PHK Massal di Cloudflare, Ribuan Karyawan Terdampak

oleh -8 Dilihat
PHK Massal di Cloudflare, Ribuan Karyawan Terdampak

KabarDermayu.com – Industri teknologi kembali diguncang gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Kali ini, Cloudflare, perusahaan infrastruktur internet dan keamanan siber terkemuka asal Amerika Serikat, mengumumkan rencana signifikan untuk memangkas sekitar 20 persen tenaga kerjanya secara global.

Langkah drastis ini diambil di tengah maraknya adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin mengubah lanskap operasional perusahaan teknologi.

Keputusan restrukturisasi ini secara resmi diumumkan oleh Cloudflare pada Kamis, 7 Mei 2026. Perusahaan menyatakan bahwa perubahan ini merupakan bagian dari strategi untuk mengoptimalkan cara kerja operasional mereka agar lebih berfokus pada pemanfaatan AI di berbagai lini bisnis.

Implikasi dari keputusan ini sangat jelas terlihat, menunjukkan bagaimana pesatnya perkembangan AI mulai membentuk kembali struktur tenaga kerja di perusahaan teknologi raksasa. Ini bukan sekadar tentang efisiensi biaya, melainkan juga pergeseran fundamental dalam cara kerja yang semakin bergantung pada otomatisasi dan teknologi berbasis AI.

Cloudflare mengonfirmasi bahwa pemangkasan ini akan berdampak pada lebih dari 1.100 posisi pekerjaan di seluruh dunia. Perlu dicatat, hingga akhir tahun 2025, perusahaan ini tercatat mempekerjakan 5.156 karyawan penuh waktu.

Selain dampak pada sumber daya manusia, Cloudflare memperkirakan akan menanggung biaya restrukturisasi yang cukup besar, berkisar antara US$140 juta hingga US$150 juta. Nilai ini setara dengan Rp2,38 triliun hingga Rp2,55 triliun dan akan tercatat pada laporan keuangan kuartal kedua tahun ini.

Menariknya, di tengah rencana efisiensi besar-besaran ini, Cloudflare justru berhasil membukukan kinerja keuangan yang sangat kuat pada kuartal pertama tahun 2026. Perusahaan melaporkan pendapatan sebesar US$639,8 juta, atau setara dengan Rp10,87 triliun.

Angka pendapatan ini melampaui ekspektasi para analis yang sebelumnya memprediksi pendapatan perusahaan di kisaran US$621,9 juta atau sekitar Rp10,57 triliun.

Dari sisi profitabilitas, laba yang disesuaikan oleh Cloudflare tercatat sebesar 25 sen per saham. Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan pasar yang hanya berada di angka 23 sen per saham.

Namun demikian, proyeksi pendapatan untuk kuartal kedua tahun 2026 dinilai sedikit berada di bawah harapan Wall Street. Cloudflare memperkirakan pendapatan kuartal kedua akan berada di kisaran US$664 juta hingga US$665 juta, atau setara dengan Rp11,28 triliun hingga Rp11,30 triliun.

Angka proyeksi ini sedikit di bawah estimasi para analis yang memperkirakan pendapatan akan mencapai US$665,3 juta atau sekitar Rp11,31 triliun.

Tak lama setelah pengumuman mengenai PHK dan proyeksi pendapatan tersebut, saham Cloudflare yang berkantor pusat di San Francisco mengalami penurunan drastis. Saham perusahaan anjlok sekitar 19 persen dalam perdagangan setelah jam bursa, meskipun hasil keuangan kuartal pertamanya berhasil melampaui ekspektasi.

Baca juga: Rusia Rayakan Hari Kemenangan Tanpa Pamer Alutsista Canggih, Mengapa?

CEO Cloudflare, Matthew Prince, bersama salah satu pendiri perusahaan, Michelle Zatlyn, memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai arah strategis perusahaan. Mereka menegaskan bahwa Cloudflare tengah memasuki sebuah era operasional baru yang secara fundamental berfokus pada pemanfaatan AI.

“Cloudflare sedang membayangkan ulang setiap tim dan fungsi agar dapat beroperasi dalam era AI agentik,” ungkap pernyataan perusahaan, sebagaimana dikutip dari Reuters, Jumat, 8 Mei 2026.

Perusahaan juga memberikan penekanan penting bahwa PHK ini tidak disebabkan oleh performa buruk karyawan atau tekanan biaya jangka pendek yang dihadapi perusahaan.

Menurut Cloudflare, keputusan ini lebih merupakan konsekuensi dari desain ulang proses internal perusahaan yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi AI.

“Cloudflare mengatakan pemangkasan pekerjaan ini mencerminkan perancangan ulang proses internal dan peran di perusahaan, bukan sebagai respons terhadap kinerja karyawan atau tekanan biaya jangka pendek,” jelas pernyataan tersebut.

Lebih lanjut, Cloudflare mengungkapkan bahwa penggunaan AI internal mereka telah mengalami lonjakan signifikan. Pemanfaatan AI meningkat lebih dari enam kali lipat hanya dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, yang secara langsung memicu perubahan besar dalam pola kerja tim di dalam perusahaan.

Fenomena ini menjadi bukti nyata semakin besarnya dampak AI terhadap pasar tenaga kerja global. Kekhawatiran yang selama ini diutarakan oleh investor dan ekonom mengenai potensi otomatisasi berbasis AI kini semakin terjustifikasi, mengingat teknologi ini dinilai dapat menggantikan sejumlah pekerjaan manusia di berbagai sektor industri.

Sebelumnya, perusahaan pembayaran digital ternama, Block, juga telah mengumumkan PHK besar-besaran pada Februari 2026. Perusahaan tersebut memangkas lebih dari 4.000 pekerja sebagai bagian dari upaya transformasi operasional yang berorientasi pada AI.

Tidak hanya itu, para ekonom dari Goldman Sachs sebelumnya telah memperkirakan bahwa AI berpotensi menjadi penyebab hilangnya sekitar 5.000 hingga 10.000 pekerjaan bersih setiap bulan sepanjang tahun 2025 di sektor-sektor Amerika Serikat yang paling rentan terhadap otomatisasi.

Meskipun diterpa sentimen negatif akibat rencana PHK ini, saham Cloudflare secara mengejutkan masih mencatat kenaikan yang cukup impresif. Sepanjang tahun 2026, saham perusahaan telah meningkat sekitar 30,3 persen.

Kinerja saham ini menunjukkan bahwa para investor masih melihat potensi besar yang dimiliki Cloudflare di tengah pesatnya perkembangan dan booming-nya teknologi AI secara global.