KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan, bahkan menyentuh rekor terendah sepanjang masa di angka Rp 17.500 per dolar AS.
Menanggapi hal ini, Bank Indonesia (BI) angkat bicara mengenai faktor-faktor yang menyebabkan pelemahan rupiah.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah merupakan kombinasi dari sentimen global dan domestik.
Di kancah global, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu. Eskalasi konflik ini mendorong kenaikan harga minyak dunia dan menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan internasional.
Kondisi ini secara tidak langsung turut menekan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Baca juga: Iran Tingkatkan Pengayaan Uranium Jika Diserang AS-Israel
Sementara itu, dari sisi domestik, terdapat beberapa faktor yang turut memperburuk tekanan terhadap rupiah.
Peningkatan kebutuhan dolar AS bersifat musiman. Hal ini meliputi pembayaran utang luar negeri (ULN), pembayaran dividen oleh perusahaan, serta kebutuhan menjelang ibadah haji.
Lonjakan permintaan dolar AS di pasar domestik ini turut memperparah pelemahan nilai tukar rupiah.
Menghadapi situasi ini, BI menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar. BI akan melakukan intervensi yang terukur, baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun Non-Deliverable Forward (NDF).
BI juga akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneternya. Langkah ini diharapkan dapat meredakan tekanan yang terjadi pada rupiah.
Meskipun demikian, Destry memastikan bahwa kepercayaan investor asing terhadap aset portofolio domestik tetap terjaga, bahkan cenderung membaik.
Hal ini tercermin dari aliran masuk modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Sepanjang April 2026, tercatat aliran masuk modal ke kedua instrumen tersebut mencapai Rp 61,6 triliun.
Selain itu, likuiditas valuta asing (valas) di pasar domestik juga dinilai memadai.
Hal ini terlihat dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) valas yang mencapai 10,9 persen secara year-to-date (ytd) hingga akhir Maret 2026.
BI memproyeksikan bahwa tekanan musiman yang terjadi saat ini akan mereda.
Dengan meredanya faktor-faktor tersebut, nilai tukar rupiah diharapkan dapat kembali ke level fundamentalnya.





