Harga Gas Bumi: Jaga Pasokan & Daya Saing Industri Domestik

oleh -7 Dilihat
Harga Gas Bumi: Jaga Pasokan & Daya Saing Industri Domestik

KabarDermayu.com – Pemerintah didorong untuk menjaga harga dan pasokan gas bumi agar daya saing industri domestik tetap terjaga di tengah ketidakpastian energi global.

Dinamika geopolitik global yang memicu kenaikan harga energi dunia menjadi tantangan besar bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Tantangan ini terletak pada upaya menjaga keseimbangan antara keterjangkauan harga energi, kepastian pasokan, dan keberlanjutan sektor energi nasional.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan bahwa kekhawatiran pelaku industri manufaktur terhadap kenaikan harga gas dan ketidakpastian pasokannya adalah hal yang wajar. Energi, khususnya gas bumi, merupakan salah satu faktor utama penggerak sektor industri nasional.

“Menurut saya, situasi ini perlu dibaca sebagai dilema kebijakan energi yang sangat nyata, karena gas bumi bukan hanya komoditas tetapi juga bahan bakar produksi industri,” kata Josua dalam keterangannya, Selasa, 2 Juni 2026.

Josua memaparkan, risiko terbesar jika gas alam cair (LNG) yang tidak disubsidi tetap dipaksa dijual tanpa penyesuaian harga, adalah munculnya tekanan pada penyedia energi yang dapat berdampak pada ketersediaan energi. Padahal, di situasi seperti saat ini, hal terpenting adalah ketersediaan dan kepastian pasokan energi ketimbang harga murah.

“Kepastian pasokan bisa melemah jika tidak ada penyesuaian harga, karena penyedia energi akan lebih berhati-hati mengambil kontrak jangka panjang atau membeli pasokan tambahan yang mengacu pasar global,” kata Josua.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa investasi hulu migas dapat tertahan karena investor melihat harga domestik tidak mencerminkan keekonomian proyek.

Data Kementerian ESDM menunjukkan bahwa pemanfaatan gas bumi Indonesia mayoritas adalah untuk ranah domestik dan digunakan oleh hampir seluruh sektor industri.

“Ini menjelaskan mengapa isu harga LNG dan gas bumi tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan penyedia energi, tetapi juga sebagai persoalan industri nasional dan stabilitas ekonomi,” ujarnya.

Meskipun demikian, Josua menjelaskan bahwa situasinya perlu dilihat secara utuh. Dampak geopolitik telah membuat hampir seluruh negara menghadapi tekanan kenaikan biaya energi dan kompetisi dalam pengamanan pasokan energi dunia.

Situasi serupa juga terjadi di berbagai negara Asia yang kini semakin aktif mengamankan LNG untuk menjaga kebutuhan energi domestik dan keberlangsungan industrinya. Berdasarkan data PetroVietnam dan IEEFA tahun 2026, harga gas di Vietnam yang semakin bergantung pada LNG telah mencapai sekitar US$27,81 per MMBtu.

Di Filipina, berdasarkan data S&P Global dan Shell FGEN tahun 2026, harga LNG juga telah mencapai sekitar US$28,50 per MMBtu. Sementara Singapura, sebagai hub LNG regional, mencatat harga yang lebih tinggi, yakni sekitar US$40,12 per MMBtu untuk sektor bulk industri, dan sekitar US$47,54 per MMBtu untuk sektor retail umum.

Di Indonesia sendiri, harga LNG domestik setelah penyesuaian diperkirakan berada pada kisaran US$21–US$25 per MMBtu. Angka ini relatif masih lebih kompetitif dibandingkan dengan sejumlah negara regional maupun energi alternatif tertentu.

Penting bagi pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan harga gas bumi yang terjangkau bagi industri. Hal ini krusial demi menjaga daya saing industri manufaktur nasional di pasar global.

Penyesuaian harga gas bumi yang mencerminkan keekonomian proyek hulu migas juga perlu dipertimbangkan. Hal ini akan mendorong investasi baru dan menjaga ketersediaan pasokan energi jangka panjang.

Pemerintah juga perlu memastikan bahwa alokasi gas bumi untuk sektor industri tetap diprioritaskan. Industri manufaktur merupakan tulang punggung perekonomian yang menyerap banyak tenaga kerja dan berkontribusi pada ekspor nasional.

Dalam menghadapi ketidakpastian energi global, Indonesia perlu memperkuat kemandirian energi. Diversifikasi sumber energi dan pengembangan energi terbarukan menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil.

Selain itu, peningkatan efisiensi energi di seluruh sektor, termasuk industri, juga perlu digalakkan. Penghematan energi akan mengurangi beban pasokan dan menurunkan biaya produksi.

Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan penyedia energi sangat dibutuhkan untuk merumuskan kebijakan energi yang berkelanjutan dan berpihak pada industri domestik. Dengan demikian, daya saing industri nasional dapat terus terjaga di tengah tantangan global.

Pemerintah juga didorong untuk terus memantau perkembangan harga energi global dan dampaknya terhadap industri dalam negeri. Kebijakan yang adaptif dan responsif akan sangat membantu industri menghadapi fluktuasi pasar energi.

Baca juga: JAKTV Jelaskan Insiden Tayangan Tak Pantas, Ungkap Kronologi Kejadian

Dengan menjaga harga dan pasokan gas bumi yang stabil, industri domestik dapat beroperasi secara optimal, meningkatkan produksi, dan berkontribusi lebih besar pada pertumbuhan ekonomi nasional. Ini adalah kunci untuk menghadapi tantangan energi di masa depan.