KabarDermayu.com – Prof. Raymond, seorang tokoh terkemuka di PT Dexa Medica, baru-baru ini mencatatkan sejarah di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Ia dianugerahi Piagam MURI No. 12691/R.MURI/IV/2026 sebagai peneliti Indonesia dengan publikasi Scopus dan paten terbanyak di bidang ilmu biomedis interdisipliner.
Prof. Raymond, yang juga menjabat sebagai Business Development and Scientific Affairs Director di Dexa Medica, telah menorehkan jejak karir yang luar biasa. Ratusan publikasi ilmiah internasional, puluhan paten, serta pengakuan dalam AD Scientific Index dan keanggotaan di komunitas ilmiah Sigma Xi menjadi bukti produktivitasnya.
Namun, yang membedakan Prof. Raymond bukan hanya kuantitas karyanya, melainkan filosofi mendalam yang melandasinya. Ia percaya bahwa sains yang kuat harus beriringan dengan landasan hukum dan etika yang kokoh agar dapat memberikan manfaat nyata.
Dalam kesibukannya di Dexa Medica, Prof. Raymond tengah menempuh studi Doktor Hukum di Universitas Pelita Harapan (UPH). Keputusannya untuk mendalami hukum mencerminkan pandangannya yang unik. Baginya, inovasi kesehatan harus mampu menembus kerangka regulasi yang berlaku.
Sebuah molekul baru yang menjanjikan, menurutnya, tidak akan pernah menjadi obat jika tidak dapat melewati jalur regulasi. Demikian pula, teknologi canggih dalam sistem penghantaran obat (drug delivery) yang tidak memiliki pijakan etika yang kuat dapat menghadapi resistensi yang sebenarnya bisa diantisipasi sejak awal.
Oleh karena itu, Prof. Raymond bertekad untuk memastikan bahwa setiap hasil riset timnya tidak hanya valid secara ilmiah, tetapi juga sah secara hukum dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral.
“Riset kesehatan tidak boleh berhenti di dinding laboratorium. Ia harus mampu menembus sekat regulasi dan etika agar bisa diimplementasikan secara nyata di tengah masyarakat,” ujarnya.
Sebelum dikenal luas di kancah riset farmasi Indonesia, Prof. Raymond pernah terlibat dalam proyek riset badan antariksa Amerika Serikat, NASA. Melalui program Spacelab Life Sciences, ia meneliti dampak kondisi tanpa gravitasi terhadap kesehatan manusia, khususnya risiko osteoporosis pada astronot.
Pengalaman riset di luar angkasa tersebut mengajarkan kepadanya sebuah pelajaran penting: variabel yang tampak sekunder dapat memiliki pengaruh besar terhadap seluruh sistem biologis manusia. Cara berpikir lintas skala inilah yang kemudian menjadi salah satu ciri khasnya.
Setelah dari NASA, Prof. Raymond melanjutkan masa penelitiannya di University of California San Francisco (UCSF), salah satu pusat riset biomedis terkemuka di dunia. Di sana, ia tidak hanya memperdalam fondasi ilmiahnya, tetapi juga aktif terlibat dalam proses pembentukan pengetahuan baru, bukan sekadar menjadi pengguna ilmu yang sudah ada.
Titik balik penting dalam karirnya terjadi ketika ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Meskipun memiliki peluang untuk melanjutkan karir ilmiahnya di Amerika Serikat, Prof. Raymond memilih pulang karena melihat adanya persoalan yang jauh lebih penting untuk dikerjakan di dalam negeri.
Ia menyadari bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar, namun riset farmasi yang berbasis pada biodiversitas lokal masih tertinggal jauh dari potensinya yang sesungguhnya.
Dengan tekad tersebut, ia memutuskan untuk pulang dan mengerjakan persoalan itu dari dalam negeri. Di Indonesia, perjalanannya membawanya bertemu dengan Dexa Group, sebuah perusahaan yang memberikan ruang bagi gagasan integrasi sains, hukum, dan etika untuk berkembang dan diterapkan secara nyata.
Bagi Prof. Raymond, riset bukan hanya tentang menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan tersebut dapat memperkuat daya saing Dexa Group sekaligus memberikan kontribusi bagi kemajuan industri kesehatan nasional.
Salah satu proyek yang paling mencerminkan filosofinya adalah pengembangan Obat Modern Alami Integratif (OMAI). Konsep OMAI menempatkan produk ini pada posisi yang berbeda dari jamu maupun suplemen biasa.
Pengembangannya menuntut pembuktian ilmiah yang ketat, standardisasi bahan baku, serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Setiap klaim terapeutik harus didukung oleh data klinis yang tervalidasi, setiap kandungan harus terstandarisasi, dan setiap proses pengembangan harus memenuhi kerangka regulasi yang ada.
Pada titik inilah pendekatan Prof. Raymond menjadi sangat relevan. Indonesia diberkahi dengan ribuan spesies tanaman yang memiliki potensi medis luar biasa, namun potensi tersebut tidak serta merta menjadi solusi kesehatan.
Potensi itu harus melewati serangkaian proses pembuktian ilmiah, standardisasi bahan baku, kepatuhan regulasi, serta pertimbangan etis mengenai bagaimana pengetahuan tersebut dikembangkan dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
“Pengembangan fitofarmaka bukan hanya soal sains, tetapi juga soal bagaimana memastikan setiap inovasi dapat diterapkan secara bertanggung jawab dan memberi manfaat nyata,” katanya.
Selain OMAI, Prof. Raymond juga aktif terlibat dalam pengembangan teknologi sistem penghantaran obat (drug delivery system) dan eksplorasi molekul biologis baru. Kedua area ini secara signifikan mendorong kemampuan riset farmasi Dexa Group menjadi lebih kompetitif, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Pengakuan internasional juga turut mengiringi perjalanan karir Prof. Raymond. Sejak September 2025, ia tercatat sebagai anggota British Publishing House, yang semakin memperkuat rekognisi internasional atas kiprahnya dalam komunitas ilmiah dan publikasi global.
Ia juga masuk dalam berbagai pemeringkatan ilmuwan dunia, termasuk AD Scientific Index, serta menjadi bagian dari Sigma Xi, sebuah persekutuan ilmuwan riset yang anggotanya mencakup banyak peraih Nobel.
Meskipun demikian, Prof. Raymond tidak melihat pencapaian Rekor MURI sebagai pencapaian individu semata. Baginya, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi ekosistem yang melibatkan tim riset, institusi, industri, dan lingkungan yang mendukung gagasan-gagasan lintas disiplin untuk tumbuh, diuji, dan diterapkan.
Hal inilah yang menjelaskan mengapa ia terus bergerak tanpa henti. Bukan karena apa yang telah dicapai belum cukup, melainkan karena sains pada hakikatnya tidak mengenal garis akhir. Regulasi terus berkembang, pertimbangan etis terus bergerak, dan kebutuhan masyarakat terus berubah.
Baca juga di sini: Phapros Raih Laba Bersih Kuartal I-2026 Naik 113%, Sumber Keuntungan Terungkap
Seorang peneliti yang ingin karyanya tetap relevan harus mampu bergerak seiring dengan dinamika tersebut. Dari program riset NASA hingga Piagam MURI yang kini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, satu keyakinan tetap konsisten: ilmu pengetahuan yang paling berharga adalah ilmu yang sampai ke tangan orang yang membutuhkannya.







