Dampak Ekonomi Kuartal I dan Geopolitik TimTeng Tekan Rupiah ke Rp 17.515

oleh -5 Dilihat
Dampak Ekonomi Kuartal I dan Geopolitik TimTeng Tekan Rupiah ke Rp 17.515

KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada pembukaan perdagangan pagi ini, dibuka pada level Rp 17.489 per dolar Amerika Serikat, yang berarti mengalami penurunan sebesar 75 poin atau 0,43 persen.

Situasi serupa berlanjut di pasar spot pada Selasa, 12 Mei 2026. Hingga pukul 10.56 WIB, rupiah diperdagangkan di angka Rp 17.515 per dolar AS, menunjukkan pelemahan sebesar 101 poin atau 0,58 persen dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp 17.414 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan tren pelemahan rupiah ini akan terus berlanjut. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah dapat menyentuh level Rp 17.550 per dolar AS pada pekan ini.

Beberapa faktor internal turut berkontribusi terhadap pelemahan rupiah ini. Meskipun pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026 tercatat sebesar 5,61 persen, angka tersebut ternyata belum mampu mendorong perbaikan ekonomi secara menyeluruh dan penguatan nilai tukar rupiah.

Ibrahim menjelaskan bahwa komponen utama pertumbuhan ekonomi kuartal I tersebut berasal dari konsumsi masyarakat dan belanja negara. Hal ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap iklim investasi.

“Walaupun investasi mengalami kenaikan, persentasenya sangat kecil sekali,” tegas Ibrahim kepada awak media pada Selasa, 12 Mei 2026.

Selain itu, Ibrahim menyoroti dampak dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya gejolak di Selat Hormuz. Situasi ini telah menimbulkan ancaman serius bagi perekonomian Indonesia. Buktinya, sepanjang Januari hingga April 2026, tercatat sebanyak 40.000 buruh di sektor padat karya seperti manufaktur tekstil, garmen, dan elektronik telah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Baca juga: Wapres Gibran Pantau Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A

“Ada kemungkinan besar bahwa beberapa bulan ke depan, PHK akan kembali meningkat yang cukup signifikan,” ujar Ibrahim.

Lebih lanjut, Ibrahim mengemukakan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia saat ini bekerja di sektor non-formal. Data menunjukkan hampir 87,74 juta masyarakat tercatat sebagai pekerja informal, yang berarti sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai wiraswasta.

“Artinya apa? Artinya bahwa saat ini yang ada di Indonesia, yang bekerja secara formal itu sangat sedikit sekali dibandingkan dengan pekerja informal yang jumlahnya mencapai sebanyak 87,74 juta orang pekerja,” jelasnya.

Dari sisi eksternal, Ibrahim menguraikan bahwa situasi di Timur Tengah kembali memanas pasca-penolakan proposal yang diajukan oleh Iran melalui mediasi Pakistan dan Qatar oleh Amerika Serikat (AS). Penolakan ini memicu ketegangan baru, dengan masih terjadinya serangan-serangan militer skala kecil di Selat Hormuz.

“Artinya ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas, walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai kata Trump. Tapi kita lihat bahwa kenyataannya di lapangan Amerika terus melakukan penyerangan-penyerangan di Selat Hormuz, dan Iran pun juga melakukan serangan balik terhadap pasukan-pasukan Amerika sendiri,” ujarnya.

Situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah ini secara langsung memengaruhi pasar minyak global. Bos Aramco sendiri memprediksi bahwa krisis pasar minyak global berpotensi berlanjut hingga tahun 2027, meskipun Selat Hormuz kembali dibuka.

Pernyataan ini didasarkan pada analisis bahwa pasar minyak global akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali ke kondisi normal, bahkan jika arus perdagangan di Selat Hormuz telah kembali dibuka. Hilangnya pasokan minyak global yang signifikan, diperkirakan mencapai 1 miliar barel, menjadi salah satu faktor utama yang memperpanjang potensi krisis tersebut.