Demam Berdarah Meningkat Tajam, Wabah Makin Cepat dan Sulit Diprediksi

oleh -4 Dilihat
Demam Berdarah Meningkat Tajam, Wabah Makin Cepat dan Sulit Diprediksi

KabarDermayu.com – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan. Dalam dua dekade terakhir, jumlah kasus dilaporkan meningkat hampir tiga kali lipat.

Siklus wabah penyakit ini juga berubah menjadi lebih cepat. Jika sebelumnya siklus wabah berkisar 10 tahun, kini bergeser menjadi hanya 3 tahun, bahkan bisa kurang dari itu. Hal ini mengindikasikan bahwa DBD tidak lagi bersifat musiman, melainkan menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai sepanjang tahun.

Kementerian Kesehatan RI mencatat dampak signifikan dari penyakit ini. Sepanjang tahun 2024, tercatat lebih dari satu juta kasus rawat inap akibat DBD. BPJS Kesehatan memperkirakan beban pembiayaan untuk kasus-kasus ini mencapai sekitar Rp3 triliun.

Beban pembiayaan ini memberikan tekanan tidak hanya pada sistem kesehatan, tetapi juga berdampak pada produktivitas keluarga dan perekonomian nasional secara keseluruhan. Para ahli mengingatkan bahwa karakteristik DBD sulit diprediksi dan dapat memburuk dengan cepat.

Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa gejala awal DBD sering kali mirip dengan penyakit umum lainnya. Namun, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi serius.

“Seorang anak dengan gejala awal DBD yang umum, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga mual atau muntah, kadang dapat terjadi perburukan yang cepat yaitu terjadi perdarahan hebat dan syok,” ujar Prof Hartono dalam keterangannya, dikutip Rabu 6 Mei 2026.

Beliau juga menyoroti tingginya risiko DBD pada kelompok usia anak-anak. Sekitar 75 persen kasus DBD dilaporkan terjadi pada kelompok usia 5 hingga 44 tahun.

Lebih lanjut, proporsi kematian terbesar akibat DBD, yaitu sekitar 41 persen, terjadi pada kelompok usia 5 hingga 14 tahun. Hal ini menunjukkan kerentanan anak-anak terhadap komplikasi serius dari penyakit ini.

Sementara itu, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), menegaskan bahwa orang dewasa juga memiliki risiko yang signifikan.

Risiko pada orang dewasa menjadi lebih besar, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Sering kali DBD dianggap hanya menyerang anak-anak, namun kenyataannya, kelompok usia dewasa juga berisiko tinggi dan dampaknya bisa luas.

“Tidak sedikit pasien dewasa yang harus menjalani rawat inap akibat dengue,” jelasnya. Kondisi komorbid seperti diabetes dan hipertensi dapat memperparah infeksi dengue pada orang dewasa.

Baca juga: Krisis Helium Mengancam, Sektor Teknologi dan Medis Terimbas

“Pada kelompok usia dewasa, khususnya yang memiliki kondisi penyerta, risiko terjadinya komplikasi akibat dengue dapat menjadi lebih tinggi dan membutuhkan perawatan yang lebih intensif,” lanjutnya. Perawatan intensif ini tentu menambah beban dan biaya pengobatan.

Perubahan pola cuaca yang ekstrem juga turut memperparah penyebaran penyakit ini. Suhu udara yang lebih tinggi dan kondisi lingkungan yang tidak menentu menciptakan habitat yang ideal bagi nyamuk Aedes aegypti, vektor pembawa virus dengue.

Kondisi ini meningkatkan risiko penularan virus dengue sepanjang tahun, tidak terbatas pada musim tertentu. Oleh karena itu, kewaspadaan harus ditingkatkan di semua musim.

Hingga saat ini, belum ada terapi spesifik yang dapat menyembuhkan infeksi dengue secara langsung. Oleh karena itu, para ahli sepakat bahwa pencegahan adalah langkah paling krusial dalam mengendalikan penyebaran DBD.

Selain penerapan strategi 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur Ulang Plus), masyarakat juga didorong untuk lebih proaktif dalam mencari informasi yang akurat. Konsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi penting untuk mendapatkan pemahaman yang benar mengenai langkah-langkah perlindungan yang tepat.

Dalam rangka Pekan Imunisasi Dunia, kolaborasi lintas sektor mulai diperkuat untuk meningkatkan edukasi dan akses layanan kesehatan terkait pencegahan DBD. Salah satu contohnya adalah kemitraan antara PT Takeda Innovative Medicines dan Halodoc.

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menekankan kembali pentingnya pencegahan dalam menghadapi ancaman dengue. “Dengue merupakan penyakit yang dapat berkembang menjadi kondisi serius dan mengancam jiwa, dan hingga saat ini belum ada obat spesifik untuk menyembuhkannya, sehingga pencegahan menjadi sangat penting,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, CEO & Co-founder Halodoc, Jonathan Sudharta, menyebutkan bahwa peningkatan akses informasi yang mudah dan terpercaya menjadi kunci utama dalam perlindungan masyarakat. Halodoc berkomitmen mempermudah masyarakat mengakses layanan kesehatan yang tepercaya.

“Kami berkomitmen mempermudah akses layanan tepercaya, termasuk solusi terintegrasi DBD mulai dari edukasi hingga langkah preventif seperti vaksinasi,” katanya. Inisiatif ini diharapkan dapat membantu masyarakat lebih sadar dan terlindungi dari ancaman DBD.