KabarDermayu.com – Petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, mulai mengambil langkah antisipasi menghadapi ancaman fenomena El Nino. Fokus utama mereka adalah memastikan ketersediaan air yang memadai selama musim kemarau untuk menjaga kelancaran produksi bawang merah.
Bambang Suparno, selaku Pembina Gapoktan Karya Abadi, menekankan pentingnya pasokan air yang stabil bagi budidaya bawang merah. Ia menjelaskan bahwa tanaman ini membutuhkan air yang cukup, namun tidak boleh berlebihan.
“Kami dibantu pembangunan sumur sibel untuk kebutuhan air budidaya. Karena bawang merah butuh air tapi tidak mau kelebihan air. Sekarang menghadapi El Nino, jadi kebutuhan air harus dipastikan aman,” ujar Bambang.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa kelompok tani di wilayahnya telah membangun sekitar 12 titik sumur sibel sebagai penunjang budidaya bawang merah. Selain itu, para petani juga mulai beralih menggunakan tenaga listrik untuk operasional pompa air di sawah, mengingat biaya bahan bakar yang terus meningkat.
Varietas bawang merah Tajuk masih menjadi pilihan utama para petani Nganjuk. Keunggulan varietas ini terletak pada produktivitasnya yang tinggi serta kemampuannya beradaptasi baik di musim kemarau maupun musim hujan.
“Varietas ini keunggulannya cocok di musim kemarau dengan produktivitas 24 ton per hektare, bahkan bisa di atasnya. Di musim hujan 12-17 ton per hektare. Jadi kuat batas produksinya di musim kemarau dan juga kuat di musim hujan,” jelasnya.
Varietas Tajuk kini banyak dibudidayakan petani di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sulawesi Selatan, Aceh, hingga Papua. Selain produktivitas yang tinggi, varietas ini juga memiliki daya simpan yang baik, menjadikannya pilihan ideal untuk dijadikan benih.
Bambang menambahkan bahwa benih bawang merah merupakan komponen krusial dalam budidaya. Oleh karena itu, tak sedikit petani yang memilih untuk menyimpan sebagian hasil panen mereka untuk dijadikan calon benih pada musim tanam berikutnya.
Saat ini, harga benih bawang merah dilaporkan mengalami kenaikan. Hal ini seiring dengan meningkatnya kebutuhan menjelang masa tanam di Nganjuk yang diperkirakan berlangsung pada bulan Juni hingga Juli.
“Per hari ini bibit itu trennya naik. Hari ini harga sudah Rp56.000-Rp57.000 per kilogram. Tidak menutup kemungkinan ketika Nganjuk masa tanamnya nanti sebulan lagi, di awal bulan 6 sampai akhir bulan 6, bisa-bisa naik lagi,” ungkapnya.
Nganjuk sendiri merupakan salah satu sentra bawang merah terbesar di Indonesia, bersaing dengan Brebes. Luas lahan tanam bawang merah di Nganjuk mencapai sekitar 20 ribu hektare setiap tahunnya, dengan estimasi produksi mencapai 300 ribu ton.
Menurut Bambang, sekitar 25 hingga 30 persen kebutuhan bawang merah nasional disuplai dari Nganjuk. Dari total produksi tersebut, sebagian dialokasikan sebagai benih yang kemudian dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia.
Ia berharap harga bawang merah dapat tetap stabil dan menguntungkan petani. Harapan ini timbul dari tingginya permintaan pasar, bukan karena adanya gagal produksi akibat cuaca ekstrem.
“Cuma kami tidak ingin harga tinggi itu karena gagal produksi. Nanti petani tidak menikmati. Gimana caranya harga tinggi itu karena kebutuhan, bukan karena produksinya gagal,” tegasnya.
Di sisi lain, para petani bawang merah masih dihadapkan pada tantangan kenaikan biaya produksi. Hal ini terutama terjadi pada pupuk nonsubsidi dan kebutuhan pestisida. Oleh karena itu, penguatan infrastruktur pertanian dan peningkatan efisiensi dalam budidaya dinilai sangat penting untuk menjaga stabilitas produksi di tengah perubahan iklim yang tak menentu.
Baca juga: Inggris Kirim Kapal Perang dan Jet Tempur Amankan Selat Hormuz
Gapoktan Karya Abadi sendiri telah menjadi klaster binaan Bank Indonesia sejak tahun 2014. Selain mendapatkan dukungan dalam pembangunan gudang penyimpanan, para petani juga menerima pendampingan dalam hal budidaya hingga peremajaan tanah.





