Bedah Bariatrik Disebut Efektif Perbaiki Kesehatan Pasien Obesitas

oleh -6 Dilihat
Bedah Bariatrik Disebut Efektif Perbaiki Kesehatan Pasien Obesitas

KabarDermayu.com – Obesitas kini telah melampaui sekadar permasalahan gaya hidup semata. Kondisi ini telah diakui secara luas sebagai penyakit kronis yang berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi kesehatan serius, mulai dari diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan tidur, hingga penurunan signifikan terhadap kualitas hidup penderitanya.

Spesialis bedah subpesialis digestif konsultan, Dr. dr. Errawan Wiradisuria, Sp.B, KBD, M.Kes menegaskan bahwa berbagai institusi kesehatan ternama dunia seperti American Medical Association dan Canadian Medical Association telah secara resmi mengklasifikasikan obesitas sebagai penyakit kronis yang memerlukan penanganan serius serta berkelanjutan. Meskipun demikian, di Indonesia sendiri obesitas masih banyak dianggap sekadar sebagai masalah pola hidup semata.

Salah satu alternatif solusi yang dinilai efektif untuk mengatasi obesitas adalah melalui prosedur bedah bariatrik-metabolik. Prosedur pembedahan ini dirancang tidak hanya untuk membantu penurunan berat badan secara signifikan, tetapi juga untuk memperbaiki gangguan metabolisme tubuh seperti diabetes dan hipertensi yang sering menyertai kondisi obesitas.

Baca juga: Kata Media Asing usai Layvin Kurzawa Antar Persib Juara Super League

“Jika dibandingkan dengan metode konvensional seperti diet, olahraga, dan konsumsi obat-obatan, tindakan bedah ini memberikan hasil jangka panjang yang lebih optimal pada kasus obesitas berat,” jelas Errawan dalam kesempatan ditemui di Jakarta baru-baru ini.

Errawan menyampaikan beberapa manfaat utama yang dapat diperoleh dari prosedur pembedahan bariatrik. Pertama, penurunan berat badan yang bersifat signifikan dan dapat bertahan dalam waktu yang lama. Kedua, peningkatan kualitas hidup secara keseluruhan bagi pasien. Ketiga, penurunan risiko penyakit penyerta atau ko-morbid. Keempat, perbaikan kondisi terkait diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi yang sering dialami penderita obesitas.

“Pasien yang memenuhi kriteria untuk menjalani operasi ini adalah individu dengan indeks massa tubuh (BMI) di atas 35, atau mereka yang memiliki BMI di atas 30 namun disertai penyakit penyerta berisiko tinggi yang berkaitan dengan obesitas. Selain mempertimbangkan kriteria medis tersebut, pasien juga diharuskan memiliki komitmen kuat untuk menerapkan pola hidup sehat dan menjalani kontrol kesehatan secara berkala dalam jangka panjang,” papar Errawan lebih lanjut.

Berkaitan dengan teknik bedah bariatrik yang berkembang saat ini, salah satu prosedur yang paling banyak dipilih pasien adalah Laparoscopic Sleeve Gastrectomy (LSG). Prosedur ini banyak diminati karena beberapa keunggulan, di antaranya prosesnya relatif sederhana, tingkat komplikasi yang rendah, penurunan berat badan yang berlangsung cepat, serta masa perawatan yang lebih singkat dibandingkan metode bedah lainnya.

“Di samping keberhasilan tindakan operasi itu sendiri, keberhasilan terapi secara keseluruhan sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam menerapkan pola makan setelah operasi, mengonsumsi vitamin secara teratur, melakukan olahraga secara rutin, serta menerapkan perubahan gaya hidup sehat secara menyeluruh,” tambah dokter yang berpraktik di RS Premier Bintaro ini.

Meskipun demikian, pada praktiknya saat ini prosedur bedah bariatrik masih belum mendapatkan dukungan pembiayaan dari pihak asuransi maupun BPJS Kesehatan. Hal ini disebabkan oleh masih banyak pihak yang menganggap tindakan bariatrik sebagai prosedur kosmetik semata, bukan sebagai kebutuhan medis yang mendesak.

Menariknya, sejak tahun 2013 lalu, World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia telah menyatakan bahwa obesitas merupakan suatu penyakit yang jelas. Keputusan ini didasarkan pada pengamatan bahwa kondisi obesitas hampir selalu disertai berbagai penyakit penyerta atau ko-morbid yang serius. Beberapa di antaranya meliputi hipertensi, obstructive sleep apnea (OSA) atau gangguan tidur, hiperlipidemia atau kadar lemak darah tinggi, diabetes, batu empedu, gangguan hormonal yang ditandai dengan menstruasi tidak teratur, nyeri sendi lutut, hingga varises pada tungkai kaki.

“Untuk memperoleh penanganan yang tepat dan sesuai dengan kondisi masing-masing individu, sangat disarankan agar pasien melakukan konsultasi dengan dokter spesialis yang kompeten di bidangnya. Dengan demikian, pasien dapat memperoleh evaluasi menyeluruh serta terapi yang optimal sesuai dengan kondisi kesehatannya,” tutup Errawan.