KabarDermayu.com – Kepala Protokol Kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Mazaher Hosseini, akhirnya memberikan keterangan resmi mengenai kondisi kesehatan Mojtaba Khamenei. Sebelumnya, Mojtaba Khamenei dikabarkan menjalani perawatan intensif di luar negeri akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang terjadi pada 28 Februari lalu.
Kini, Hosseini mengonfirmasi bahwa Mojtaba Khamenei dalam kondisi sehat. Ia menjelaskan bahwa putra Pemimpin Tertinggi Iran tersebut hanya mengalami luka ringan dalam insiden serangan pada Februari lalu.
Menurut laporan Iran Internasional English, Mojtaba mengalami cedera pada tempurung lutut, punggung bagian bawah, dan area belakang telinga. Hosseini menguraikan kronologi kejadian tersebut.
“Saat serangan terjadi, Khamenei tidak berada di lokasi yang menjadi sasaran. Mereka menyerang rumahnya dan istrinya tewas di sana. Saat itu dia sedang menuju lokasi dan berada di tangga ketika rudal menghantam tempat tersebut. Ledakan membuatnya terjatuh,” ungkap Hosseini saat berbicara kepada para pendukung.
Ia menambahkan bahwa musuh telah menyebarkan berbagai rumor dan klaim palsu terkait kondisi Mojtaba. Hosseini meminta masyarakat untuk bersabar dan tidak terburu-buru dalam menantikan pernyataan langsung dari Mojtaba.
Baca juga: Dunia Digital: Solusi Nyata Lebih Dibutuhkan Daripada Sekadar Konten Viral
“Syukurlah, beliau dalam kondisi sehat. Musuh menyebarkan berbagai rumor dan klaim palsu. Mereka ingin melihat dan menemukan beliau, tetapi masyarakat harus bersabar dan tidak terburu-buru. Beliau akan berbicara kepada kalian pada waktu yang tepat,” tegasnya.
Hosseini mengakui adanya serpihan kecil dari ledakan yang mengenai bagian belakang telinga Mojtaba. Namun, ia menegaskan bahwa luka tersebut terus membaik dan Mojtaba kini dalam kondisi sepenuhnya sehat.
Pernyataan ini muncul di tengah laporan yang saling bertentangan mengenai kondisi medis Mojtaba Khamenei. Sejumlah media internasional sebelumnya melaporkan bahwa ia mengalami luka serius akibat serangan tersebut.
Pada awal bulan ini, Reuters mengutip tiga sumber yang dekat dengan lingkaran dalam Khamenei. Laporan tersebut menyebutkan bahwa Mojtaba, yang berusia 56 tahun, mengalami luka parah di wajah serta cedera serius pada salah satu atau kedua kakinya.
Serangan tersebut dilaporkan menargetkan kompleks Pemimpin Tertinggi Iran di pusat Teheran. Laporan itu juga menyebutkan bahwa sejumlah anggota keluarga Mojtaba, termasuk istri dan kerabat dekatnya, tewas dalam serangan tersebut.
Meskipun demikian, menurut laporan Reuters, Mojtaba Khamenei dilaporkan tetap sadar penuh secara mental. Ia bahkan disebut tetap terlibat dalam pengambilan keputusan penting negara melalui konferensi audio.
Pembahasan penting yang melibatkan Mojtaba meliputi konflik yang sedang berlangsung dan negosiasi dengan Washington. Hal ini menunjukkan peran strategisnya meskipun dikabarkan terluka.
Sementara itu, laporan terpisah dari CNN yang mengutip penilaian intelijen Amerika Serikat memberikan pandangan lain. Laporan tersebut menyebutkan bahwa Mojtaba Khamenei kini menjadi figur sentral dalam menentukan strategi perang dan negosiasi Iran.
Peran ini semakin krusial setelah serangan terbaru yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Intelijen AS belum dapat memastikan secara visual keberadaan Mojtaba sejak ia mengambil alih kepemimpinan setelah kematian ayahnya.
CNN juga melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei menghindari komunikasi elektronik. Ia lebih mengandalkan kurir terpercaya dan pertemuan langsung.
Hal ini dilakukan sambil menjalani perawatan medis akibat luka bakar dan cedera lain di bagian wajah, lengan, tubuh, dan kaki. Laporan ini menambah kompleksitas informasi mengenai kondisi sebenarnya Mojtaba Khamenei.





