KabarDermayu.com – Panggung drama musikal Indonesia kembali bergairah dengan kehadiran pertunjukan “MAR”, sebuah karya yang didedikasikan untuk mengabadikan lagu-lagu legendaris ciptaan Ismail Marzuki. ArtSwara, selaku produser, akan kembali memboyong musikal ini ke hadapan publik pada tahun 2026, membawa semangat baru dan kehadiran talenta-talenta ternama seperti Tanta Ginting dan Teza Sumendra.
“MAR” bukan sekadar sajian hiburan semata, melainkan sebuah narasi romantis yang terjalin erat dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Alur cerita berpusat pada kisah cinta antara Mar, seorang prajurit Tentara Keamanan Rakyat, dan Aryati, seorang sukarelawati di rumah sakit di Bandung pada tahun 1946. Ikatan mereka diuji oleh gejolak besar, termasuk peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api yang menjadi saksi perpisahan mereka.
Kembalinya “MAR” ke panggung teater bukanlah tanpa alasan kuat. Sang sutradara, Maera, mengungkapkan bahwa dirinya masih memiliki keinginan mendalam untuk menggali lebih jauh potensi cerita yang telah ia sajikan sebelumnya. Ia merasa masih ada aspek dari karakter Mar yang dapat dieksplorasi lebih kaya.
Pernyataan Maera ini disampaikan saat konferensi pers yang digelar di Jakarta Selatan pada Sabtu, 2 Mei 2026. Ia menambahkan bahwa antusiasme penonton terhadap pertunjukan sebelumnya juga menjadi pendorong utama. Banyaknya apresiasi dan permintaan dari publik yang belum berkesempatan menyaksikan langsung menjadi alasan kuat untuk memberikan kesempatan kedua.
Pertunjukan musikal “MAR” dijadwalkan akan berlangsung pada tanggal 15 hingga 17 Mei 2026 di Ciputra Artpreneur. Kali ini, penonton akan disuguhkan dengan konsep yang lebih segar dan peningkatan signifikan pada aspek teknis panggung, demi pengalaman yang lebih imersif.
Perjalanan Tanta Ginting: Kembali ke Akar Musikal
Salah satu daya tarik utama dalam pementasan “MAR” kali ini adalah kembalinya Tanta Ginting ke dunia drama musikal setelah sekian lama absen. Tanta Ginting mengakui bahwa keputusannya untuk menjauh dari panggung musikal sebelumnya disebabkan oleh minimnya produksi pertunjukan semacam ini di Indonesia.
Ia mengungkapkan rasa berat hati ketika harus meninggalkan dunia musikal karena ketiadaan komunitas yang mendukung. Namun, kini ia kembali dengan semangat baru dan tekad yang kuat untuk memulai lagi dari awal. Tanta menegaskan kesiapannya untuk terus belajar dan berkembang demi memberikan penampilan terbaiknya.
Tanta Ginting menambahkan bahwa tawaran untuk kembali terlibat dalam musikal ini tidak bisa ia tolak. Ia berjanji akan mengerahkan segala kemampuannya untuk belajar dan menjadi bagian yang berharga dari pertunjukan “MAR”.
Baca juga di sini: Klok Terluka Akibat Tuduhan Rasisme dari Sumardji Terhadap Dirinya
Menurut pandangannya, drama musikal merupakan bentuk seni pertunjukan yang paling menantang. Hal ini dikarenakan musikal menuntut tiga kemampuan utama secara bersamaan: akting yang kuat, kemampuan vokal yang mumpuni, dan ekspresi gerak tubuh yang memukau. Selain itu, semua elemen tersebut harus ditampilkan secara langsung atau *live*, tanpa bantuan rekaman, yang menuntut tingkat konsistensi dan ketahanan yang sangat tinggi dari setiap pemain.
Teza Sumendra: Belajar Mengendalikan Diri di Panggung Kolosal
Sementara itu, Teza Sumendra memandang keterlibatannya dalam musikal “MAR” sebagai sebuah proses pembelajaran yang mendalam. Ia secara khusus menyoroti pentingnya sinergi dan kerja sama tim dalam sebuah produksi musikal, sebuah aspek yang sangat berbeda ketika ia tampil sebagai solois dalam kapasitasnya sebagai penyanyi.
Teza Sumendra menjelaskan bahwa pementasan musikal selalu mengajarkannya untuk mampu mengendalikan ego dan mengelola suaranya dengan baik. Ia menekankan pentingnya untuk memahami batasan diri dan mengikuti arahan partitur yang telah ditentukan demi keselarasan pertunjukan secara keseluruhan.
Ia juga menekankan bahwa latihan yang intens dan konsisten setiap hari menjadi kunci utama agar para pemain dapat bersatu padu dalam harmoni, tanpa ada yang saling mengganggu satu sama lain. Hal ini penting untuk menciptakan sebuah kesatuan pertunjukan yang utuh.
Yang menarik, Teza Sumendra mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam musikal ini bukanlah sekadar jumlah lagu yang harus dibawakan. Tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana setiap pemain mampu memahami dan mengeksekusi bagian vokal mereka masing-masing dengan sempurna, selaras dengan keseluruhan aransemen.
“MAR” tidak hanya menyajikan sebuah kisah cinta yang menyentuh, tetapi juga mampu menggambarkan semangat cinta terhadap Tanah Air. Cerita ini secara kuat merefleksikan pengorbanan luar biasa yang dilakukan oleh masyarakat Bandung, yang rela membakar rumah mereka sendiri demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Lebih dari itu, pertunjukan “MAR” ini juga merupakan bagian dari upaya ArtSwara untuk terus berkontribusi dalam membangun ekosistem seni pertunjukan musikal di Indonesia. Dengan perpaduan antara narasi yang emosional, lagu-lagu ikonik dari Ismail Marzuki, serta penampilan memukau dari para aktor dan aktris berbakat, “MAR” diprediksi akan menjadi salah satu pertunjukan paling berkesan yang wajib disaksikan pada tahun ini.





