KabarDermayu.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran dalam beberapa hari mendatang. Namun, pertanyaan besar muncul mengenai alasan di balik keinginan AS untuk segera mengakhiri konflik dengan Iran.
Apakah dorongan ini murni karena keinginan Trump untuk meredakan ketegangan, ataukah lebih dipicu oleh tekanan ekonomi dan politik, baik dari dalam negeri maupun internasional?
Sejumlah analis berpendapat bahwa tekanan ekonomi dan politik yang semakin meningkat menjadi faktor utama di balik upaya AS untuk mengakhiri perang. Lonjakan harga bahan bakar, ketegangan dengan negara-negara Teluk, kritik domestik, serta rencana pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping, semuanya mempersempit ruang gerak pemerintahan Trump.
Situasi ini terjadi di tengah konflik yang terus mengguncang pasar energi global. Evan Cooper, seorang analis riset di Program Reimagining US Grand Strategy, Stimson Center, kepada Anadolu, menyatakan bahwa Trump memang terlihat ingin segera mengakhiri perang dengan Iran, namun terdapat banyak kendala signifikan yang harus dihadapi.
Menurut Cooper, Trump menghadapi tekanan dari dalam negeri agar tidak terlihat lemah dengan memberikan konsesi berlebihan kepada Iran. Hal ini terutama terkait dengan pengaruh Teheran di Selat Hormuz dan masa depan program nuklirnya. Selain itu, perbedaan kepentingan antara negara-negara Teluk dan Israel semakin mempersulit jalan menuju kesepakatan damai jangka panjang.
Sementara itu, Fox News melaporkan pada Rabu bahwa Trump yakin kesepakatan dengan Iran dapat diselesaikan dalam waktu satu minggu. Namun, sehari kemudian, Iran dan Israel kembali terlibat serangan di dekat Selat Hormuz, menunjukkan betapa rapuhnya proses diplomasi yang sedang berlangsung.
Analis kebijakan luar negeri AS, Jack Clayton, menilai gaya negosiasi Trump justru memperumit upaya peredaan konflik. Ia menjelaskan bahwa dalam negosiasi, tuntutan tinggi di awal adalah hal yang biasa sebelum mencapai titik kompromi. Namun, sikap keras Trump turut berkontribusi pada pecahnya perang ini dan berpotensi memicu konflik kembali jika kedua pihak tidak mencapai kompromi.
Clayton juga menambahkan bahwa tantangan politik terbesar Trump adalah bagaimana mengakhiri perang tanpa membuat operasi militer AS terlihat sebagai sebuah kegagalan. Trump kini berada dalam posisi sulit: ingin mengakhiri konflik, namun juga tidak ingin terlihat mundur terkait program nuklir Iran.
Secara politis, Clayton berpendapat bahwa Trump tidak dapat menerima kesepakatan yang dianggap lebih lemah dibandingkan perjanjian nuklir Iran tahun 2015 yang dibuat oleh mantan Presiden AS Barack Obama. Perjanjian tersebut telah terus-menerus dikritik oleh Trump, baik saat kampanye maupun selama menjabat sebagai presiden.
Tekanan Ekonomi Meningkat
Para analis menilai dampak ekonomi akibat perang menjadi salah satu alasan utama Washington mendorong deeskalasi. Konflik ini telah mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menangani sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia, sehingga memicu lonjakan harga bahan bakar di pasar internasional.
Bagi pemerintahan Trump, kenaikan harga bensin berisiko menjadi masalah besar di dalam negeri. Clayton menyatakan bahwa pemerintahan Trump tampaknya tidak memperkirakan Iran akan menutup Selat Hormuz, dan situasi ini justru membuat Iran lebih kuat secara ekonomi dibandingkan sebelum perang dimulai.
Trump, menurut Clayton, sangat sensitif terhadap pasar dan harga energi. Itulah sebabnya Trump terus mengeluarkan berbagai pernyataan untuk menenangkan pasar. Harga bahan bakar di AS dilaporkan naik sekitar 50 persen sejak perang dimulai, menambah tekanan terhadap warga Amerika yang sebelumnya sudah terbebani tingginya biaya hidup.
Clayton menambahkan bahwa Trump sangat memahami dampak politik dari inflasi dan kenaikan harga energi. Ia mengemukakan bahwa isu biaya hidup menjadi salah satu faktor utama kekalahan Partai Demokrat dalam pemilu 2024 saat pemerintahan mantan Presiden Joe Biden.
Cooper juga menilai biaya politik akibat perang mulai semakin terasa. Ia berujar bahwa perang ini sebenarnya sejak awal tidak populer, tetapi kenaikan harga bahan bakar membuat dampak konflik semakin nyata dirasakan masyarakat Amerika.
Konflik ini juga memicu kritik dari sejumlah tokoh konservatif terkemuka seperti Tucker Carlson dan Megyn Kelly. Mereka menuding Trump mengingkari janjinya untuk menghindari perang luar negeri yang mahal. Survei The Washington Post-ABC-Ipsos yang dirilis akhir April menunjukkan 61 persen responden menganggap keterlibatan militer AS di Iran sebagai sebuah kesalahan, sementara 44 persen mengaku mulai mengurangi penggunaan kendaraan karena harga bahan bakar yang terus naik.
Bayang-Bayang Pemilu Paruh Waktu
Baca juga: Erin Balik Polisikan ART, Tak Terima Wajah Anaknya Disebar Tanpa Izin
Menjelang pemilu paruh waktu AS pada November mendatang, para analis menilai Partai Republik mulai khawatir perang ini akan menjadi beban politik. Survei Washington Post-ABC-Ipsos menunjukkan tingkat ketidakpuasan terhadap Trump naik menjadi 62 persen, tertinggi sepanjang dua masa kepresidenannya.
Clayton berpendapat bahwa meskipun deeskalasi dilakukan dengan cepat, dampak politiknya belum tentu langsung hilang. Ia menjelaskan bahwa bahkan jika Trump mulai mengambil langkah untuk meredakan perang, itu belum tentu membantu peluang politiknya maupun Partai Republik di pemilu paruh waktu, karena kondisi ekonomi biasanya membutuhkan waktu untuk pulih.
Namun, Cooper menilai Trump tampaknya lebih fokus membangun citra kekuatannya sendiri dibandingkan memikirkan dampak politik terhadap Partai Republik secara keseluruhan. Trump percaya Partai Republik harus tetap mendukungnya apa pun yang terjadi, dan ia merasa tidak punya kewajiban mengubah kebijakannya demi mempermudah posisi mereka.
Meskipun demikian, Cooper menyebut mulai muncul kecemasan di kalangan Partai Republik terkait dampak perang terhadap persaingan ketat di Kongres. Ia berujar bahwa jika nanti ada politisi Republik di daerah persaingan ketat mulai mengecam perang dengan Iran, itu berarti mereka merasa sudah tidak punya pilihan selain menyelamatkan diri dengan mengkritik Trump.
Ia menambahkan bahwa sebagian pihak di Partai Republik sebenarnya ingin perhatian publik dialihkan ke isu lain seperti Kuba, yang dianggap tidak terlalu mahal secara politik.
Pertemuan dengan Xi Jinping Tambah Tekanan
Trump juga menghadapi tekanan internasional menjelang rencana pertemuannya dengan Xi Jinping pekan depan. Para analis mengatakan Gedung Putih kemungkinan ingin menghindari pembicaraan tingkat tinggi dengan China saat konflik Iran masih mengguncang pasar energi global.
Cooper menyatakan bahwa Trump ingin pertemuan itu fokus pada perdagangan dan cara memperkuat ekonomi AS, termasuk meredakan perang dagang. Menurutnya, perang Iran memberi peluang bagi Xi Jinping untuk tampil sebagai pemimpin yang lebih bertanggung jawab jika berhasil mendorong Trump mengakhiri konflik, yang dapat membuat posisi AS terlihat lebih lemah dibandingkan China.
Clayton menambahkan bahwa China kemungkinan juga akan memanfaatkan krisis ini untuk mempererat hubungan diplomatik dan ekonomi dengan negara-negara Teluk serta Iran. Ia menyoroti meningkatnya minat China memperluas jalur perdagangan dan infrastruktur yang menghubungkan kawasan Teluk dengan Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz, sebagai bagian dari proyek besar Belt and Road Initiative milik Beijing.
Tekanan dari Negara-Negara Teluk
Para analis mengatakan tekanan dari negara-negara Teluk semakin mempersulit perhitungan Washington, meskipun sekutu regional AS juga terpecah soal bagaimana perang ini harus diakhiri. Berdasarkan laporan media, Trump disebut tiba-tiba menghentikan rencana militer AS untuk mengawal kapal komersial di Selat Hormuz setelah Arab Saudi menolak memberikan akses wilayah udara dan pangkalan militernya untuk operasi tersebut.
Cooper menilai sikap Saudi mencerminkan meningkatnya kekecewaan negara-negara Teluk terhadap cara konflik ini ditangani. Ia berujar bahwa Saudi mengirim pesan kuat bahwa mereka tidak puas dengan penanganan konflik ini melalui penolakan akses pangkalan militer.
Di sisi lain, Cooper menyebut Israel dan Uni Emirat Arab tampak lebih sejalan dalam mendorong Washington tetap memberi tekanan terhadap Iran dan menghindari kesepakatan yang membuat Teheran tetap berpengaruh di kawasan. Clayton juga mengatakan serangan drone Iran ke negara-negara Teluk bisa membuat pemerintah kawasan semakin mendekat ke China secara diplomatik maupun ekonomi.
Ia menambahkan bahwa dulu hubungan dengan AS dianggap penting untuk keamanan negara-negara Teluk, namun sekarang justru membuat mereka rentan karena ikut menjadi sasaran dalam perang ini.





