KabarDermayu.com – Fenomena kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin erat kaitannya dengan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai perusahaan global. Teknologi ini bahkan disebut-sebut menjadi pemicu utama perusahaan melakukan efisiensi tenaga kerja dalam dua bulan terakhir.
Laporan terbaru dari perusahaan penempatan kerja Challenger, Gray & Christmas mengindikasikan bahwa AI menjadi penyebab dominan PHK pada April 2026. Angka ini cukup ironis mengingat masifnya investasi perusahaan teknologi dalam pengembangan AI dan otomatisasi bisnis.
Berdasarkan laporan tersebut, sebanyak 21.490 PHK pada bulan April memiliki kaitan dengan AI. Jumlah ini merepresentasikan 26 persen dari total 88.387 PHK yang diumumkan perusahaan sepanjang bulan tersebut.
Andy Challenger, pakar ketenagakerjaan sekaligus Chief Revenue Officer Challenger, Gray & Christmas, menjelaskan bahwa terlepas dari apakah pekerjaan individu benar-benar digantikan AI atau tidak, dana yang sebelumnya dialokasikan untuk posisi tersebut kini sedang dialihkan. Hal ini sebagaimana dikutip dari CBS News pada Selasa, 12 Mei 2026.
Baca juga: Wamendagri: Pemimpin Perlu Ideologi Kuat dan Keberanian Mengambil Risiko
Secara keseluruhan, jumlah PHK pada April mengalami peningkatan signifikan sebesar 38 persen dibandingkan bulan Maret 2026. Sektor teknologi menjadi kontributor terbesar dalam gelombang PHK ini, dengan total 33.361 kasus.
Beberapa perusahaan dilaporkan mulai melakukan pemangkasan biaya tenaga kerja dengan tujuan mengalihkan anggaran ke pengembangan AI. Fenomena ini terjadi seiring dengan semakin agresifnya perusahaan dalam mengadopsi teknologi otomatisasi guna meningkatkan efisiensi operasional bisnis.
Meskipun demikian, sejumlah ekonom berpendapat bahwa AI belum tentu menjadi satu-satunya faktor penyebab gelombang PHK ini. Ada kemungkinan sebagian perusahaan menggunakan AI sebagai alasan untuk melakukan efisiensi di tengah tekanan ekonomi global yang sedang melanda.
Selain AI, Challenger juga mencatat bahwa kondisi ekonomi dan dinamika pasar menjadi faktor terbesar penyebab PHK sepanjang tahun 2026. Faktor-faktor ini tercatat telah memicu 53.058 kasus pemangkasan tenaga kerja hingga saat ini.
Perang yang terjadi di Iran serta kebijakan tarif yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga disebut turut memperburuk kondisi bisnis, sehingga mendorong perusahaan untuk melakukan pengurangan pegawai.
Di sisi lain, data pasar tenaga kerja Amerika Serikat mulai menunjukkan dampak nyata AI terhadap pekerjaan kantoran. Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, menyebutkan bahwa PHK di sektor jasa profesional dan bisnis mengalami peningkatan sebesar 150.000 dibandingkan tahun sebelumnya. Sektor ini dinilai paling rentan terdampak oleh otomatisasi yang dibawa oleh AI.
Namun, sejumlah ekonom memiliki pandangan optimis bahwa AI pada akhirnya juga berpotensi menciptakan jenis pekerjaan baru. Teknologi ini diprediksi akan memunculkan kebutuhan akan profesi-profesi yang sebelumnya belum pernah ada, serupa dengan apa yang terjadi pada revolusi teknologi sebelumnya.
Perdebatan mengenai dampak AI terhadap lapangan kerja masih terus berlangsung. Sebagian pihak memandang AI sebagai ancaman signifikan bagi para pekerja kantoran, sementara pihak lainnya meyakini bahwa teknologi ini justru akan membuka peluang ekonomi dan meningkatkan produktivitas baru di masa depan.





