Mengenal Pendiri Komunitas Lari WNA di Bali yang Diduga Lakukan Diskriminasi terhadap WNI

oleh -2 Dilihat
Mengenal Pendiri Komunitas Lari WNA di Bali yang Diduga Lakukan Diskriminasi terhadap WNI

KabarDermayu.com – Sebuah komunitas lari di Bali yang mayoritas anggotanya merupakan warga negara asing (WNA) kini tengah menjadi sorotan publik. Kelompok ini menuai kecaman keras setelah muncul berbagai laporan mengenai dugaan praktik diskriminasi, di mana mereka disinyalir membatasi bahkan menolak partisipasi pelari lokal dalam kegiatan yang mereka selenggarakan.

Isu ini mencuat setelah tangkapan layar percakapan di media sosial tersebar luas. Dalam unggahan tersebut, sejumlah pelari lokal mengungkapkan kekecewaan karena permohonan bergabung mereka ke komunitas itu selalu ditolak. Sebaliknya, pendaftar yang berkewarganegaraan asing dilaporkan jauh lebih mudah untuk diterima sebagai anggota.

Kritik tajam juga datang dari Josh Fothergill, seorang pegiat lari asal Inggris yang tinggal di Bali. Josh secara vokal menyoroti fenomena ini dengan membagikan bukti-bukti penolakan yang dialami warga lokal melalui akun media sosialnya.

Dalam sebuah video yang diunggah pada Sabtu, 25 Juli 2026, Josh menyampaikan kekesalannya, “Ada klub lari di Bali yang melarang orang Indonesia untuk bergabung. Kita bikin video ini karena sudah waktunya untuk bersuara demi sesuatu yang benar. Udah terlalu banyak orang asing datang ke Indonesia bikin klub lari yang menguasai seluruh jalan, bikin macet dan mendiskriminasi orang lokal.”

Komunitas yang dimaksud dalam kontroversi ini adalah Entourage Bali. Berdasarkan informasi dari akun TikTok resmi mereka, klub lari ini didirikan oleh Hidde Van Vliet bersama rekannya, Joost. Keduanya diketahui merupakan warga negara Belanda yang kini menetap di Bali.

Menilik latar belakangnya, Hidde sempat membagikan cerita kepada Business Insider awal tahun 2026 mengenai perjalanan hidupnya. Sebelum terjun ke dunia komunitas di Bali, ia sempat berkarier di sebuah perusahaan logistik di Belanda dan kemudian dipindahkan ke Malta pada tahun 2023 dengan jabatan General Manager.

Meskipun memiliki karier yang mapan di Malta, Hidde merasa ada kekosongan dalam kehidupan sosialnya. Ia bahkan mengaku harus terbang ke Amsterdam setiap enam minggu sekali demi menjalin komunikasi dengan keluarga dan teman-temannya. Setelah sembilan bulan menjabat, ia akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri karena menyadari bahwa kehidupan korporat tersebut bukanlah apa yang ia cari.

Titik balik dalam hidupnya terjadi saat ia menghadiri reuni kampus di Cape Town. Di sana, ia terinspirasi oleh gaya hidup seimbang yang dijalani orang-orang di sekitarnya, mulai dari lari pagi di tepi pantai, berselancar, hingga bermain padel. Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa jalur karier yang ia tempuh selama ini tidak akan membawanya pada kehidupan yang ia impikan.

Setelah kembali ke Amsterdam, Hidde mulai bekerja lepas di bidang strategi dan keuangan, sementara rekannya, Joost, juga mengambil keputusan serupa untuk keluar dari pekerjaannya. Setelah pandemi COVID-19 mereda, mereka melihat tren para pekerja jarak jauh atau digital nomad yang mulai berkumpul di destinasi seperti Cape Town dan Bali.

Mereka mengamati bahwa banyak komunitas yang terbentuk secara alami namun tidak terkelola dengan baik untuk skala besar. Akhirnya, Hidde dan Joost memutuskan untuk membangun Entourage, sebuah jaringan komunitas yang dirancang khusus untuk memfasilitasi interaksi sosial, kesehatan, dan gaya hidup sehat bagi para pendatang.

Pemilihan Bali sebagai lokasi operasional didasarkan pada besarnya jumlah digital nomad yang menetap di sana sepanjang tahun. Pada Oktober 2024, mereka melakukan riset mendalam dengan berinteraksi bersama pelaku usaha lokal di Bali untuk memetakan peluang yang ada. Akhirnya, pada Maret 2025, mereka resmi pindah ke Bali dan menginvestasikan dana pribadi sebesar $17.500 atau sekitar Rp 314,86 juta untuk memulai bisnis ini.

Perjalanan awal mereka tidak mudah. Beberapa acara yang diadakan sempat sepi peminat. Namun, momentum perubahan terjadi ketika mereka berkolaborasi dengan Bali Social Club di Canggu untuk mengadakan acara lari pagi mingguan yang dilengkapi fasilitas ice bath. Keberhasilan acara tersebut, yang dihadiri hingga 50 orang, menjadi bukti bagi mereka bahwa konsep komunitas yang mereka bangun telah berhasil.

Hingga akhir tahun pertama, Hidde dan Joost mengklaim telah menyelenggarakan lebih dari 250 kegiatan di Bali dengan basis komunitas WhatsApp yang mencapai lebih dari 4.000 anggota. Kini, komunitas tersebut justru harus menghadapi ujian berat berupa tuduhan diskriminasi yang memicu reaksi negatif dari masyarakat lokal dan pihak berwenang.