KabarDermayu.com – Kasus dugaan penyadapan ilegal yang menyasar Presiden RI, Prabowo Subianto, kini tengah menjadi perhatian serius aparat penegak hukum. Bareskrim Polri melalui serangkaian penyidikan telah menetapkan sejumlah perwira tinggi kepolisian sebagai tersangka dalam perkara yang mencakup akses ilegal dan penghapusan data elektronik tersebut.

Peristiwa ini menambah daftar panjang insiden spionase yang melibatkan pejabat tinggi negara di tingkat global. Sepanjang sejarah modern, praktik penyadapan terhadap pemimpin dunia telah beberapa kali terungkap, memicu ketegangan diplomatik serta perdebatan mengenai batas privasi dan keamanan nasional.

Berikut adalah rangkuman sejumlah pemimpin dunia yang pernah menjadi target penyadapan dalam catatan sejarah:

1. Angela Merkel

Pada 2015, publik dikejutkan dengan laporan WikiLeaks yang menyebutkan bahwa Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) telah memantau komunikasi telepon milik mantan Kanselir Jerman, Angela Merkel, selama bertahun-tahun. Penyadapan ini tidak hanya menyasar Merkel, tetapi juga staf dekatnya serta 125 nomor telepon pejabat tinggi Jerman lainnya. Dokumen tersebut mengungkap rekaman percakapan terkait krisis keuangan internasional dan komunikasi diplomatik penting lainnya.

2. Francois Hollande

Di tahun yang sama, Presiden Prancis saat itu, Francois Hollande, juga dilaporkan menjadi target penyadapan NSA. Dokumen yang dipublikasikan oleh media Prancis, Liberation, menunjukkan bahwa badan intelijen AS tersebut memantau percakapan pejabat di Paris terkait kebijakan ekonomi dan hubungan luar negeri. Hal ini memaksa pemerintah Prancis menggelar rapat darurat untuk merespons pelanggaran keamanan tersebut.

3. Dilma Rousseff

Mantan Presiden Brasil, Dilma Rousseff, secara terbuka mengecam tindakan spionase yang dilakukan NSA terhadap dirinya dan perusahaan minyak negara, Petrobras. Dokumen yang dibocorkan oleh Edward Snowden memperlihatkan bahwa intelijen AS memantau percakapan telepon dan data diplomatik Brasil. Bagi Rousseff, tindakan tersebut merupakan pelanggaran kedaulatan yang tidak dapat dibenarkan atas nama antiterorisme.

4. Recep Tayyip Erdogan

Insiden penyadapan di Turki terjadi pada periode 2013-2014. Saat itu, pemerintah Turki menemukan perangkat penyadap yang terpasang di ruang kerja pribadi Recep Tayyip Erdogan, yang kala itu menjabat sebagai Perdana Menteri. Penyelidikan mengungkap bahwa oknum di dalam otoritas keamanan terlibat dalam pemasangan perangkat tersebut, yang berujung pada penangkapan ratusan personel kepolisian dan birokrat.

5. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Indonesia pernah mengalami peristiwa serupa pada 2013 ketika terungkap bahwa Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, menjadi target penyadapan intelijen Australia. Dokumen yang diperoleh dari bocoran Edward Snowden menunjukkan bahwa Direktorat Sandi Pertahanan Australia sempat memantau aktivitas telepon genggam SBY dan sejumlah menteri serta pejabat tinggi negara lainnya selama Agustus 2009.

Perkembangan Kasus Penyadapan di Indonesia

Terkait kasus yang menimpa Presiden Prabowo Subianto, Bareskrim Polri mencatat bahwa aksi penyadapan ilegal tersebut berlangsung dalam rentang waktu 2025 hingga Oktober 2026. Komjen Pol Asep Safrudin menyatakan bahwa para tersangka melakukan tindakan tersebut tanpa melalui prosedur hukum yang sah maupun laporan polisi resmi.

Hingga Kamis (5/11/2026), Polri telah menetapkan empat tersangka, yakni mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Irjen Ahrie Sonta Nasution, Irjen Pol Eko Hadi, dan tersangka terbaru, Irjen Slamet Uliandi. Penyadapan ini diduga tidak hanya menargetkan Presiden, tetapi juga menjangkau kalangan pengusaha, tokoh politik, media, hingga organisasi masyarakat.

Khusus untuk Irjen Slamet Uliandi, penyidik saat ini belum melakukan penahanan dikarenakan kondisi kesehatan yang bersangkutan. Pihak kepolisian menegaskan bahwa proses penyidikan akan tetap berjalan secara objektif guna mengungkap aktor intelektual dan motif di balik tindakan pelanggaran hukum tersebut.