budaya Nusantara dengan pendekatan kontemporer dan teknologi sehingga menghasilkan karya yang tidak hanya relevan secara artistik, tetapi juga memiliki nilai bagi industri dan masyarakat,” tegas Danendro.

Baca juga: Rumah Dinas TNI di Slipi yang Ditempati Anak Purnawirawan Ditertibkan Setelah Peringatan

Melalui ‘Rupa Kala’, Binus University dan Sarinah berupaya membangun sebuah ekosistem kreatif yang solid. Ekosistem ini berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan dunia pendidikan, kekayaan budaya, kemajuan teknologi, dan industri dalam satu platform kolaborasi yang dinamis.