IHSG Menguat, Bursa Asia Naik Seiring Lesunya Wall Street Akibat Harga Minyak

oleh -12 Dilihat
IHSG Menguat, Bursa Asia Naik Seiring Lesunya Wall Street Akibat Harga Minyak

KabarDermayu.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, tercatat menguat tipis 1 poin atau 0,02 persen, berada di level 7.175.

Namun, analis memprediksi IHSG berpotensi mengalami koreksi pada perdagangan hari ini. Hal ini disampaikan oleh Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman.

“IHSG berpotensi terkoreksi hari ini,” ujar Fanny dalam riset hariannya pada Jumat, 8 Mei 2026.

Fanny juga mengungkapkan bahwa bursa saham Asia secara umum kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Kamis kemarin. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak signifikan sebesar 5,58 persen, diikuti oleh Topix yang menguat 3 persen.

Penguatan serupa juga terlihat di bursa Asia lainnya. Hang Seng Hong Kong naik 1,57 persen, Taiex Taiwan menguat 1,93 persen, dan Kospi Korea Selatan bertambah 1,43 persen.

Sementara itu, bursa saham Australia, ASX 200, menguat 0,96 persen. FTSE Straits Times di Singapura naik 0,30 persen, dan FTSE Malay KLCI di Malaysia menguat 0,11 persen.

Penguatan regional yang meluas ini terjadi setelah adanya pernyataan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memperingatkan Iran akan menghadapi serangan bom dengan skala yang jauh lebih besar jika gagal menyetujui kesepakatan damai.

Indeks di Jepang mengalami lonjakan, terutama didorong oleh kenaikan saham di sektor bahan baku, teknologi, dan keuangan. Saham-saham seperti Ibiden menjadi yang berkinerja terbaik, naik lebih dari 22 persen.

Saham Mitsui Kinzoku juga tercatat naik 17 persen, sementara saham Renesas Electronics meningkat 13 persen, dan saham Tosoh Corporation melesat 11 persen.

Baca juga: Program Pemilahan Sampah Dimulai 10 Mei, Kata Gubernur Pramono

Dalam prediksinya, Fanny Suherman menetapkan level support untuk IHSG berada di kisaran 7.000 hingga 7.100. Sementara itu, level resistance IHSG diprediksi berada di rentang 7.200 hingga 7.280.

Di sisi lain, indeks-indeks saham di Wall Street justru ditutup melemah pada perdagangan Kamis kemarin. Pelemahan ini terjadi seiring para investor kembali mencermati pergerakan harga minyak dunia dan perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Indeks S&P 500 mengalami penurunan sebesar 0,38 persen. Pelemahan ini terutama disebabkan oleh tekanan pada saham-saham sektor teknologi dan semikonduktor, termasuk perusahaan seperti Amazon, Broadcom, dan Micron Technology.

Nasdaq Composite juga terkoreksi tipis 0,13 persen, sementara Dow Jones Industrial Average melemah lebih dalam sebesar 0,63 persen.

Sementara itu, harga minyak mentah dunia menunjukkan tren penurunan. Minyak mentah WTI (West Texas Intermediate) AS turun 0,28 persen, diperdagangkan di level US$94,81 per barel. Minyak Brent juga melemah 1,19 persen, berada di kisaran US$100,06 per barel.

Mengutip berbagai sumber, Gedung Putih dikabarkan sedang menyiapkan nota kesepahaman yang terdiri dari 14 poin. Dokumen ini tidak hanya bertujuan untuk mengakhiri konflik, tetapi juga membuka jalan bagi kelanjutan pembicaraan mengenai isu nuklir.

Pihak Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pemerintah mereka masih dalam tahap evaluasi proposal yang diajukan oleh Amerika Serikat dan belum memberikan keputusan final.

Ketidakpastian di pasar kembali meningkat setelah seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa negaranya tidak akan mengizinkan Amerika Serikat untuk membuka kembali jalur strategis di Selat Hormuz melalui skema yang dianggap tidak realistis oleh Iran.