Belasan Tembakan Terjadi Saat Penangkapan Mantan Kepala Polisi Filipina

oleh -4 Dilihat
Belasan Tembakan Terjadi Saat Penangkapan Mantan Kepala Polisi Filipina

KabarDermayu.com – Suasana mencekam menyelimuti Gedung Senat Filipina ketika belasan kali letusan senjata terdengar. Peristiwa ini terjadi menyusul upaya penangkapan terhadap Senator Ronald dela Rosa, mantan kepala polisi di era Presiden Rodrigo Duterte.

Ronald dela Rosa saat ini tengah menjadi buruan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Seorang jurnalis Al Jazeera, Jamela Alindogan, melaporkan bahwa sekitar 15 tembakan terdengar dan memaksa para wartawan untuk segera mengevakuasi diri. Situasi kian tegang ketika pasukan keamanan memerintahkan seluruh orang di dalam gedung untuk segera meninggalkan lokasi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi pasti mengenai siapa yang melepaskan tembakan tersebut.

Sebelumnya, Senator Ronald dela Rosa telah mengantisipasi kemungkinan penangkapannya. Ia bahkan secara terbuka meminta dukungan masyarakat untuk berkumpul di gedung parlemen guna mencegah dirinya dibawa ke Den Haag, markas ICC.

Dalam sebuah video yang diunggah di akun Facebooknya, dela Rosa memohon bantuan, “Saya memohon kepada kalian. Saya harap kalian bisa membantu saya. Jangan biarkan ada lagi warga Filipina yang dibawa ke Den Haag.”

Tak lama setelah pesan tersebut disampaikan, aparat penegak hukum mulai memadati area di luar Gedung Senat.

Baca juga: Bernabeu yang Krusial: Arbeloa Menjawab Soal Madrid yang Mandul Gelar Domestik

Ronald dela Rosa dikenal sebagai tokoh sentral dalam pelaksanaan kebijakan perang melawan narkoba yang digalakkan oleh mantan Presiden Rodrigo Duterte. Sebelumnya, pada hari Selasa, dela Rosa telah menyampaikan permohonannya kepada Presiden Ferdinand Marcos Jr agar tidak menyerahkannya kepada ICC.

Ia menegaskan kesiapannya untuk menghadapi proses hukum di Filipina. Karena kekhawatiran akan penangkapan, dela Rosa memilih untuk tetap berada di kantornya di gedung legislatif.

Ia menyatakan bahwa dirinya telah mengabdi dengan setia kepada negaranya selama ini. ICC sendiri pada hari Senin telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap dela Rosa, yang sebenarnya telah diterbitkan sejak bulan November lalu.

Dugaan keterlibatannya dalam kejahatan terhadap kemanusiaan merupakan tuduhan yang sama yang juga menjerat mantan Presiden Rodrigo Duterte. Duterte yang kini berusia 81 tahun tengah menanti persidangan di Den Haag setelah sempat ditangkap tahun lalu.

“Saya Bekerja dengan Setia”

Ronald dela Rosa, yang akrab disapa dengan julukan “Bato” atau “batu”, telah berada di bawah perlindungan Senat sejak aparat keamanan memasuki gedung parlemen pada hari Senin. Ini merupakan kemunculannya di publik pertama kali sejak bulan November.

Ia secara tegas membantah terlibat dalam kasus pembunuhan ilegal. “Saya berharap sebagai bapak bangsa, Anda akan melindungi seluruh rakyat Filipina. Itulah tugas pemerintah, menjaga rakyatnya. Saya melakukan semuanya untuk negara. Saya tidak memperkaya diri sendiri. Saya bekerja dengan setia,” ujar dela Rosa kepada wartawan saat ditanya pesannya untuk Presiden Marcos.

Ia menambahkan, “Tuan Presiden, suatu hari Anda mungkin akan menghadapi situasi seperti ini. Anda juga bisa mengalami masalah, dan saat itu Anda akan mengerti apa yang saya rasakan sekarang.”

Dela Rosa dikenal sebagai orang kepercayaan Duterte dan memimpin operasi pemberantasan narkoba berskala besar. Pihak kepolisian mencatat lebih dari 6.000 tersangka pengedar narkoba tewas dalam operasi resmi tersebut.

Menurut Alindogan, para sekutu Duterte merasa diri mereka kebal dari tuntutan hukum. Mereka juga menolak mengakui kewenangan hukum internasional dan membantah segala tuduhan yang dialamatkan kepada mereka.

Jurnalis Al Jazeera itu lebih lanjut menjelaskan bahwa meskipun insiden kekerasan bukanlah hal yang asing terjadi di Manila, bentrokan bersenjata di gedung lembaga hukum dianggap sebagai kejadian yang sangat tidak biasa. Hal ini mengingat tempat tersebut seharusnya menjadi simbol ketertiban dan etika.

Selain operasi resmi yang dilakukan oleh kepolisian, ribuan pengguna narkoba juga dilaporkan tewas akibat penembakan di kawasan permukiman kumuh. Banyak dari kasus ini diduga dilakukan oleh kelompok main hakim sendiri atau dipicu oleh konflik antarwilayah.

Pihak kepolisian Filipina sendiri menyatakan bahwa para korban tewas karena melakukan perlawanan saat hendak ditangkap. Mereka juga membantah adanya pembunuhan sistematis maupun upaya untuk menutupi kasus.

“Perang melawan narkoba” menjadi salah satu kampanye utama Duterte saat memenangkan pemilihan presiden pada tahun 2016. Ketika masih menjabat sebagai wali kota, Duterte dikenal dengan gaya bicaranya yang keras dan berulang kali berjanji akan membunuh ribuan pengedar narkoba.

Bahkan, dalam berbagai pidato publik yang disiarkan televisi, Duterte kerap menantang ICC untuk memburunya. Tim kuasa hukum Duterte di ICC menyatakan bahwa mantan presiden tersebut tidak bersalah. Mereka juga berargumen bahwa pernyataan keras Duterte selama ini hanyalah taktik untuk menakut-nakuti para pelaku kejahatan.